Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Peran Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Membangun Kemandirian Bangsa

Admin 31 Oct 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Kombes Pol (Pur) Drs. Zainuri Anwar, M.Ag

Jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah.

Pada kesempatan yang bahagia ini saya berwasiat kepada diri saya khususnya dan hadirin sekalian pada umumnya, untuk senantiasa meningkatkan taqwa kita kepada Allah subhanahu wata'ala dengan sebenar-benarnya taqwa, yakni selalu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab dengan dasar ketaqwaan ini segala sesuatu yang sedang dan akan kita kerjakan insya Allah senantiasa ada dalam lindungan, bimbingan dan ridha Allah subhanahu wata'ala. Mudah-mudahan kehadiran kita di Masjid Istiqlal ini dalam rangka melaksanakan shalat Jumat senantiasa mendapatkan ridha dari Allah subhanahu wata'ala.

Hadirin, sidang Jum'at rahimakumullah.

Pada hari ini, tanggal 28 Oktober 2022 bertepatan dengan tanggal 2 Rabiul akhir 1444 H, artinya, sepekan yang lalu kita baru saja melewati peringatan hari peristiwa heroik yaitu hari santri secara nasional dan satu hari yang lalu kita juga melewati satu bulan yang didalamnya ada peristiwa bersejarah yaitu lahirnya junjungan kita nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dua peristiwa ini adalah peristiwa yang sama-sama besar, yang satu mempengaruhi dan memotivasi yang lain.

Kehadiran Rasulullah SAW yang diutus oleh Allah SWT ke permukaan bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlaq, yakni membebaskan segala perbuatan tercela berupa penindasan dan kebiadaban masyarakat jahiliyah yang ada pada saat itu. Begitu juga perjuangan santri adalah perjuangan yang membebaskan segala ketertindasan yang akan kembali dilakukan oleh para penjajah dan sekutunya.

Peristiwa pejuangan santri dalam menghadapi dan mengusir kembalinya penjajah ke Indonesia, mengingatkan kita pada perjuangan rasulullah dalam perang Khoibar, perang yang menghalau pasukan yahudi bani nadhir dan sekutunya. Belajar dari Rasulullah dalam pertempuran Khoibar. 

Di Khoibar, yang jaraknya sekitar 150 KM dari Madinah terdapat masyarakat Yahudi dari bani Nadhir yang telah terusir dari Madinah, mereka selalu menyimpan dendam kepada ummat Islam, di sana mereka menysusun kekuatan dengan sekutu yahudi lainya untuk menyerang ummat Islam di Madinah.

Demi menjaga keutuhan, ketenangan dan kesejahteraan masyarakat dan wilayah Madinah, maka Rasululah bersama dengan pasukanya sebanyak 10.000 orang melakukan peperangan dengan Yahudi yang berjumlah 50.000 orang di Khoibar. Dalam peperangan itu beberapa kali pimpinan perang dari pihak Yahudi diganti karena terbunuh oleh pasukan Islam. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pihak muslim. Kemenangan itu didorong oleh suatu keyakinan kuat bahwa jihad melawan kezholiman akan diberikan kemenangan oleh Allah. Allah berfirman dalam al-Qur'an surat al-Anfal ayat 45 - 46 :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوْا وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَۚ ٤٥ وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ ٤٦

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Taatilah Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang, serta bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

Begitu juga peperangan Surabaya adalah peperangan melawan penajajah yang sudah terusir dari negeri Indonesia, mereka dan sekutunya akan kembali ke Indonesia untuk menjajah. Sehingga, yang dilakoni oleh para kiyai dan santri dalam menghadapi sekutu, adalah peperangan yang amat sengit, karena ummat islam yang di dalamnya para kiyai dan santri, disamping jumlahnya sangat terbatas sekaligus perlengkapan dan peralatanpun sangat minim dan tradisional. Sementara pihak sekutu, jumlahnya cukup banyak dan dilengkapi dengan peralatan yang canggih.

