Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Relevansi Tazkiyatun Nafs Bagi Kehidupan Muslim di Era Modern

Admin 13 Jun 2025 Warta Istiqlal

Oleh : Dr. M. Ilyas Marwal, MM, D.E.S.A 
Pimpinan pesantren al Qur'an & Sains Nurani Jakarta , Dosen Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal
 

JAKARTA, www.istiqlal.or.id - Khutbah ini diawali dengan mengagungkan asmā’ Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā melalui lantunan takbir, menyucikan-Nya dengan tasbih, dan mensyukuri seluruh nikmat-Nya dengan tahmid. Semoga rangkaian dzikir agung ini—takbir, tasbih, dan tahmid—menjadi pengingat yang menggugah hati, serta mampu meningkatkan intensitas dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah, Rabb semesta alam. 

Ibadallah, 
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita memperdalam renungan kita tentang salah satu ajaran pokok dalam Islam yang menjadi inti dari misi kenabian dan esensi ajaran Ihsan, yakni Tazkiyatun Nafs  atau penyucian jiwa, yaitu membentuk manusia yang bersih jiwa dan hatinya, tunduk pada Allah, serta menjauhi penyakit-penyakit batin.

Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang secara langsung menegaskan bahwa misi utama para nabi, khususnya Nabi Muhammad ﷺ, adalah untuk mengajarkan Kitab, Hikmah, dan Tazkiyah (menyucikan jiwa) umatnya. Berikut adalah kumpulan ayat-ayat Al-Qur'an yang menyebut secara eksplisit tentang "Tazkiyah":

Surah Al-Baqarah ayat 129, ayat 151, Surah Ali ‘Imran ayat 164, Surah Al-Jumu‘ah ayat 2

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۗ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya: "Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

Ayat ayat ini menjadi penegasan ilahi bahwa keselamatan hakiki tidak terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada kebersihan dan keluhuran jiwa. 

Ibadallah, 
Dalam kehidupan modern saat ini, manusia semakin dimanjakan oleh kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi. Namun sayangnya, di balik kecanggihan itu semua, kita justru menyaksikan keruntuhan yang paling sunyi dan paling dalam, yaitu keruntuhan ruhani manusia. 

Manusia hari ini telah kehilangan arah. Ia tersesat dalam terang, dan buta dalam cahaya, banyak hati yang merasa hampa, banyak jiwa yang mengalami kegelisahan tanpa sebab yang jelas. Inilah paradoks zaman modern, lahir yang semakin terpenuhi, tetapi batin yang semakin terasing.

Kita lihat, betapa banyak orang mengejar kebahagiaan, tapi tak pernah benar-benar bahagia. Banyak yang memiliki segalanya - rumah megah, kendaraan mewah, jabatan tinggi - tetapi tetap merasa kosong dan gelisah. Inilah apa yang disebut oleh para sufi sebagai "Ẓulmah al-Qalb", kegelapan hati.

Imam al-Ghazali mengingatkan dalam karya agungnya Ihya’ ‘Ulum al-Din, Iḥyā’:
فَإِنَّ الْقَلْبَ إِذَا أَظْلَمَ لَا يَنْفَعْ فِيهِ النُّورُ، وَإِذَا امْتَلَأَ لَا يَدْخُلْهُ غَيْرُهُ، وَإِذَا اسْتَوْلَى عَلَيْهِ غَيْرُ اللَّهِ لَمْ يَبْقَ فِيهِ لِمَحَبَّةِ اللَّهِ مَوْضِعٌ. 

Artinya: “Jika hati telah gelap, maka cahaya tidak akan bisa masuk ke dalamnya. Jika ia telah dipenuhi dunia, maka tidak akan ada tempat bagi cinta kepada Allah.”

Kita hidup dalam dunia yang sibuk dengan penampilan, tapi lalai pada penyucian diri. Kita dikelilingi oleh suara, tapi kehilangan keheningan. Kita pandai berbicara, tapi miskin perenungan. Maka tazkiyatun nafs bukan hanya relevan, tetapi menjadi kebutuhan mendesak umat Islam hari ini.

