Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Istiqlal: Spiritualitas Haji Dan Kurban Serta Tauladan Nabi Ibrahim As

Admin 02 Jun 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. H. M. Andi Faisal Bakti, M.A., Ph.D.

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah inti dari setiap ibadah, ruh dari setiap amal, dan bekal terbaik menuju akhirat. Sebagaimana firman Allah:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

"Berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Di bulan Zulhijah ini, kita berada di tengah-tengah momen yang sangat agung yaitu:  ibadah haji dan kurban. Dua ibadah yang mengakar kuat dalam sejarah perjuangan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Keduanya bukan sekadar ritual, tetapi memiliki makna spiritual yang kuat sebagai jalan menuju keridaan Allah ﷻ. Sesuai dengan tema khutbah kita pada khutbah ini “Spiritualitas Haji dan Kurban serta Keteladanan Nabi Ibrahim” maka, paling tidak ada tiga hal yang dapat kita renungkan kembali.

Haji: Perjalanan Menuju Allah

Berhaji adalah salah satu rukun Islam yang wajib bagi muslim yang `aqil bāligh dan mampu. Rukun haji diawali dengan berihram dan niat, lalu wukuf, tawaf, sa`i, dan diakhiri dengan tahallul. Sedangkan wajib haji meliputi ihram dari miqatmabit di Muzdalifah, melempar jumrah, mabit di Mina, dan tawaf wada`. Di antara nilai-nilai spiritual yang dapat kita ambil dalam perjalanan haji adalah:

Ihram: keikhlasan, dan kesetaraan di hadapan Allah

Ihram adalah gerbang memasuki ibadah haji. Dengan mengenakan dua helai kain putih tanpa jahitan, kita melepaskan semua atribut duniawi, pangkat, jabatan, dan kekayaan. Pakaian ihram menanggalkan seluruh simbol duniawi, status, jabatan, harta, dan nama. Dalam balutan dua helai kain putih tanpa jahitan, semua manusia berdiri sejajar. 

Kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, bersatu dalam niat yang suci untuk memenuhi panggilan Allah: labbaik Allāhumma labbaik. Ihram adalah simbol bahwa kita datang kepada Allah bukan membawa pencapaian duniawi, melainkan niat yang tulus dan hati yang bersih. Ini adalah awal transformasi ruhani, ketika manusia mulai melepaskan keterikatan kepada dunia dan menata kembali orientasi hidupnya menuju akhirat. 

Tawaf: Allah sebagai pusat kehidupan

Tawaf adalah simbol kepatuhan total dan menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup. Mengelilingi Ka’bah tujuh kali, sebagaimana elektron mengelilingi inti atom, darah bersirkulasi dalam tubuh, dan galaksi yang mengorbit porosnya, menunjukkan bahwa segala sesuatu bergerak bahkan bertasbih kepada Allah. Ini mengajarkan kita bahwa hidup harus berpusat pada Allah, bukan ego atau dunia. 

Kita adalah makhluk yang terus "bergerak" dalam dzikir dan penghambaan. Allah ﷻ memerintahkan kita untuk bertawaf sebagaimana dalam Al-Qur’an.

وَلۡيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ

"Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling Baitullah yang tua (Ka‘bah)." (QS. Al-Hajj [22]: 29)

Sa’i: ikhtiar tanpa putus asa

Sa’i, berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah, mengenang perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk anaknya, Ismail. Ini adalah teladan bahwa keimanan tidak meniadakan usaha, dan usaha tidak boleh mematikan harapan kepada Allah. 

Spiritualitas artinya gabungan antara usaha dan pengharapan kepada Allah. Sa’i mengajarkan bahwa keajaiban (air zam-zam) datang setelah upaya maksimal dilakukan, bukan hanya dengan berdiam diri. 

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ

"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah." (QS. Al-Baqarah [2]: 158). Dalam sebuah hadis disebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda: “Berlarilah (dengan ringan) karena Allah telah menetapkan Sa’i ini atas kalian.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Wukuf di Arafah: miniatur padang Mahsyar 

Wukuf adalah puncak haji. Jutaan manusia berkumpul hanya dengan pakaian ihram, tanpa perbedaan status. Ini adalah momen muhasabah, memohon ampunan, dan menyadari kehambaan. 