Tapi dengan semangat resolusi jihad melawan penjajah kafir, melawan kezholiman, didorong oleh keyakinan yang kuat, ternyata santri mampu melawan pasukan sekutu yang kuat itu dengan terbunuhnya dua jenderal terbaiknya dari pihak sekutu yaitu Jenderal Malaby dan Jenderal Robert Loder Symonds. Akhirnya kemenangan diraih oleh bangsa Indonesia, dalam hal ini para kiyai dan santri serta are-are suroboyo.

Keberanian untuk menghadapi sekutu ini didorong oleh sebuah seruan yang kuat dari KH. Hasyim Asy’ari yang memfatwakan bahwa cinta pada tanah air adalah bagian dari iman ('hubbul wathan minal iman'), bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Maka dengan semanat motivasi iman inilah yang mampu mendorong para santri dengan peralatan bambu runcing apa adanya, tidak takut menghadapi pasukan sekutu yang persenjataanya lengkap dan modern. Sehingga keberanian itu membuahkan hasil yaitu kemenangan berada di pihak santri.

Oleh karena itu, Hari santri yang kita peringati kemarin, adalah hari yang memiliki makna sejarah yang sangat penting terutama dalam sejarah keberlangsungan kemerdekaan Indonesia. Peringatan itu merupakan bentuk pengakuan terhadap perjuangan kaum santri yang panjang, yang bahkan telah dimulai berabad-abad sebelum kata Indonesia dikenal oleh kalangan kaum pergerakan tahun 1920-an. Memperingati hari Santri berarti mencoba meneladani uswatun hasanah para ulama-pejuang kemerdekaan, para santri yang berjibaku meregang nyawa demi mempertahankan keutuhan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Peringatan hari santri yang kita laksanakan, dimaksudkan agar kita mampu menerjemahkan, menerapkan, dan mengaplikasikan ruhul-jihad para santri dalam menjawab tantangan bangsa saat ini dan tantangan masa depan. Karena itulah, melalui peringatan hari santri, dengan spirit Resolusi Jihad, kita, para santri, memiliki tanggung jawab moral untuk menjawab tantangan zaman, dengan cara menggerakkan pembangunan bangsa yang lebih konpehenship dalam semua sisi kehidupan.

Hadirin, sidang Jum'at rahimakumullah.

Saat ini kita tidak lagi berada di era penjajahan fisik. Saat ini kita berada di zaman globalisasi. Yang oleh masyarakat politik disebutnya sebagai era pasca-hegemoni. Masyarakat ekonomi menyebutnya sebagai era neo-liberalisme. Masyarakat akademisi menyebutnya sebagai era post-truth. Masyarakat teknologi menyebutnya sebagai era revolusi industry 4.0. dan Masyarakat sosiologi menyebutnya sebagai era Generasi-Z. Apapun namanya, kita sekarang dihadapkan oleh berbagai tantangan baru, sekaligus peluang baru.

Saat ini, wajah kebangsaan kita dihadapkan banyak tantangan, baik ideologi, politik, sosial maupun budaya serta masalah pertahanan bangsa yang akan menggeser budaya dan peradaban bangsa. Eksistensi pesantren berdasarkan UU Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 paling tidak memiliki tiga cakupan wilayah pengabdian dalam konteks pembangunan bangsa. Pertama adalah pendidikan, kedua dakwah, dan ketiga pemberdayaan.

Dalam konteks menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan pemberdayaan, pesantren dalam konteks kekinian menghadapi tantangan besar. Beragam tantangan dan intensitas perubahan zaman, dalam posisi inilah santri dituntut mampu berkiprah untuk menghadapi tantangan tersebut, terutama menjadi garda terdepan dalam menguatkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika, guna menjaga keutuhan dan kemandirian bangsa.

