Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan Istiqlal: Pendidikan Akhlak Menuju Generasi Emas 2045

Admin 03 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. KH. Abdul Mu'ti, M.Ed 
(Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Sekretaris Umum Pimpinan Muhammadiyah)
 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Berbicara mengenai Indonesia Emas pada 2045 yang insyaAllah 20 tahun lagi akan ditemui, kita akan bersama-sama melihat indonesia sebagaimana yang dicita-citakan pendiri bangsa, dan cita-cita itu secara konstitusional bisa kita baca bersama-sama dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 dan pasal 31 ayat 3 undang-undang dasar 1945.

Dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 alinea keempat disebutkan bahwa di antara tujuan didirikannya negara indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.  

Adapun jika kita baca pasal 31 ayat 3 undang-undang dasar 1945 ‏di dalamnya disebutkan bahwa  pemerintah memberikan layanan pendidikan untuk rakyat Indonesia secara keseluruhan, yang pendidikan itu di antara tujuannya adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia.

Kalau itu kita dengan undang-undang pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003, kita juga membaca bahwa tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah untuk membentuk manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cerdas, trampil, serta bertanggung jawab terhadap masyarakat, bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan negaranya, dan juga generasi yang mereka memiliki sikap dan jiwa yang demokratis.

Kalau kita kaitkan tujuan didirikannya negara dan kita kaitkan dengan ibadah puasa, kita menemukan kaitan yang sangat erat antara ibadah puasa dengan tujuan didirikannya negara, serta tujuan pendidikan nasional.

Puasa sebagai salah ‏satu ibadah di dalam Islam sebagai syariat Islam. Kalau kita membaca pandangan beberapa ulama, misalnya Sayyid Sabiq beliau di dalam fiqussunnah menyebutkan bahwa syariat itu di dalam tujuannya adalah untuk membawa, mendidik dan menuntun manusia sehingga mereka mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupannya dan menjadi makhluk Allah SWT yang mulia.

Ibadah bukan hanya sekedar ritual yang berhenti sebatas ritual belaka, tetapi merupakan sarana, proses pendidikan agar kita menjadi hamba Allah SWT  yang berakhlaqulkarimah.

Kalau kita membaca al-quran surat Al-Isra ayat 70, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

Artinya: "Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isrā' [17]:70)

Kalau kita membaca hadist Nabi SAW yang mashur, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari)

Jika kemudian hal di atas dikaitkan dengan ibadah puasa, kita mendapatkan penjelasan dari banyak kitab tafsir yang di dalamnya kita menemukan bahwa puasa itu adalah ibadatutarbawiyah dan madrasatun littaqwa, ibadah pendidikan dan merupakan bagian dari proses edukatif agar kita menjadi ‏manusia yang bertakwa.

Manusia, sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS. As-Syams disempurnakan penciptaannya, dan manusia yang diciptakan dengan sempurna itu adalah manusia yang memiliki potensi untuk menjadi makhluk allah yang mulia dan bisa juga menjadi makhluk yang tercela.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ

dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya,

(QS. Asy-Syams [91]:7)

Tetapi kemudian Allah SWT memberikan keterangan lebih lanjut bagaimana agar manusia itu potensi takwanya yang berkembang dan potensi buruknya dapat dihapuskan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ (10)

Artinya: "sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]:9-10)

Di dalam Al-Qur'an, kata nafs paling tidak memiliki empat pengertian, yaitu:

1. Kehidupan

Hal ini mungkin berkaitan ciri-ciri makhluk hidup itu adalah mereka yang masih bernafas. Kata nafas dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab yaitu nafs dengan makna kehidupan, yang manusia sebagai makhluk hidup tentu dia akan merasakan mati.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan.

(QS. Al-‘Ankabūt [29]:57)

2. Individu

Nafs berarti manusia sebagai individu, atau dalam psikologi humanistik disebut sebagai unique individual atau manusia yang bersifat unik karena sifatnya berbeda dengan manusia lainnya serta sangat individual.

3. Nafsu

Pengertian ini sering kali dimaknai dalam pengertian yang memang mendorong manusia untuk berprilaku tidak baik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yūsuf [12]:53)

Di dalam ayat itu kita dapat penjelasan sesungguhnya nafsu dapat mendorong manusia pada perbuatan jahat, kecuali nafsu yang dirahmati Allah SWT.