Seperti pada referensi yang lain , Imam al-Ghazālī berkata:
بِدَايَةُ الطَّرِيقِ إِلَى اللَّهِ تَطْهِيرُ الْقَلْبِ مِنَ الرَّذَائِلِ، وَنِهَايَتُهُ تَجَلِّيهِ بِالْأَنْوَارِ. 

"Permulaan jalan menuju Allah adalah membersihkan hati dari segala penyakit, dan akhirnya adalah tersingkapnya cahaya ilahi dalam jiwa." 

Ibadallah, 
Tazkiyatun nafs mengajarkan kita untuk: merenung sebelum bertindak, menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain, dan mengingat Allah dalam kesendirian maupun di tengah keramaian.

Dan inilah esensi kehidupan Islami yang sejati, menjadi insan yang bersih hati, lurus niat, dan teguh dalam nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan tawadhu’. Maka, tazkiyatun nafs bukan hanya amalan elit para sufi, tetapi tanggung jawab setiap Muslim, baik dia seorang akademisi, pejabat, pedagang, pendidik, ataupun pelajar. 

Setiap kita wajib menjaga kebeningan jiwa agar tidak tenggelam dalam arus kesibukan dunia yang melenakan. 

Ibadallah, 
Imam al-Ghazali menyampaikan satu peringatan yang sangat relevan dengan zaman kita hari ini. Beliau menegaskan bahwa penyakit hati jauh lebih berbahaya dari penyakit jasmani, namun kebanyakan manusia justru tidak menyadarinya, dan tidak berusaha mengobatinya. Mengapa? Karena hati mereka telah terpaut pada dunia dan lalai dari akhirat.

Lihatlah bagaimana orang-orang rela menghabiskan harta, waktu, bahkan terbang ke negara lain demi mengobati tubuh yang sakit — dan itu memang penting, karena menjaga kesehatan adalah amanah. Setiap hari kita mendengar kabar orang sakit  (Sakit lambung, jantung, stroke, atau bahkan kanker). Dan saat kita atau orang terdekat kita sakit, kita akan langsung sigap: pergi ke rumah sakit, konsultasi dokter, beli obat, dan bahkan tidak sedikit yang rela menghabiskan harta dan waktu demi kesembuhan.

Namun, ada satu jenis sakit yang jauh lebih berbahaya, tapi justru sering kita abaikan: sakit hati  bukan karena cinta, tapi karena penyakit batin.

Imam al-Ghazali berkata dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din:
وَاعْلَمْ أَنَّ أَمْرَاضَ الْقَلْبِ مِثْلَ الْحَسَدِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، أَشَدُّ مِنْ أَمْرَاضِ الْبَدَنِ، وَعِلَاجَهَا أَهَمُّ، وَلَكِنَّ النَّاسَ لَا يَشْعُرُونَ بِهَا وَلَا يَحْرِصُونَ عَلَى إِزَالَتِهَا، بَلْ يَحْرِصُونَ عَلَى مُعَالَجَةِ أَمْرَاضِ الْأَبْدَانِ، لِأَنَّهُمْ مُسْتَغْرِقُونَ فِي حُبِّ الدُّنْيَا، غَافِلُونَ عَنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ.

Artinya: "Ketahuilah bahwa penyakit hati seperti hasad, sombong, riya’, ujub, dan cinta dunia lebih berbahaya daripada penyakit badan. Tapi sayangnya, manusia tidak menyadarinya dan tidak berusaha mengobatinya, karena hati mereka sudah tenggelam dalam cinta dunia dan lalai dari akhirat." ( Ihya’ ‘Ulum al-Din, juz 3, Kitab Riyadhat al-Nafs ) 

Ibadallah, 
Lihatlah kehidupan kita hari ini. Kita sangat takut terkena penyakit jasmani, tapi tidak pernah merasa gelisah saat hati kita penuh iri kepada orang lain. Kita panik saat tubuh demam, tapi tenang-tenang saja saat hati kita kotor oleh riya’ dan ujub. 

