Oleh : Prof. Dr. KH. Muammar Bakry, Lc., MA
(Imam Besar Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar dan
Sekretaris Umum MUI Sulawesi Selatan)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah Jumat Masjid Istiqlal rahimakumullah. Survei 2021 yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan menyatakan bahwa tingkat daya saing tenaga kerja di Indonesia masih kalah dibandingkan negara-negara lainnya, tingkat daya saing tenaga kerja Indonesia berada di posisi 37 dari 60 negara.
Kita maklum bahwa populasi terbesar muslim di dunia adalah Indonesia yang mencapai 87% sekitar 278 juta orang. Artinya, muslim di Indonesia menjadi representatif sebagai sample utama dalam menggambarkan tentang Indonesia, termasuk dalam hal etos kerja. Dengan kata lain, jika Indonesia berada pada posisi menggembirakan dalam survei indeks prestasi dunia maka umat Islam yang punya peran aktif bagi Indonesia, demikian pula sebaliknya.
Jika demikian, mana letak masalahnya? Apakah karena umat Islam konsisten dengan pengamalan agamanya atau tidak? Mari kita mencoba melihat konsep etos kerja dalam Islam. Bagaimana kiat menjadi hamba yang beretos kerja tinggi.
Berangkat dari ayat 30 Qur'an Surat al-Baqarah, bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi".
Makna “khalifah” yang berarti berperan setelahnya dengan menggantikan atau melanjutkan posisinya. Bumi hanya dapat dimakmurkan oleh manusia yang mendapat tugas sebagai khalifah, sekalipun potensi kerusakan bumi datangnya juga dari ulah tangan manusia.
Regenerasi dan sustainabilty kehidupan bumi dan mengatur kemaslahatan manusia dan lingkungannya adalah implementasi dari peran khalifah yang diemban oleh makhluk manusia bukan makhluk lainnya seperti malaikat, jin, dan lainnya.
Inilah akumulasi ibadah yang sifatnya opsional yang menjadi pilihan manusia secara sadar dalam mengemban amanah yang diberikan padanya, tak ada makhluk yang dapat memikulnya kecuali manusia yang disinyalir dalam al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 72, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh." (Al-Aḥzāb [33]:72)
Allah subhanahu wata'ala menilai aktifitas manusia sebagai pengabdian kepada-Nya, manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Dalam Batasan itulah manusia diberikan kehidupan yang layak sebagaimana terdapat dalam Qur’an Surah al-Nahl ayat 97, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik421) dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. An-Naḥl [16]:97)
Islam juga menghargai pekerjaan manusia dengan konversi penghapusan dosa sebagaimana hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah:
Artinya : “Rasulllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; ada dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan salat, puasa, haji maupun umrah, sahabat bertanya, lalu apa yang dapat menghapuskannya? Rasulullah menjawab semangat dalam mencari rezeki” (HR. Thabrani).
Kenapa demikian? karena bekerja mencari rezeki adalah hal yang dapat memastikan keberlanjutan hidup manusia di dunia. Dengan jaminan kehidupan, maka agama serta kebaikan-kebaikan lainnya dapat diamalkan. Hilangnya dan meralatnya kehidupan dunia kita akan mempengaruhi pengamalan agama dengan baik dan maksimal.
Memaksimalkan usaha lalu menyerahkan diri kepada Allah adalah implementasi tawakkal. Malas bergerak (mager) hanya menanti nasib ketentuan Tuhan dinamai “tawakul bukan tawakkal”. Tak ada makanan yang terbaik kecuali makanan yang diperoleh dari tangan sendiri, demikian hadis Nabi seperti di bawah ini :
Artinya : “Dari Aisyah radhiallahu anha, siapa yang kerja hingga larut, dia akan mendapat ampunan dari Allah” (HR. Thabrani)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memandang tangan yang melepuh karena kerja kerasnya dengan menciumnya, dan berkata bahwa tangan ini Allah dan Rasulullah amat sayangi. Demikian pula Imam Ali radhiallahu anhu berkata :
Artinya : “Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan lelah mencari rezki halal, maka Allah ridha kepadanya”.
