Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Madrasah Ramadhan Membentuk Pribadi Yang Tangguh

Admin 01 Apr 2022 Warta Istiqlal

Oleh : Ir. Habib Nabiel Al-Musawa, M.Si

 

Sidang Jum'at yang berbahagia.
Khatib berpesan agar kita semua menjaga taqwa kita kepada Allah subhanahu wata'ala, sebab mereka yang berbahagia di dunia dan di akhirat hanyalah mereka yang bertaqwa.

Tak terasa besok atau lusa kita sudah memasuki bulan yang termulia diantara seluruh bulan. Termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183 yang tadi Khatib bacakan, Allah subhanahu wata'ala memerintahkan kita semua agar berpuasa, karena dengan berpuasa itulah salah satu sarana kita mencapai derajat taqwa kepada Allah subhanahu wata'ala.

Sidang Jum'at yang dimuliakan Allah subhanahu wata'ala.
Makna puasa dalam bahasa arab berasal dari kata shaum yang merupakan sinonim dari imsaak yang maknanya adalah menahan diri (untuk tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu), sebagaimana dikatakan dalam kalimat : shooma, yashuumu, shoumaan, washiyaamaan yang artinya meninggalkan sesuatu.

Adapun secara terminologis, shaum menurut para Ulama adalah: “Menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan perbuatan-perbuatan maksiat, dengan niat yang ikhlas karena Allah, dari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari."

Ibadah puasa di bulan Ramadhan ini diwajibkan mulai tahun ke-2 hijrah. Jika kita melihat makna dari QS. Al-Baqarah ayat 183 diatas (tafsiirul ayat): يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا, maknanya adalah pengkhususan (takhshishun) panggilan Allah subhanahu wata'ala pada orang-orang yang beriman pada Allah SWT, Rasul-Nya dan orang yang membenarkan keduanya. Keistimewaan panggilan ini adalah karena dipanggil dengan nama atau gelar termulia dari manusia lainnya.

Kalimat كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ, Sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelum kita, di sini Allah subhanahu wata'ala memerintahkan ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melihat betapa beratnya syariat puasa ummat sebelum kita.

Seperti Sayyidatina Maryam alaihis salam yang shaumnya tidak boleh berbicara sama sekali. Hal tersebut tertera pada Al-Quran surat Maryam [19]: ayat 26, yang artinya,

"Maka makan, minum dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”." [QS. Maryam: 26].

Demikian pula shaum-nya Thalut alaihis salam yang hanya boleh minum seteguk air saja, sehingga diriwayatkan bahwa kaumnya Thalut yang mampu bertahan berpuasa seperti itu hanya 309 orang saja. Hal tersebut tertera dalam firman-Nya pada QS. Al-Baqarah [2]: ayat 249, yang artinya,

"Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." [QS. Al Baqarah [2]: 249]

Di samping itu, terdapat juga puasa Nabi Daud alaihis salam yang disyari’atkan berpuasa selang sehari seumur hidupnya, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada puasa yang lebih afdhol dari puasa Daud. Puasa Daud berarti sudah berpuasa separuh tahun karena sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa." (HR. Bukhari no. 6277 dan Muslim no. 1159).

Berikutnya, puasanya umat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam saat sebelum turunnya QS. Al-Baqarah ayat 187 yang belum diturunkan syariat makan sahur dan peristiwa sahabat Qais bin Shirmah Al-Anshary radhiallahu anhu (HR. Bukhari no. 1915).

Bahwa tiap ibadah di dalam Islam pasti punya tujuan, shalat disebutkan tanhaa anilfahsyaai walmunkar, zakat dikatakan tuthahhiru hum wa tuzakkiihim bihaa, dan puasa itu targetnya yaitu haruslah mencapai derajat taqwa la'alakum tattaquun dan taqwa artinya mampu mensucikan jiwa (tazkiyztun nufus) dari kotoran dan kemaksiatan, maka tiada artinya berpuasa jika hanya sekedar memindahkan jadwal makan dan minum tanpa melatih diri untuk menahan hawa nafsu.

Maka mengapa puasa yang baik dan benar dapat membentuk pribadi yang tangguh?

1. Karena kualitas puasa seseorang tergantung dari kualitas keimanannya, maka jika ia benar-benar beriman dan ihtisab (mengharapkan pahala) karena Allah subhanahu wata'ala maka puasanya akan berkualitas, sebagaimana dalam hadits: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan Iman dan Ihtisab maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Karena puasa merupakan latihan menahan hawa nafsu dan menjauhi maksiat, maka barang siapa yang berpuasa tidak meninggalkan kemaksiatan pupuslah pahala puasanya, berdasarkan hadits : “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah subhanahu wata'ala tidak butuh dengan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari)

3. Karena puasa merupakan benteng yang membentengi seseorang dari godaan setan, maka hendaklah saat berpuasa kita benar-benar menjauhi godaannya, berdasarkan hadits: “Puasa itu adalah benteng bagimu, maka saat hari engkau berpuasa jangan berkata-kata tidak senonoh dan berbuat dosa..” (HR Bukhari)

4. Karena puasa merupakan latihan disiplin dan kesabaran, maka saat berpuasa hendaklah kita benar-benar berusaha untuk bersabar, berdasarkan hadits : “Dan jika ada yang memakinya atau mengajak berkelahi maka katakan : Aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Karena puasa merupakan sarana menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama, maka hendaklah saat berpuasa kita bersungguh-sungguh untuk berbuat kebaikan pada orang lain dan bersikap dermawan, berdasarkan hadits: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu manusia yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi jika sedang di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Karena puasa merupakan waktu interaksi yang sangat intens dengan Kalamullah (Al-Qur'an), maka saat bulan Ramadhan hendaklah berusaha untuk bersungguh-sungguh untuk membaca, menghafal, merenungkan dan mengamalkan Al-Qur’an, berdasarkan hadits: Dan adalah Jibril alaihis salam selalu datang setiap malam di bulan Ramadhan mengajari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Qur’an. (HR. Bukhari dan
Muslim)

7. Karena puasa merupakan waktu berdzikir sebanyakbanyaknya, maka saat bulan Ramadhan hendaklah memperbanyak berbagai dzikir yang shahih dan disyariatkan, berdasarkan hadits: “Dan agar kalian membesarkan nama Allah sebagaimana yang diajarkan..” [QS Al-Baqarah/2: 185]

8. Karena puasa merupakan waktu untuk berdoa, maka saat berpuasa hendaklah kita memperbanyak doa dan istighfar, berdasarkan ayat yang berkaitan dengan Ramadhan : “Dan jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka katakanlah Aku dekat..” [QS. Al-Baqarah/2: 186]

9. Karena puasa merupakan sarana untuk meningkatkan rasa syukur akan nikmat-Nya kepada kita, sebagaimana hikmah berpuasa yang dijelaskan dalam Al-Qur’an : “Dan agar kalian semua bersyukur..” [QS. Al Baqarah/2: 185]. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.