Oleh: H. Abu Hurairah Abd. Salam, Lc, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Apakah kualitas ibadah puasa yang kita lakukan dari tahun ke tahun semakin meningkat atau mendatar atau malah menurun? Apakah ibadah puasa yang dilakukan tahun ini sudah membentuk diri kita menjadi pribadi yang muttaqin seperti tujuan disyariatkannya ibadah puasa kepada kita umat Islam?
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183 yang sering diulang-ulang, ayat yang mewajibkan kita berpuasa, di ujung ayatnya dikatakan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (mudah-mudahan kalian bertakwa). Apa yang dimaksud dengan takwa itu?

Banyak ulama sudah menjelaskan bahkan mendefinisikan kata takwa itu, dan rata-rata mereka mengatakan bahwa sesungguhnya takwa itu menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Tapi, saya lebih tertarik dengan definisi takwa yang diungkapkan oleh salah satu sahabat Rasulullah SAW, yang sangat terkenal dengan riwayat hadist yang disampaikan, Abu Hurairah RA., nama aslinya Abdurrahman Ibnu Shakhr Ad Dausi Al Yamani, beliau berasal dari Yaman. Meskipun beliau memeluk Islam di akhir-akhir hidup Rasulullah SAW, beliau hijrah ke Madinah dan masuk Islam pada tahun ke-7, sementara Rasulullah SAW diwafatkan pada awal tahun ke-11 Hijriah. Terhitung hanya tiga tahun bersama Rasulullah, tapi beliau meriwayatkan hadist sampai 5374 hadist.
.png)
Ilustrasi Takwa Menurut Abu Hurairah RA
Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Abu Hurairah RA tentang takwa, kemudian dia menjawab dengan sebuah ilustrasi, "Apakah kamu pernah melihat jalan yang penuh dengan duri?" Lalu orang itu berkata, "Iya saya pernah melihat."
Kemudian Abu Hurairah RA kembali bertanya, "Lalu apa yang kamu lakukan?" Lantas orang itu menjawab, "Saya kalau menemui jalan yang penuh dengan duri maka tidak akan melewati jalan itu." Sedangkan yang lain menjawab, "Kalau saya menemukan dan berjalan di jalan yang penuh duri, maka saya akan melangkahi duri itu supaya tidak terinjak."
Maka Abu Hurairah RA berkata, "Itulah takwa."

Jamaah Masjid Istiqlal, ilustrasi tersebut sangat bagus untuk menggambarkan bagaimana orang yang bertakwa itu di dalam menjalani kehidupannya. Dia akan selalu berhati-hati agar tidak terjerumus ke hal-hal yang dilarang Allah SWT, dan istiqamah dalam menjalani apa yang Allah SWT perintahkan.
Di sanalah sesungguhnya arah ibadah puasa yang kita laksanakan. Kalau seorang muslim sudah sampai pada tahapan tersebut, berarti puasanya sudah menumbuhkan pencerahan ruhaniah yang berdampak pada kecerahan berpikir serta berprilaku di tengah masyarakat.

Jamaah Masjid Istiqlal yang dimuliakan Allah SWT, Ramadhan 1443 H tahun ini, selagi kita masih dianugerahi kesehatan dan kesempatan oleh Allah SWT, mari kita gunakan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas ibadah puasa kita dibanding tahun-tahun sebelumnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Saksikan selengkapnya di sini.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.