Oleh : Prof. Dr. KH. Mohammad Mahfud MD, S.H., S.U., M.I.P. (Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Sering sekali orang sangat emosional ketika memasuki bulan Ramadhan, karena jika kita berpuasa dengan benar pada bulan Ramadhan insyaAllah seluruh dosa-dosa kita di ampuni oleh Allah subhanahu wata'ala.
Tetapi kadangkala karena terlalu emosi, seseorang melakukan puasa namun lupa dengan ibadah-ibadah yang lain, hanya ingin memanfaatkan bahwa jika saya berpuasa di bulan Ramadhan dengan baik, maka saya akan menjadi orang yang suci, bersih kembali. Itu betul ada hadistnya, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalau berpuasa bulan Ramadhan dengan keimanan, penuh perhitungan dan kehati-hatian maka seluruh dosa diampuni dan itulah sebabnya orang mengatakan puasa merupakan kunci untuk masuk surga. Apakah itu betul? Betul jika puasanya benar.
Apa itu puasa yang benar? Puasa yang benar adalah puasa yang hanya dijadikan sebagai salah satu pintu, bukan satu-satunya pintu, harus diingat! Karena jika puasanya tidak benar, maka tidak ada gunanya juga.
Puasa yang benar adalah puasa yang diikuti oleh ibadah maghdah yang lain dengan benar, bukan karena berpuasa ingin bersih lalu shalatnya tidak tertib. Misalnya, terjaga semalam penuh untuk mengaji, menjelang subuh tertidur kemudian shalat subuhnya terlewat. Atau shalat zuhurnya terlewat, tidur terus, sehingga pekerjaan-pekerjan lain ditinggalkan.
Oleh sebab itu, supaya diingat bahwa sebenarnya rukun Islam ada lima yang semuanya itu kunci masuk surga, di antara rukun Islam yaitu sebagai berikut:
1. Syahadat
Pertama syahadat, Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah, dalam hadist Rasulullah SAW menjamin, barang siapa membaca syahadat atau pada saat meninggal membaca ilaaha illallaahu, maka masuk surga.
عَنْ مُعَاذَ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله دَخَلَ الْجَنَّةَ
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Siapa pun yang akhir ucapannya (ketika menjelang ajal) kalimat La ilaha illallah maka ia masuk surga’. (HR. Imam Abu Daud)
Jika saudara meninggal dengan membaca "laa ilaaha illallaahu, muhammadar rasuulullah," ya, masuk surga, sama dengan puasa yang baik. Maka ada ungkapan "miftahul jannah la illaha illahu (kalau mau masuk surga, bacalah la illaha illahu muhammad da Rasulullah".
Namun apakah cukup? Tidak, Karena ada rukun Islam yang kedua, yaitu shalat. Jika seseorang baca la illaha illahu muhammadar rasuulullah, pasti ingin shalat dengan baik. Maka jika orang membaca la illaha illahu namun tidak diikuti shalat dengan baik, kira-kira pada saat meninggal, dia tidak akan membaca itu.
2. Shalat
Oleh sebab itu selain puasa, syahadat yang benar, kita perlu menunaikan shalat yang benar. Di dalam hadist Rasulullah SAW menyebutkan,
اَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ
Artinya: "Amalan pertama seorang hamba yang akan diadili di hari kiamat adalah shalat." (HR. Tirmidzi)
Yang akan dihitung dari amalmu di hari kiamat besok mau surga atau tidak shalatmu. Kalau shalatmu bagus, maka surga tempatmu. Kalau shalatmu jelek, ya neraka tempatmu.
Lho katanya puasa yang bisa menjamin surga? kemudian shalat? tadi syahadat? Memang iya.
Jadi, Islam itu disebut sebagai sebuah bangunan yang tidak cukup hanya dipilih satu. Jika saudara merasa, "wah saya mau puasa saja, gratisan." Tetapi tidak mau sholat, ya, tidak bisa masuk surga. Karena orang yang puasa benar itu pasti ingin shalatnya benar.
Atau "Oh, saya mau shalat saja karena kata hadist masuk surga kalo saya shalat." Tidak bisa, kalau Anda shalat saja namun tidak puasa, tidak mau menegakkan syahadatnya dengan benar.
Shalat juga membawa dampak pada kehidupan sosial. Dahulu ketika Umar bin Khattab dilantik menjadi khalifah, amirul mu'minin, Beliau berkata,
إِنَّ مِنْ أَهَمِّ أُمُوْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ, فَمَنْ حَفِظَهَا حَفِظَ دِيْنَهُ , وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَنْ سِوَاهَا أَضْيَعُ , وَلاَ حَظَّ فِي الإِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
Artinya: "Sesungguhnya perkara paling penting menurut penilaianku adalah sholat. Siapa saja yang menjaga sholat, maka ia telah menjaga agamanya. Siapa saja yang melalaikan sholat, maka untuk perkara lainnya ia lebih mengabaikan. Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan sholat."