Arafah adalah momentum taubat akbar, momen perenungan eksistensial: siapa kita, dari mana, dan ke mana kembali. Ini menjadi pengingat bahwa kita kelak akan "berwukuf" kembali di hadapan Allah pada yaum al-hisab (hari perhitungan) dimana umat manusia yang akan dikumpulkan di hadapan Tuhannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْحَجُّ عَرَفَةُ 

“Haji adalah (berwukuf di) Arafah.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud); dalam hadis lain disebutkan “Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari neraka selain hari Arafah.” (HR. Muslim)

Muzdalifah: mempersiapkan kebaikan 

Mabit di Muzdalifah dan mengumpulkan kerikil adalah simbol persiapan menghadapi godaan syaitan dan tantangan hidup. Ini adalah tempat merenungkan: bagaimana kita kembali ke dunia membawa perubahan. Kita diajak mempersiapkan diri, mengumpulkan bekal iman dan strategi untuk menghadapi ujian hidup. Allah ﷻ berfirman:

فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَـٰتٍۢ فَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَش۪عَرِ ٱلۡحَرَامِ

"Kemudian apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram (Muzdalifah)." (QS. Al-Baqarah [2]: 198)

Melontar jumrah di Mina: simbol perlawanan terhadap dosa

Melempar tiga jumrah adalah simbol penolakan terhadap setan dan hawa nafsu. Kita tidak sekadar melempar batu, tapi melempar: ego dan kesombongan, amarah dan iri hati, serta kemalasan dan kemaksiatan. 

Melontar jumrah adalah pernyataan perang terhadap kejahatan dalam diri kita. Ini adalah komitmen untuk menghapus dosa dan memperbarui tekad menjadi hamba yang taat.

وَٱذۡكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعۡدُودَٰتٍۢ ۚ فَمَن تَعَجَّلَ فِى يَوۡمَيۡنِ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۖ

"Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang tertentu (di Mina). Maka barang siapa yang ingin menyegerakan (meninggalkan Mina) sesudah dua hari, maka tidak ada dosa baginya." (QS. Al-Baqarah [2]: 203).  Lempar jumrah adalah bagian dari zikir dan jihad melawan hawa nafsu. Ibnu Abbas berkata: “Kamu melempar batu itu bukan untuk membunuh setan, tapi sebagai pengingat untuk menolak bujuk rayu setan.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Tahallul: kembali fitrah 

Tahallul adalah simbol berakhirnya sebagian besar larangan ihram. Ini menandakan bahwa seorang haji telah melalui proses penyucian diri dan siap kembali ke dunia dengan semangat baru. 

[مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ] عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ

“Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali (dari haji) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521 dan Muslim no. 1350). Dalam hadis lain juga disebutkan: “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga,” (HR Bukhari).

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Kurban: Totalitas Ketundukan dan Takwa

Ibadah kurban pun tak kalah agung maknanya. Ia merupakan wujud ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada perintah Allah ﷻ, yang secara historis merujuk pada peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadap putranya, Ismail, sebagai bentuk kepatuhan total kepada Allah. 

Namun, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba, yang kemudian menjadi simbol kurban hingga kini. Ibadah kurban disyariatkan pada tanggal 10 Zulhijah hingga hari Tasyrik (11–13 Zulhijah) dan diperuntukkan bagi kaum muslimin yang mampu, sebagai bentuk pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah. 

Hewan yang dikurbankan harus memenuhi syarat: sehat, tidak cacat, cukup umur. Lebih dari sekadar menyembelih hewan, kurban mencerminkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, sebagai bentuk solidaritas dan penguatan ukhuwah Islamiyah. 

Dengan demikian, kurban menjadi sarana pembersih jiwa dari sifat egois dan kikir, serta mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan Allah ﷻ. Inti kurban bukanlah persembahan fisik semata, melainkan ketakwaan (taqwa) dan keikhlasan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana firman Allah ﷻ:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS. Al-Hajj [22]: 37). 

