Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Dinamika Dakwah Islam di Tengah Kemajemukan

Admin 12 Mar 2022 Warta Istiqlal

Oleh: Dr.H. Das'ad Latif, S.Sos, S.Ag, M.Si, Ph.D

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puji syukur kehadirat Allah subhanahu wata'ala yang senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayahNya agar manusia mampu menjadi khalifah di muka bumi sekaligus menjadikan seluruh aktivitas kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Amin!

Begitu pula shalawat dan taslim kita kirimkan kepada junjungan Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, nabi yang diutus oleh Allah SWT sebagai suri teladan contoh yang baik dalam hidup ini. Nabi yang telah menyatakan dalam salah satu sabdanya bahwa seluruh umatku akan masuk ke dalam syurga kecuali yang tidak mau masuk ke dalamnya.

Lalu para sahabat bertanya siapa yang tidak mau masuk ya Rasulullah? Maka Rasulullah SAW pun menjawab, “man ‘athaany dakhalal jannah wa man ‘ashaany fahuwa abaa” siapa yang taat kepadaku maka mereka akan masuk ke dalam syurga dan siapa yang durhaka kepadaku mereka itulah yang tidak mau masuk ke dalamnya.

Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah SWT.

Akhir-akhir ini Agama Islam sebagai Rahmatan Lil-Alamin khususnya di Indonesia diuji dengan berbagai image negatif, terutama berkaitan dengan intoleransi, kekerasan dan terorisme. Hal itu terkait dengan berbagai peledakan bom bunuh diri yang terjadi di negara ini, mulai dari bom Bali sampai bom Makassar yang didalangi oleh mereka yang mengkalim diri sebagai Islam sejati yang memaknai jihad dalam arti sempit.

Terbangunnya image negatif yang menyudutkan agama Islam tersebut seharusnya menyadarkan kita semua untuk kembali mengintrospeksi diri dan mengkaji kembali adakah yang salah dalam cara kita berislam, sehingga Rahmatan-Lilalamin hanya sebatas slogan yang tidak dapat dinikmati oleh orang Islam sendiri, apalagi mereka yang ada di sekeliling kita.

Sebagai ummat Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam, sepantasnyalah kita berkiblat pada apa yang dilakukan beliau yang telah sukses membangun masyarakat berperadaban yang disebut dengan “Masyarakat Madani” yang oleh Robert N. Bellah (tokoh sosiolog agama) dalam bukunya Beyond Belef mengklaimnya sebagai masyarakat yang sangat modern.

Adapun yang dicirikan dengan keadilan, keterbukaan dan demokratis, sehingga siapapun yang hidup di dalamnya, dari golongan dan agama apapun yang mereka anut senantiasa merasakan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan. Keberhasilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membangun masyarakat madani tidak terlepas dari paradigma pembangunan masyarakat yang diterapkannya yang mengedepankan semangat rabbani atau berlandaskan ketaqwaan kepada Allah subhanahu wata'ala.

Apa yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. al-Hujurat ayat 13:

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa salah satu indikator orang yang bertaqwa adalah mereka yang menjunjung tinggi toleransi dan persamaan hak, serta senantiasa membangun ukhuwah bukan hanya kepada mereka yang beragama Islam tetapi juga kepada mereka yang menganut agama selain Islam.

Perilaku yang indah seperti inilah yang dipertontonkan oleh masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal tersebut menunjukkan betapa masyarakat yang dibangun dengan semangat taqwa (semangat rabbani) tidak identik dengan keterbelakangan.

Hadirin Jama’ah Jumat rahimakumullah.

Dalam konteks pembangunan masyarakat Indonesia, membumikan nilai-nilai taqwa dalam pembangunan sebuah masyarakat, akan menumbuhkan produktivitas dalam segala bidang pembangunan. Hal itu disebabkan masyarakat bertaqwa menempatkan rasa keadilan, persamaan hak, dan ukhuwah sebagai pilar utama yang menopang kedamaian dan kesejahteraan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membangun masyarakat Madinah.

Keutamaan masyarakat yang dibangun dengan semangat rabbani atau dengan nilai-nilai taqwa, bukan hanya karena rahmat Allah SWT yang senantisa diturunkan kepada masyarakat yang bertaqwa, Akan tetapi lebih dari itu, Allah SWT juga menunda bala bencana terhadap negeri, yang didalamnya ditegakkan ajaran Allah SWT, seperti ditegaskan dalam QS. al-Anfal ayat 33, yang artinya:

Artinya: "Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka, dan tidak pula Allah mengazab mereka sedang mereka meminta ampun." (QS. al-Anfal ayat 33)

Sekalipun kata dalam ayat tersebut, dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi dalam konteks kekinian, bermuara pada ajaran yang dibawa oleh beliau. Dengan kata lain, Allah SWT tidak akan menurunkan azab pada daerah yang di dalamnya ditegakkan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan sebaliknya, Allah SWT menjanjikan rahmatnya kepada masyarakat yang senantiasa bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala. Seperti firman Allah SWT dalam QS. al-A’raf ayat 96, yang artinya:

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.”