Sejarah mencatat bahwa pesantren adalah Lembaga yang sangat mandiri, terutama dalam mencetak pemikir-pemikir Islam, mencetak sumber daya manusia unggul dan menjadi kekuatan dalam pemberdayaan masyarakat. Di era sekarang yang sedang berkembang ini, guna penguatan kemandirian, maka pessantren harus mampu belajar dan mentranfers nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh Kiyai Haji Samanhudi dalam mendirikan syarikat dagang Islam, yang bertujuan diantaranya adalah untuk mengembangkan jiwa dagang dan kesejahteraan serta mengembangkan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat pribumi (nama Indonesia waktu itu belum ada).

Karena itu, dengan melihat berbagai tantangan sekaligus peluang, maka Pesantren harus lebih berani melakukan transformasi dengan memasukkan fungsi sosial ekonomi ke dalam program kegiatan pondok pesantren. Langkah ini mendorong terjadinya perubahan pengelolaan sistem manajerial kemandirian pesantren dari pesantren tradisional menuju pesantren moderen, serta menjadikan pesantren berkolaborasi terhadap entitas bisnis maupun kemajuan teknologi.

Tranformasi ekonomi ini diarahkan untuk mengembangkan jiwa dagang dan kesejahteraan serta mengembangkan pendidikan dan pengajaran bagi masyarakat santri untuk kemajuan dan kemandirian Indonesia.

Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, mencatat, saat ini sudah banyak pesantren yang melakukan aktivitas bisnis guna menghidupi kegiatan pesantren sebagai self financing pesantren yang bergerak secara mandiri. Praktik ekonomi pesantren tersebut sudah dibangun dengan manajerial yang baik dan terbukti berpengaruh terhadap kemajuan dan kemadirian pesantren.

Bahkan menurut Dr. Waryono (Dir PDPONTREN), untuk mendorong kemajuan dan kemandirian ekonomi pesantren, Kemenag RI melalui Ditpdpontren telah memberikan dukungan melalui bantuan program Inkubasi Bisnis Pesantren. Menurut Heri Yudiasyah, untuk mempercepat kemandirian pesantren, era sekarang ini adalah momentum yang tepat karena ada tiga siklus kehidupan sebagai pendukungnya.

Pertama, siklus digital. Pandemi covid-19 memaksa disrupsi digital menjadi lebih cepat di Indonesia, aktivitas ekonomi, Pendidikan dan da’wah serta politik sebagian besar mulai beralih platform digital. Dalam masalah teknologi digital, kita patut bangga sudah banyak pesantren yang mengembangkan bidang teknologi, bahkan melakukan lomba dalam berbagai teknologi, dan santri bisa menjadi juara dalam lomba teknologi tersebut.

Kedua, siklus usaha kecil menengah. Dunia usaha yang ada di lingkungan masyarakat sekitar pesantren sebagian besar adalah dari kalangan usaha kecil menengah. Bila terjadi kolaborasi pesantren dan usaha kecil menengah di sekitarnya, maka akselerasi pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat akan bisa terjadi lebih cepat.

Ketiga, siklus halal. Dalam kurun 5 (lima) tahun terakhir ini ada peningkatan trend industri halal yang cukup tinggi. Tren seperti ini harus dijadikan peluang oleh Pesantren guna menjawab dan memnuhi tuntutan masyarakat. 

Dari hal-hal di atas, kita akan melihat produk yang dihasilkan oleh santri berupa produk di bidang spiritual, produk di bidang sosial, produk di bidang teknologi, produk di bidang teknologi informasi, produkt dalam bidang dakwah, dan bahkan produk dalam bidang kewirausahaan.

Maka, dengan siklus kehidupan tersebut, didukung produktifitas santri dalam berbagai bidangnya, kebijakan kemandirian pesantren yang kita jadikan tonggak kemandirian bangsa akan berjalan dengan sukses yang dampaknya akan bisa dirasakan oleh dunia pesantren, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk mampu mewujudkan semua harapan tersebut.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.