Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Nuzulul Quran dan Upaya Membumikan Nilai-nilai Al Quran

Admin 26 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. KH. Mukhlis M Hanafi

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Bulan ramadhan bulan yang penuh keberkahan karena bulan dimana diturunkannya Al-Qur’an. Di dalam surah Al-Qadr secara eksplisit disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatur qadr. Peristiwa ini mengingatkan kita tentang peristiwa 1496 tahun yang lalu dimana untuk pertama kalinya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu, 5 ayat pertama pada surah al-alaq. Kemudian secara berangsur-angsur Al-Qur’an turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun.

Untuk pertama kalinya, Al-Qur’an diturunkan di malam lailatul qadar secara sekaligus dari lauhul mahfuz kepada assama’ud dunya atau yang disebut dengan Baitul Izzah. Dan setelah itu pada malam yang ke-17 dari bulan ramadhan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu, menurut pendapat yang paling masyhur di kalangan ulama pertama kali di gua hira. Setelah beberapa malam sebelumnya Rasulullah selalu bertahannus. Kemudian turunlah wahyu yang menggetarkan dunia yakni 5 ayat pertama pada surah al-alaq. Kemudian selama 23 tahun secara berangsur-angsur Al-Qur’an turun secara sempurna, dan kemudian selama hampir 15 abad Al-Qur’an terus menerangi cahaya kehidupan manusia.

Disini dapat kita perhatikan bagaimana Al-Qur’an membentuk generasi-generasi yang terbaik di masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, bagaimana Al-Qur’an selama 78 abad pertama diturunkannya berhasil membangun peradaban manusia yang sangat luar biasa, yang unggul dalam berbagai sektor kehidupan manusia walaupun setelah 7 abad berikutnya berangsur-angsur dunia Islam mengalami kemunduran. Sampai pada saat ini kita telah memasuki abad ke-15.

Mereka yang mempercayai teori siklus mengatakan bahwa tujuh abad pertama itu adalah abad keemasan. Kemudian tujuh abad berikutnya adalah abad kemunduran. Dan sekarang di abad yang ke-15 kita akan kembali menyongsong kebangkitan peradaban Al-Qur’an. Al-Qur’an mampu menciptakan peradaban manusia yang begitu sangat gemilang karena Al-Qur’an hidup dalam kehidupan umat manusia. 

Al-Qur’an hidup dalam relung-relung hati manusia yang kemudian menjelma menjadi berbagai karya yang sangat membanggakan. Tetapi ketika Al-Qur’an itu hanya berada dalam lembaran-lembaran kertas, ketika Al-Qur’an itu hadir dalam bentuk simbol-simbol saja, Al-Qur’an mulai ditinggalkan. Disitulah berlaku apa yang diramalkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan di khawatirkan oleh Rasulullah seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an ,

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا 

Artinya : Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini (sebagai) sesuatu yang diabaikan.” (QS. Al-Furqan [25] :30)

Disinilah mengapa pada 7 abad berikutnya, setelah 7 abad kejayaan umat Islam mengalami kemunduran. Al-Qur’an tidak lagi hadir dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an hanya hadir dalam bentuk simbol-simbol saja, Al-Qur’an hanya bentuk lahiriah saja. Maka, wajar pada permulaan abad ke-15 seorang tokoh reformis asal Mesir yakni Al Imam Muhammad Abduh, setelah beliau diperjalankan ke Eropa oleh penguasa Mesir pada saat itu, lalu beliau menyaksikan secara langsung kemajuan yang telah ada di Eropa sejak abad ke-17 hingga 19 lalu ia mengatakan bahwasannya yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam itu adalah karena nilai-nilai Islam yang luhur itu tertutupi oleh perilaku umat Islam sendiri. Umat islam telah meninggalkan Al-Qur’an dalam arti tidak hanya mereka yang tidak membaca Al-Qur’an, mereka yang tidak menghafal Al-Qur’an, tetapi juga mereka yang hanya membaca tetapi tidak di pahami dan tidak diamalkan.

Maka dari itu wajar apabila ada yang mengembalikan mengapa kaum muslimin mengalami kemunduran, hal ini disebabkan karena mereka (kaum muslimin) memperlakukan Al-Qur’an secara tidak proporsional dan secara tidak adil. Dimana  Al-Qur’an hanya dibaca, dihafalkan, didengarkan, tetapi tidak dipahami, tidak di tafsirkan, tidak di amalkan dan juga tidak di dakwahkan.

Jadi, dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an secara utuh kita harus memulai dengan banyak membaca, menghafal, dan mendengarkan. Setelah itu kita harus berupaya untuk memperbaiki bacaan menjadi bacaan yang lebih berkualitas, bacaan yang disertai dengan pemahaman, bacaan yang di sertai dengan penghayatan, dan bacaan yang disertai dengan amalan.

Selain mengamalkan Al-Qur’an untuk diri kita, kita perlu mendakwahkannya untuk orang lain. Tetapi dalam berdakwah harus didasari oleh ilmu pengetahuan. Semangat mendakwahkan Al-Qur’an yang tidak dibarengi dengan ilmu pengetahuan, hanya akan menjadikan orang-orang yang semangatnya melebihi ilmunya sehingga kemudian melakukan tindakan-tindakan ekstrem.

Pemahaman dan pengalaman dakwah terhadap Al-Qur’an harus didasari atas pengetahuan baik, seimbang dan moderat. Jadi apabila ada yang bertanya, mengapa kita mengalami kemunduran? Kuncinya adalah kita harus kembali kepada Al-Qur’an, kita harus kembali kepada ajaran Islam yang baik dan benar.

Diturunkannya Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, sebab Allah Swt ingin memberikan wahyu kepada manusia dalam keadaan suci. Dimana manusia sedang berada dalam keadaan bertakaruf. Al-Qur’an akan mudah masuk ke dalam qalbu, membersamai jiwa manusia dan akan menggerakkan hati manusia untuk  melakukan kebaikan agar menghasilkan karya-karya yang bernilai.

Maka dari itu, di bulan ramadhan ini kita jadikan momentum untuk membersihkan hati dan jiwa, salah satunya dengan bersedekah dan berzakat. Dan pada akhirnya Al-Qur’an lah yang akan membawakan kedamaian dalam kehidupan manusia. (Vistaufa/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.