Ayat ini menegaskan bahwa hakikat ibadah kurban bukanlah pada aspek lahiriahnya semata, seperti daging dan darah, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan pelakunya. Adapun penegasan tentang syariat kurban ini disebutkan dalam Al-Quran dan hadis, berikut di antaranya:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (٣)

“[1] Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu (Muhammad) nikmat yang banyak (al-Kautsar). [2] Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan sembelihlah qurban. [3] Sesungguhnya orang-orang yang membencimu (muhammad), dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3). 

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil atas pensyariatan qurban sebagai ibadah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah), bahkan wajib bagi yang mampu menurut sebagian ulama. Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَصْلَانَا

"Barang siapa mendapat kelapangan rezeki (mampu) tapi tidak berkurban, janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Sunan Ibnu Majah). 

 

Rasulullah juga telah menegaskan eksistensi kurban dalam hadis lain:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.”  (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

 

Nabi Ibrahim Alaihis Salam: Sosok Teladan Sejati

Allah ﷻ menyebut Nabi Ibrahim sebagai umat (pemimpin): 

إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin yang taat kepada Allah, lurus dalam keimanannya.” (QS. An-Nahl [16]: 120). 

 

Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Ibrahim AS adalah: pemimpin teladan bagi umat manusia, hamba yang taat, tanpa syarat serta Pribadi yang lurus, tidak menyimpang dari jalan Allah. Dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim juga disebut sebagai teladan:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَه

“Sungguh, benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4)

 

Di antara pelajaran yang dapat kita ambil dalam kisah Nabi Ibrahim adalah:

Bapak tauhid

Nabi Ibrahim alaihis salam merupakan peletak dasar ajaran tauhid yang murni. Beliau dikenal sebagai tokoh utama yang menentang penyembahan berhala dan menyerukan penyembahan hanya kepada Allah ﷻ. Perjuangannya membentuk fondasi utama dalam ajaran monoteisme yang diwariskan kepada para-Nabi sesudahnya.

Ketaatan paripurna kepada Allah

Nabi Ibrahim alaihis salam menunjukkan ketaatan yang total dan kepasrahan (Islam) yang luar biasa terhadap perintah Allah SWT, bahkan ketika diperintahkan untuk: meninggalkan istri dan anaknya di lembah tandus Makkah; menyembelih putranya sendiri, Ismail AS, sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah. Tindakan ini menjadi simbol ketundukan mutlak kepada kehendak Ilahi.

Perihal Ujian dan kesabaran

Hidup Nabi Ibrahim alaihis salam penuh dengan ujian yang sangat berat. Namun, beliau hadapi semuanya dengan kesabaran, keteguhan iman, dan keyakinan penuh kepada Allah. Ini menjadi pelajaran penting tentang keteguhan hati di tengah kesulitan.

Khalilullah (Kekasih Allah)

Gelar ini menunjukkan derajat spiritual yang sangat tinggi yang diraih oleh Nabi Ibrahim alaihis salam karena keikhlasan dan totalitas pengabdiannya kepada Allah. Ia adalah manusia pilihan yang menjadi sahabat dan kekasih Allah.

Peristiwa Haji dan Kurban 

Berbagai ibadah dalam ritual haji dan kurban bersumber dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim alaihis salam dan keluarganya. Beberapa di antaranya: sa’i antara Shafa dan Marwah, mengikuti jejak Hajar; lempar jumrah, simbol perlawanan terhadap godaan setan; penyembelihan hewan kurban, refleksi dari kesiapan mengorbankan yang paling dicinta demi Allah; Pembangunan Ka'bah, yang dilakukan bersama Nabi Ismail sebagai pusat tauhid.

Haji dan kurban adalah dua pilar spiritualitas Islam, yang keduanya bermuara pada takwa. Siapa yang tidak melaksanakan shalat, tidak berkurban, dan tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah, maka ia terputus dari langit, disconnected dari Tuhan-nya. 

Mari kita jadikan momen ini untuk menghidupkan kembali ruh keimanan dalam diri, keluarga, dan masyarakat. Semoga Allah menerima amal kita dan menjadikan kita hamba yang bertakwa.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.