4. Jiwa

Pada pengertian ini nafs dapat berarti dorongan-dorongan atau sifat-sifat atau motif-motif yang membuat manusia melakukan sesuatu. Hal ini bisa disebut sebagai jiwa, sehingga ilmu jiwa di dalam bahasa arab itu sering disebut dengan ilmu nafs ilmu yang berkaitan dengan sifat, karakter dan kepribadian ‏manusia yang menyebabkan ia melakukan sesuatu dan dengan itu manusia memiliki derajat dan peringkat yang berbeda-beda.

Ibadah puasa adalah ibadah yang di dalamnya kita diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk membersihkan jiwa, ruhani kita dari sifat-sifat yang tercela serta mendorong kita kepada perbuatan yang nista, sehingga manusia mulia bisa jatuh di derajat yang serendah-rendahnya.

Adapun agar manusia tetap berada pada derajat yang mulia, tetap berada pada kemuliaannya sebagai makhluk allah ‏yang lebih tinggi dari lainnya, Allah SWT memberikan panduan, tuntunan agar manusia memiliki jiwa yang bersih, sifat-sifat yang utama dan karena itu mereka tetapo dalam kemuliaannya dan menjadi makhluk yang berakhlakul karimah.

Generasi emas Indonesia itu adalah generasi yang cerdas, dalam bahasa lain disebut sebagai knowledgeable person atau manusia yang serba tahu, generasi yang beriman yang faithful yang memiliki ketakwaan, karena kunci kemuliaan manusia dan kunci kejayaan bangsa menurut Al-Qur'an adalah mereka yang beriman dan berilmu pengetahuan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: Ayat 11)

Generasi emas juga yang skilfull dan capable, terampil, serba bisa yang dengan itu mereka bisa menjadi generasi mandiri, mampu untuk mengolah dan memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki menjadi sumber rezeki dan menjadi sumber pendapatan yang meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Generasi emas juga merupakan generasi yang memiliki sikap rendah ‏hati, bukan generasi yang sombong, takabur, melainkan generasi yang senantiasa menciptakan kemaslahatan di muka bumi, generasi yang senantiasa berada pada jalan kebenaran, mengajak pada kebenaran dan senantiasa berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan.

(QS. Luqmān  [31]:17)

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.

(QS. Luqmān  [31]:18)

Serta juga generasi emas ialah  generasi yang memiliki sikap hidup yang sederhana dan ‏membantu sesama umat manusia.

Generasi emas ini bisa dibentuk karena puasa melatih dan mendidik kita untuk menjadi manusia yang mampu menahan diri, tidak rakus dan merasa cukup dengan apa yang kita konsumsi serta bersyukur dengan apapun yang kita miliki, kemudian berusaha meningkatkannya dengan berderma kepada sesama.

Seorang psikolog Erich Fromm menyebutkan, manusia memiliki kecenderungan yang disebut having mood dan being mood, ada manusia yang punya keinginan dan nafsu yang sangat kuat untuk memiliki banyak hal tetapi sering kali yang dimiliki itu hanya untuk kebanggaan semata dan tidak bermanfaat bagi dirinya dan yang lainnya.

Ada juga manusia yang senantiasa bersyukur terhadap hal yang dimiliki dan bersifat qanaah dan kemudian berbagi kepada yang memerlukan uluran tangan kita, atau disebut being mood.

Sifat manusia being mood adalah masyarakat yang diperlukan untuk Indonesia masa depan, mereka  tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tapi juga mereka menjadi generasi yang memiliki komit untuk memajukan masyarakatnya, bangsanya, berdedikasi demi kemajuan bangsa dan negara.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita taufik dan inayah-Nya, sehingga kita mampu menunaikan ibadah kita pada bulan Ramadan ini dengan berpuasa menunaikan ibadah sunah, memperbanyak sedekah dan ibadah lainnya yang dengan itu semua semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-Nya yang muttakin, dan kita tidak hanya menjadi generasi Indonesia emas, manusia-manusia yang berakhlakul karimah, tetapi juga menjadi manusia yang berusaha mendidik anak-anak kita, memberikan pendidikan yang terbaik untuk putra-putri kita sehingga mereka menjadi generasi emas yang akan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, menjadikan Indonesia ini sebagai negara yang bangsa, masyarakatnya cerdas, maju, memiliki kesejahteraan serta kemakmuran dalam ridha Allah SWT.

Saksikan selengkapnya di sini. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.