Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Tafsir Ekologis Tentang Khalifah dan Green Life Style

Admin 11 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al Munawar, MA


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Tafsir Ekologis tentang khalifah dan lifestyle, topik ini sangat menarik dan membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci wahyu Allah SWT yang sempurna dan dapat menyelesaikan semua permasalahan umat.

Tafsir ekologis tentang khalifah dan green lifestyle menghubungkan tentang khalifah dalam Islam dengan upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan hidup di bumi ini. Dalam Islam manusia dianggap sebagai khalifah, pemimpin, atau wakil Allah subhanahu wataala di muka bumi yang diberikan tugas oleh-Nya untuk memelihara dan mengelola bumi dengan bijaksana.

Konsep tersebut tercermin dalam ayat-ayat Al-Qur'an yang mengingatkan manusia tentang tanggung jawabnya dalam menjaga alam semesta sebagai wujud amanah dari Allah subhanahu wa taala. Dalam surah Al-Baqarah ayat 30, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah13) di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah  [2]:30)

قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ bukanlah protes dari malaikat tetapi untuk mengungkap hakikat daripada keberadaan makhluk-Nya yang baru diciptakan, Adam alaihialatu wasalam. Banyak yang keliru dalam menafsirkan bahwa ini merupakan protes dari malaikat, sementara malaikat adalah makhluk yang tidak pernah melakukan itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(QS. At-taḥrīm [66]:6)

Ayat yang menceritakan tentang khalifah ini menunjukkan bahwa manusia diberi peran sebagai pemimpin di bumi, dengan kewajiban untuk menjaga keseimbangan alam dan menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Allah subhanahu wa taala. Menjadi khalifah bukan hanya soal memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaga kelestarian alam sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah subhanahu wa taala.

Green lifestyle atau yang sering kita sebut dengan gaya hidup ramah lingkungan sangat sejalan dengan ajaran Islam yang mengutamakan kesederhanaan, kebersihan dan kelestarian alam. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan dalam menggunakan sumber daya alam dan untuk menjaga keberlanjutan hidup di muka bumi ini.

Beberapa prinsip yang kita temukan di dalam al-qur'anul Karim, di antaranya:

Pertama, tidak berlebihan yang disebut dengan wa lâ tusrifû, innahû lâ yuḫibbul-musrifîn, yang artinya: "janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."

Kedua, Islam juga melarang pemborosan dan mengajarkan umatnya untuk hidup hemat, termasuk dalam penggunaan sumber daya alam.

Tiga, menjaga kebersihan alam dan kesehatan. Seperti yang terkandung di dalam hadist yang selalu kita baca dan kita hafal, al-nadhāfatu minal īmān yang artinya "kebersihan adalah sebagian dari iman".

Keempat, meletakkan sumber daya alam pada posisi yang sebenarnya. Di dalam sebuah hadist, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Artinya: “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari&Ahmad)

Hadist di atas menunjukkan  Pentingnya menjaga dan menanam pohon yang merupakan bahagian dari usaha menjaga kelestarian alam. Sebagai khalifah di muka bumi, Islam mengajak umatnya untuk me-implementasikan green lifestyle dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1. Mengurangi penggunaan plastik dan sampah yang tidak terurai
2. Menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan atau beralih dari transportasi umum
3. Menanam pohon dan merawat alam sekitar menggunakan sumber daya alam secara bijak, seperti pertanian yang ramah lingkungan dan menghindari praktik perusakan alam seperti penebangan hutan dan lain-lain sebagainya.

Dari itu dapat kita simpulkan bahwa tafsir ekologis tentang khalifah dan gaya hidup hijau green lifestyle mengintegrasikan pemahaman agama dengan kesadaran lingkungan ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan.

Konsep khalifah dalam perspektif ekologis

1. Bertanggung jawab

Manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alam ini, bukan hanya hak untuk memanfaatkan saja tetapi juga berkewajiban untuk merawat dan melestarikannya.

Konsep khalifah juga menekankan bahwa manusia adalah pengelola bumi bukan pemilik yang semena-menanya, ada amanah di dalamnya, alam semesta adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga dengan baik. Kerusakan alam sama dengan pengkhianatan terhadap amanah tersebut.

kesadaran akan Amanah ini mendorong manusia untuk hidup harmonis dengan alam. sekitarnya keseimbangan harus dijaga. khalifah yang baik adalah yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem, ini berarti memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan.

Di samping ada konsep tawazun, keseimbangan dalam Al-Qur'an menjadi landasan penting dalam tafsir ekologis. Gaya hidup hijau green lifestyle dalam perspektif Islam menawarkan konsumsi yang bertanggung jawab.

2. Tidak Berlebih-lebihan

Islam mengajarkan tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi. Gaya hidup hijau mendorong konsumsi yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan, mengurangi sampah, menggunakan produk daur ulang dan menghindari penggunaan bahan kimia yang berbahaya, adalah bahagian dari gaya hidup hijau yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Pelestarian sumber daya alam, menjaga kelestarian air, tanah dan udara, kewajiban setiap muslim ini adalah harus ditegakkan. Gaya hidup hijau mendorong praktik-praktik seperti hemat air, reiboisasi dan penggunaan energi terbarukan.

3. Menjaga Alam dan Lingkungan Hidup

Islam melarang pencemaran lingkungan hidup dan kerusakan alam sehingga gaya hidup hijau menjadi cerminan dari ketaatan terhadap ajaran agama. Maka disilah perlu ditumbuhkan yang disebut dengan gaya hidup hijau, yang mencakup peningkatan kesadaran ekologis. Ini berarti memahami dampak tindakan kita terhadap lingkungan dan mengambil langkah untuk mengurangi dampak negatif.

Dalam Islam apabila kita renungkan ciptaan-ciptaan Tuhan dalam bentuk tafakur untuk beribadah, kesadaran ini dapat ditingkatkan melalui tafakur tentang keindahan dan kompleksitas daripada alam itu, maka di sinilah diperlukan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pengelolaan lingkungan berbasis ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab memerlukan adanya integrasi tafsir ekologis dan gaya hidup hijau, maka dari itulah dapat disimpulkan bahwa apa yang sekarang ini berkembang dan terus berkembang, dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam Al-Qur'an kita temukan isyarat-isyarat ilmiah untuk kita terapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Maka dari sinilah kita dapat memahami bahwa mewujudkan lingkungan dalam bentuk melestarikan kehidupan dalam lingkungan yang ramah, bermanfaat dan sekaligus ini adalah sebagai amanah dari Allah subhanahu wa taala.

Inilah sebagai bukti bahwa alquranul Karim walaupun ayat-ayatnya hanya berjumlah 6.236 ayat, sementara manusia dengan perkembangannya yang setiap saat mengalami perubahan-perubahan, apa yang dihadapi dengan problematika kehidupan sehari-hari, sudah diberikan isyarat-isyarat oleh al-qur'an untuk penyelesaiannya.

Al Imam Syafi'i rahimahullah sebagai seorang pakar dan sekaligus tokoh mazhab yang wafat 204 Hijriah, ketika menulis karyanya yang monumental yang disebut dengan Arrisalah, beliau  sampaikan, "Setiap peristiwa, problematika kehidupan solusinya ada di dalam al-qur'anul karim. Jalan satu-satunya kita harus mendekatkan diri kepada al-quranul karim yang lengkap dan semua konsep kehidupan ada di dalamnya." (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.