Padahal, penyakit batin ini bisa merusak semua amal, bahkan menghapus pahala shalat dan puasa kita, tanpa kita sadari.

Namun pada saat yang sama, ketika hatinya terkena penyakit seperti iri, sombong, cinta pujian, riya', dendam, hasad, kebencian, atau putus asa dari rahmat Allah, mereka tidak sadar bahwa itu semua adalah penyakit batin yang bisa merusak amal, menghitamkan hati, dan menjauhkan dari Allah, bahkan bisa menggugurkan semua pahala tanpa disadari.

Kita hidup di zaman yang penuh dengan “penyakit batin kolektif”:
• Ketika seseorang tidak merasa berdosa padahal hatinya penuh dengki kepada saudaranya.
• Ketika seseorang merasa tenang padahal setiap ibadahnya dipenuhi oleh rasa ingin dipuji orang.
• Ketika seseorang menganggap biasa saja bahwa hidupnya penuh keluhan, padahal ia sedang menunjukkan sikap tidak ridha terhadap takdir Allah.
• Ketika seseorang merasa mulia karena hartanya, padahal ia sedang tenggelam dalam kesombongan halus yang membinasakan.

Imam al-Ghazali mengingatkan  bahwa sakit fisik berujung pada kematian jasad, namun sakit batin mematikan hati dalam hidup dan itu jauh lebih mengerikan. Hati yang mati tidak lagi peka terhadap dosa, tak menangis karena Al-Qur’an, tak bergetar oleh azan, dan tak bersalah saat meninggalkan kebaikan.

Kita bisa gembira karena pujian di media sosial, tapi tidak bahagia saat sujud malam. Kita bangga membeli sesuatu yang baru, tapi tidak bangga menahan amarah atau memaafkan. Itulah tanda bahwa penyakit batin telah merasuk tanpa kita sadari.

Ironinya, penyakit fisik segera ditangani, sedangkan penyakit hati sering dibiarkan bahkan dibela sebagai "karakter". Padahal, Islam tidak membenarkan watak buruk yang tak bisa diubah Islam memerintahkan mujahadah.

Riya’, ujub, hasad, cinta pujian, dan tamak dunia adalah virus hati yang mematikan jiwa. Tazkiyatun nafs adalah upaya menyucikan hati, menundukkan nafsu, dan menjaga kehidupan batin. Ia adalah vaksinasi spiritual yang menyelamatkan kita dari kehancuran yang tak tampak namun nyata.

Apa Solusinya?
• Muhasabah (introspeksi harian): Setiap malam tanyakan pada diri, bukan hanya "apa yang sudah aku lakukan", tapi juga "apa yang tersembunyi dalam hatiku hari ini?".
• Ilmu dan zikir: Sebagaimana tubuh butuh makanan, hati butuh asupan cahaya ilahi dari Al-Qur’an dan dzikrullah.
• Bersahabat dengan orang-orang saleh: Karena hati yang sehat menular, seperti halnya hati yang sakit.
• Berdoa setiap hari: Salah satu doa yang diajarkan Nabi SAW:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, berikan kepada jiwaku ketakwaannya, dan sucikan ia, karena Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penolongnya."

Sebagai penutup dalam khutbah ini , Ketahuilah bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tapi Dia melihat hati dan amal.

Sebagaimana kita menjaga kesehatan jasmani di hadapan manusia, lebih utama lagi membersihkan hati di hadapan Allah. Sebab, pada hari kebangkitan, bukan hanya tubuh yang dihisab, melainkan hati yang akan ditimbang, apakah ia hidup dengan iman, atau mati karena cinta dunia.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُون - إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍۢ سَلِيمٍۢ
"Pada hari di mana tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. asy-Syu’ara: 88–89)
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.