Oleh: Kombes Pol. (P) Drs. KH. Zainuri Anwar, M.Ag., CAH. CWC
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Guna meraih kebahagiaan dalam hidup ini ternyata resepnya sederhana, resep untuk meraih kebahagiaan adalah qanaah.
Qanaah secara bahasa adalah menerima apa yang yang diberikan oleh Allah kepada kita, sedangkan secara istilah qanaah berarti merasa cukup, rida dan kemudian lapang dada atas rezeki yang diberikan oleh Allah kepada kita, apapun bentuk rezekinya, dan perlu kita ketahui rezeki orang berbeda-beda.
Ada yang sama-sama dagang minyak tapi yang satu rezekinya lebih besar yang satu rezekinya lebih kecil, ada yang sama-sama dagang bakso, yang satu baksonya laris yang satu kurang laku, semua itu adalah atas pemberian Allah subhanahu wa taala.
Ketika kita qanaah menerima apa yang Allah berikan, merasa cukup Rida dan kemudian lapang dada atas semua yang kita dapatkan pastikan hidup kita akan bahagia.
Hujjatul Islam, Imam alghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menggambarkan beberapa tingkatan qanaah,
Pertama, menerima dengan rida apa yang ada. Banyak orang yang tidak rida atas apa yang ada pada diri kita akibatnya kita kemudian menghujat sehingga hilang kebahagiaan
Kedua, kata al-ghazali tidak tamak terhadap apa yang tidak dimiliki. Kalau kita belum punya sesuatu, kita tidak tamak terhadap sesuatu itu. Karena ketika kita tamak, maka kita berangan-angan berharap berlebih. Akibat dari sikap itu pun kita kemudian resah.
Ketika qanaahnya hilang gelisah akan muncul resah pun akan datang. Adapun jika dihadapi dengan sabar, qanaah dan terus memohon kepada Allah SWT, insyaAllah akan diberikan solusi terbaik yang tidak diduga-duga, tepat pada waktunya.
Ketiga, kata al-ghazali qanaah itu tidak bergantung kepada manusia. Ketika kita bergantung kepada manusia hidup kita akan hina, tapi bergantung kepada Allah SWT, kita akan mulia.
Kalau kita bersandar kepada manusia, sandaran kita juga adalah manusia yang juga mengharapkan dari Allah SWT. Buat apa kalau kita bersandar kepada manusia yang dia juga berharap kepada Allah? Lebih baik kita langsung sandaran kita adalah Allah subhanahu wata'ala.
Keempat, kata Al Gazali tidak berlebihan dalam mencari dunia. Sesuai kebutuhan kita, kita cari, jika lebih disedekahkan. Maka ketika orang sudah bahagia memberi sedekah, itu gambaran dia sudah qanaah.
Kelima, menyerahkan segala urusannya kepada Allah subhanahu wa taala. Dalam firman-Nya, Allah SWT menggambarkan,
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
Artinya: Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha · Ayat 131)
Hadirin rahimakumullah ayat ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak iri terhadap kenikmatan dunia yang dimiliki oleh orang lain. Sebab rezeki dari Allah jauh lebih baik dan lebih kekal, terima itu sehingga disebut qanaah.
Hal tersebut juga ternyata seiring dengan wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Uzair Alaihissalam, Allah mewahyukan kepada Nabi Uzair Alaihissalam, "Wahai Uzair, jika kamu melakukan dosa kecil, maka kamu jangan melihat kecilnya, tapi lihatlah kepada siapa kamu telah berbuat dosa."
"Jika kamu mendapatkan rezeki yang sedikit, maka kamu jangan melihat sedikitnya, tapi lihatlah siapakah yang telah memberikan itu semua kepadamu."
Kalau kita mengeluh dapat rezeki sedikit berarti kita meremehkan rezekinya Allah mengecilkan Allah, kalau kita tidak rela atas rizki yang diberikan oleh Allah kepada kita maka kita tidak rela atas pemberian Allah, maka qanaah adalah merupakan jalan keluar, rela, ridha, merasa cukup apa yang telah Allah berikan kepada kita.
"Jika kamu mendapatkan suatu musibah, maka janganlah kamu mengadukan-Ku kepada makhluk-Ku, sebagaimana Aku tidak mengadukan kepada malaikat-Ku, jika kejelekanmu disampaikan kepada-Ku." (Syekh Nawawi al-Banteni, Nashaihul Ibad)
Dengan qanaah hidup akan bahagia, tapi ketika qanaah itu hilang maka Kegelisahan, kegundahan akan muncul pada diri kita. Maka melalui ibadah Ramadan ini, mari kita bina sifat qanaah kita. Kita tumbuhkan sifat qanaah, merasa cukup pada yang Allah berikan kepada kita.
Mengenai kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, Rasulullah SAW bersabda,
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ Artinya,
Artinya: “Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).
Maka tanamkan pada diri kita sifat qanaah dalam semua aspek kehidupan kita. Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa memberikan bimbingannya kepada kita sekalian untuk mampu bersifat qanaah, menerima apapun yang Allah SWT berikan kepada kita, sehingga kita menjadi orang yang bahagia baik di dunia ini maupun kelak di akhirat nanti. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.