Oleh : Syeikh Iwad Bin Sibti Al-Inzi
Jakarta, www.istiqlal.or.id - lmu yang paling agung dan peringatan yang paling besar adalah ilmu tentang Allah Subhanahu wa taala, tentang hak-haknya dan tentang nama-nama dan sifat-sifatnya.
هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya : Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS. Al – Hadid [57]: 4).
Maka dari itu, kita sebagai makhluk harus menanamkan di dalam diri ketauhidan yang teridiri dari :
1. Tauhid Asma wa Sifat
Adapun umat Islam ahli sunah wal jamaah, mereka selalu mengimani tentang nama-nama Allah Subhanahu wa taala dan sifat-sifatnya. Dialah Allah yang bersama kita di mana pun kita berada bersama dengan ilmunya, mengetahui apa yang ada di dalam dada-dada kalian dan mengetahui segala yang kita kerjakan. Dan tentunya di sini yang dimaksud dengan kebersamaan Allah adalah kebersamaan dengan ilmunya. Bukan kebersamaan dengan zatnya, tapi kebersamaan yang bermana Allah Subhanahu wa taala mengetahui apa yang mereka lakukan meliputi segala perbuatannya. Dan Allah Subhanahu wa taala telah meliputi segala sesuatu dengan ilmunya.
Disebutkan di dalam Al-Qur'an tujuh sifat, tujuh ayat dari sifat istiwa Allah Subhanahu wa taala. Kita tetapkan dari sifat-sifat ini. Namun bagaimananya? Wallahu ‘a lam. Dialah Allah yang maha mengetahui tentang bagaimananya. Karena itu Imam Malik rahimahullahu taala pernah ditanya tentang sifat istiwa. Bagaimana Allah beristiwa? Kemudian beliau menjawab, "Alistiwa maklum." Istiwa itu dimaklumi. Tapi adapun alkaif bagaimananya itu adalah majhul dan bertanya tentangnya adalah bidah. Dan ini adalah kaidah besar dari kaidah-kaidah memahami sifat-sifat dan nama Allah Subhanahu wa taala.
Dan ada sebuah kaidah di tengah ahli sunah. Siapa yang menghafalnya dan siapa yang mutkin di dalamnya dia akan selamat. Dan kaidah ini adalah ayat Al-Qur'an yaitu firman Allah Subhanahu wa taala.
فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَمِنَ ٱلْأَنْعَٰمِ أَزْوَٰجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya : (Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat (QS. Asy – Syura [42]:11).
Allah tidak serupa dengan suatu apapun. Dan tidak boleh dikatakan bahwa tangannya sama dengan tangan makhluk atau penglihatannya sama dengan penglihatan makhluk. Allah tidak serupa dengan suatu apapun. Dan dialah Allah Subhanahu wa taala yang maha mendengar lagi maha melihat.
2. Tauhid Rububiyah
Jenis tauhid yang kedua dari memurnikan ibadah kepada Allah adalah kita esakan Allah Subhanahu wa taala dalam segala hal yang ditetapkan di dalam Al-Qur'an dan sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan ini yang disebut oleh para ulama dengan nama tauhid rububiyah.
Dialah yang menghidupkan, mematikan, mengatur segala perkara. Dan tidak ada seorang makhluk pun yang menyelisihi hal ini kecuali apa yang disebut dari kesombongan Firaun di dalam beberapa masa. Kemudian setelah itu di akhir hayatnya dia mengakuinya. Kemudian juga disebutkan dari orang majusi yang mengatakan ada yang menciptakan kegelapan, menciptakan cahaya, menciptakan kebaikan dan kejelekan. Tetapi tidak ada seorang makhluk pun yang menyepakati mereka dalam hal itu. Adapun fitrah manusia yang Allah Subhanahu wa taala jadikan mereka di atasnya, maka fitrah itu menetapkan rububiyah Allah Subhanahu wa taala. Sampai kaum musyrikin, mereka juga disebut di dalam Al-Qur'an untuk mengakuinya. Kalau engkau ditanya siapa mereka ditanya siapa yang menciptakan mereka, kaum musyrikin pasti akan menjawab Allah yang menciptakan kami. Demikian pula apabila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi? Maka kaum musyrikin akan menjawab Allah lah yang menciptakannya.
3. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid inilah yang menjadi perdebatan antara para nabi dengan umat-umatnya karena tauhid ini menjadi tahap di mana seorang makhluk melakukan perbuatan, ibadahnya hanya untuk Allah Subhanahu wa taala.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berkata pada orang-orang Makkah, “Berucaplah kalian lailahaillallah maka kalian pasti beruntung”. Namun mereka menolaknya karena mereka paham makna lailahaillallah dan mengerti konsekuensinya. Karena itu jawaban kaum musyrikin disebut di dalam Al-Qur'an.
أَجَعَلَ ٱلْءَالِهَةَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَىْءٌ
عُجَابٌ
Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan (QS. Shad [38]: 5).
Kaum musyrikin mengakui bahwa Allah yang menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan. Bahkan di kondisi genting dan darurat mereka hanya berdoa dan beribadah kepada Allah.
Rasulullah sallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah Subhanahu wa taala yang menciptakan makhluk. Karena itulah di dalam berdoa seorang itu hanya memohon kepada Allah subhanahu wa taala.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS. Al – Baqarah [2]: 186).
Apabila kita telah meyakini tiga hal ini, maka kita sudah mengenal dari tiga tauhid. Kita yakini dengan hati kita, kita ucapkan dengan lisan kita, mewarnai amalan kita dan kita berikan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa taala semata.
لَقَدْ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ ٱلْمَسِيحُ يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّى وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُۥ مَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِ ٱلْجَنَّةَ وَمَأْوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ
Artinya : Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun (QS. Al – Maidah [5]: 72).
Karena itulah seorang makhluk hendaknya apabila ingin amalannya diterima, perhatikan bagaimana ibadahnya hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa taala dan itu akan menyebabkan salatnya, puasanya, dan seluruh amalannya akan diterima oleh Allah subhanahu wa taala. Di samping itu hendaknya selalu mencocokkan segala amalannya di atas sunah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
Artinya : Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada dalam urusan kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR Al-Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintahnya dari kami, maka amal itu tertolak.” (HR Muslim no. 1718) (VITA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.