Bekerja dalam pandangan Islam adalah berkinerja secara produktif. Bekerja tuntas dan meyakinkan, bekerja secara professional, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Ibn Umar;
Artinya : Ibnu Umar radhiallahu anhu berkata: “Sesungguhnya Allah mencintai orang mukmin yang bekerja secara profesioinal”
Jamaah Jumat Masjid Istiqlal rahimakumullah
Inilah salah satu arti khalifah sebagai keberlanjutan dari generasi ke generasi berikutnya untuk sebuah tugas dan pekerjaan dalam memakmurkan alam semesta. Dari penjelasan ini, maka kiat utama meningkatkan etos kerja adalah menyadari sepenuhnya bahwa bekerja adalah ibadah, bekerja adalah amanah, bekerja adalah adalah panggilan dan aktualisasi diri sebagai khalifah.
Selain makna yang sifatnya horizontal, juga dapat dimaknai khalifah sebagai fungsi-fungsi vertikal. Bahwa khalifah bermakna mengganti dan mewakili Tuhan untuk memakmurkan alam. Apapun kegiatan yang positif dilakukan oleh manusia hakikatanya perpanjangan "Tangan Tuhan" dalam memakmurkan alam.
Manusia punya potensi dalam mengimplementasikan Sifat-sifat dan Nama-nama Allah yang Indah (Asmaul Husna). Manusia yang gemar memberi adalah wujud nama Tuhan Al-kariim, Ar-razzaq, Ajawwad dan seterusnya.
Manusia yang senang mengajar ilmu pengetahuan seperti profesi guru, dosen, instruktur, motivator adalah implementasi dari Nama Allah ‘Al-Alim; Manusia yang gemar merawat, menata, mengatur, mengelola, memenej lingkungan dan pekerjaannya adalah implementasi dari nama Tuhan Rabbul alamin, Mudabbir, dan seterusnya.
Bertani bagi petani misalnya adalah pekerjaan yang mulia sebagai penyedia pangan untuk masyarakat, merupakan pekerjaan yang diberikan oleh orang tertentu sebagai karunia Allah kepada orang yang memilih sebagai petani. Mereka wakil Tuhan memberikan kehidupan bagi umat manusia. Al-Qur’an Surah al-Waqi’ah ayat 64, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ
Artinya: "Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkan?" (Al-Wāqi‘ah [56]:64)
Allah subhanahu wata'ala menggunakan tangan petani untuk menanam tumbuhan yang bisa bermanfaat bagi kehidupan makhluk.
Jadi, petani mewakili Tuhan dalam urusan pangan, Allah subhanahu wata'ala menitipkan sebagian rahmat-Nya kepada petani untuk bercocok tanam. Demikian seterusnya, semua pekerjaan yang bermanfaat bagi kehidupan hakikatnya mandataris Tuhan di muka bumi ini.
Sebaliknya jika kegiatan yang mengarah pada pengrusakan dan dosa adalah perwakilan setan di muka bumi ini. Dengan demikian, kiat yang kedua yang dapat meningkatkan etos kerja kita adalah menyadari sepenuhnya bahwa apapun yang kita lakukan untuk kebaikan dan perbaikan adalah rahmat Allah yang dititipkan kepada manusia.
Menjadi manusia pilihan Tuhan bagi kemaslahatan alam, mereka adalah agen rahmatan lil alamin. Ma’asyiral muslimin jamaah yang berbahagia Perintah “bekerja” atau biasa popular dengan istilah “Beramal” adalah hal yang mendapatkan perhatian sangat besar dalam ajaran Islam.
Artinya seorang muslim yang mengamalkan agamanya dengan benar adalah muslim yang memaksimalkan kerja-kerjanya yang produktif untuk dirinya dan orang lain, untuk kehidupan dunianya dan akhiratnya.
Bekerja adalah cara untuk memperoleh kemuliaan dan kehormatan dari Allah dan rasul-Nya. Kelak akan dibanggakan di hari akhirat. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.