Hampir setiap hari kita menyaksikan berita tentang musibah yang menimpa saudara-saudara kita, baik itu konflik horisontal maupun bencana alam. Boleh jadi musibah itu ditimpahkan kepada saudara-saudara kita, tetapi sesungguhnya merupakan pelajaran bagi semua yang menyaksikannya, betapa ketika Allah SWT memperlihatkan kekuasaannya, manusia tidak mampu berbuat apa-apa.

Oleh karena itu cukuplah semuanya hanya menjadi berita bagi kita, mari kita membentengi kemurkaan Allah SWT dengan berupaya membumikan nilai-nilai taqwa dalam masyarakat Indonesia yang kita cintai ini. Ingatlah Di dalam al-Qur'an tidak ada satu ayat pun yang mengkaitkan kesuburan dengan kemakmuran.

Artinya negeri yang subur tidak otomatis rakyatnya akan menjadi makmur. Bahkan kesuburan akan menjadi malapetaka kalau disertai dengan kekufuran terhadap nikmat Allah subhanahu wata'ala. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT pada QS. an-Nahl ayat 112, yang artinya:

Artinya: "Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; oleh karena itu Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebebabkan apa yang telah mereka perbuat."

Hadirin jama’ah Jumat rahimakumullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menginginkan agar umat Islam saling menguatkan satu sama lain, bahkan merasakan apa yang dirasakan saudara kita dapat terwujud.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang Mukmin dengan orang mukmin yang lain bagaikan satu bangunan saling menguatkan satu sama lain” (HR. Shahih Muslim)

Persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kebersamaan selalu diidamkan kehadirannya, selalu didambakan perwujudannya di antara sesama umat manusia, dan umat beragama, terutama sekali umat Islam, haruslah menjadi pelopornya yang pertama dan utama.

Persatuan dan persaudaraan dibutuhkan dalam suka dan duka, didambakan dalam senang dan susah. Tetapi persatuan dan persaudaraan yang sejati akan lebih dibutuhkan lagi dalam keadaan susah dan duka, dan dalam suasana yang terakhir inilah akan terlihat kesejatian dan kemurnian dari persatuan dan persaudaraan itu.

Ketika kita dalam senang dan gembira, ketika kita sedang berada di singgasana kesuksesan, begitu mudah mencari teman dan saudara. Tetapi di kala kita dalam duka dan derita, ketika kita jatuh terpuruk dalam hina dan nista begitu sulit mencari karib dan keluarga. Sebabnya tidak lain karena manusia sangat sulit melepaskan diri dari kepentingan dan pamrih pribadi, bahkan tidak jarang ada manusia tega membiarkan saudaranya menderita tanpa mengulurkan tangan membantunya meskipun ia berkemampuan dan berkesempatan melakukannya.

Apa yang sering digemborkan sebagai kepedulian sosial atau kesetiakawanan sosial lebih banyak bersifat retorika daripada fakta dan realita. Tentu saja, hal ini tidak berlaku bagi umat Islam yang benarbenar konsisten pada nilai-nilai Islam yang sangat mementingkan aspek-aspek moral dan sosial dari ajaran-ajarannya.

Setiap aspek ajaran Islam pasti mempunyai kaitan langsung maupun tidak langsung dengan aspek moral dan sosial, sehingga istilah hablun minallah dan hablun min al-nas merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam istilah lain, aspek ritual atau peribadatan yang biasanya sangat diutamakan oleh orangorang Islam sesungguhnya mempunyai kaitan yang sangat erat dengan aspek moral dan sosial.

Keber-Islaman yang terfokus hanya pada aspek peribadatan dengan melalaikan aspek sosial dan moral sungguh-sungguh merupakan praktek keagamaan yang masih jauh dari Islami. Bahkan al-Qur’an mengancam orang-orang yang rajin shalat tetapi lalai dalam memperhatikan kaum dhu'afa dan fuqara, termasuk anak-anak yatim, dengan ancaman neraka wayl (api yang sangat dahsyat nyalanya) sebagaimana tercantum dalam QS. al-Ma'un. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.