Hai para pemimpin negeri, para Walikota, Gubernur, sebernarnya tugasmu yang paling pokok agar sukses menjadi pemerintah adalah menegakkan shalat di kalangan umat. Kalau shalat itu ditegakkan, polisi ndak perlu terlalu banyak, polisi mungkin bukan menjaga keamanan karena moral manusia, mungkin menjaga masyarakat dari kecelakaan alam, kecelakaan teknis, ada gedung rubuh, kebakaran.
Selain itu, kalau shalat para pemimpin itu sudah benar, korupsi pasti tidak ada. Orang yang shalatnya benar, itu tidak akan korupsi. Kalau orang shalat, "ke masjid kok masih korupsi," Pasti shalatnya salah. Kalau, "Orang shalat kok masih tidak peduli terhadap kaum duafa, tidak menegakkan hukum dalam langkah-langkah dan posisi strukturalnya, itu shalatnya tidak ada."
Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Maun ayat 4-7
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
Artinya: Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat riya, dan enggan (memberi) bantuan.
Shalatnya tidak ada artinya, hanya dapat neraka jika seseorang shalatnya hanya sekedar sujud ruku tetapi tidak mempunyai kepedulian terhadap kaum dhuafa.
3. Zakat
Adalagi zakat, oleh sebab itu nanti rangkaian puasa ini coba puasa dengan benar dihayati shalat, syahadatnya diulang-ulang, dan diingat zakatnya.
Sebagai umat muslim, kita wajib berzakat. Ada zakat yang sifatnya wajib yaitu fitrah. Asal Anda hidup, misalnya lahir pada bulan Ramadhan, itu harus zakat fitrah. Ada juga zakat jumlah tertentu yang masanya setahun dimiliki dan juga batas tertentu yang disebut nisab/nisaf itu ada jumlah nya. Misalnya, Anda punya emas sekian ratus gram, nah, zakatnya sekian harus keluar.
4. Puasa
5. Haji
Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 97,
... مَنِ اسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا ...
"(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana." (QS. Ali Imran [3]: 97)
Naik haji bagi yang mampu, kalau tidak mampu, saudara sudah punya niat berarti lima rukun islam itu sudah di penuhi. Oleh sebab itu di dalam hadist Nabi SAW itu disebutkan bahwa Islam itu ibarat sebuah bangunan, dikatakan di situ (بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ) "Islam dibangun atas lima pekara", Islam itu seperti rumah atas lima unsur, pondasi pertama, syahadat sebagai pondasinya la ilaaaha illahu, kedua, shalat itu tiangnya assholatu imaddudin (sholat itu tiang bagi orang beragama) kalau orang tidak shalat berarti rumah tidak ada tiangnya.
Kemudian, puasa itu dindingnya. ash-Shiyamu junnatun artinya puasa adalah perisai.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلاَ يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ. وَفِي رِوَايَةٍ: وَلاَ يَجْهَلْ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Puasa adalah perisai. Maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula ribut-ribut.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Dan jangan berbuat bodoh.” “Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).” (HR. Al-Bukhari No. 1894; HR. Muslim No. 1151)
Puasa adalah tameng, kemudian zakat itu pembersihannya dan haji itu atap yang melindungi dari panas, angin, dan sebagainya. Itulah sebabnya saudara, jangan takut. Jika puasanya khusyu' pasti ingin shalat, kalo shalatnya khusyu' pasti ingin zakat, pasti ingin menegakkan syahadatnya.
Syahadat, shalat, zakat, puasa, haji, kita satukan sebagai satu kesatuan karena puasa itu hanya salah satu kunci. Kalau kunci ini saudara pegang dengan baik, yang lain akan kena semua, akan bisa masuk ke dalam rahmat Allah subhanahu wata'ala.
Begitulah sebabnya nanti pada akhir puasa kalau kita sudah puasa dengan baik, nah saudara akan keluar suci itulah yang disebut hari kesucian (Idulfitri), itulah yang kemudian menimbulkan istilah lebaran.
Lebaran itu diciptakan oleh Sunan Bonang beliau mengatakan, kalo orang sudah puasa itu ada empat Laku (keadaan) yaitu lebar (selesai puasanya), lebur (habis dosanya), luber (penuh pahalanya), labur labur (bersih badannya).
Oleh sebab itu, disebut idul fitri, yang menurut Imam Syafi'i dalam syairnya, "Laisal 'id liman labisal jadiid, walakinnal 'id liman thoataahu yazid, artinya: Idul Fitri bukan untuk mereka yang bajunya baru, akan tetapi idul fitri itu adalah bagi mereka yang ketaatannya kepada Allah subhanahu wata'ala bertambah.
Nah itulah sebab nya saudara pada saat itu dikatakan empat laku makan kupat. Ketupat itu adalah nasi yang dibungkus daun kelapa yang muda namanya janur. Janur itu apa? Kata sunan bonang adalah Jatining Nur (hati yang bersih).
Mari kita jaga puasa kita dengan sungguh-sungguh menjaganya agar besok setelah 30 atau 29 hari berpuasa, kita betul-betul bisa mengatakan "Saya sekarang Idulfitri". Kerjakan semua dengan penuh semangat, empati terhadap kehidupan masyarakat. Saksikan selengkapnya di sini. (FTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.