Oleh: Drs. H. A. Dzulfatah Yasin, M.Ag (Kitab Nashoihud Diniyah-Wal Washoya Al-Imaniyyah)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Saat ini kita berada di bulan Zulhijah termasuk salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan Allah, yaitu Zulkaidah, Muharram dan bulan Rajab. Dua ibadah utama bulan Zulhijah ini adalah kegiatan ibadah haji dan berqurban pada ‘Idul Qurban.
واعلموا معاشر الإخوان - جعلنا الله وإياكم من الذين سبقت لهم منه الحسنى ، ومن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا - : أن الحج إلى بيت الله الحرام أحد مباني الإسلام ، وهو فرض لازم محتوم على كل مسلم مستطيع في العمر مرة وكذلك العمرة .
Ketahuilah, saudaraku, semoga Allah menjadikan kami dan kamu sekalian termasuk orang-orang yang telah lebih dahulu memperoleh kebaikan dari-Nya dan termasuk orang-orang yang berkata, "Tuhan kami ialah Allah," kemudian mereka tetap teguh dalam pendirian mereka, bahwa haji ke Baitullah adalah salah satu rukun Islam dan merupakan kewajiban atas setiap muslim yang mampu sekali seumur hidup, dan demikian pula umrah.
قال الله تعالى : ﴿ وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ﴾ [آل عمران : ٣/ ٩٧]
Artinya: …mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. …. (Ali Imran/3: 97).
Berhaji merupakan bagian dari rukun Islam yang lima,
وقال رسول الله ﷺ : ( بني الإسلام على خمس : شهادة
أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وحج البيت ، وصوم رمضان »
Kewajiban ini dikuatkan hadis Nabi,
وقال عليه الصلاة والسلام : ( من ملك زاداً وراحلة تبلغه إلى بيت الله تعالى ثم لم يحج فلا عليه أن يموت إن شاء يهودياً وإن شاء نصرانياً »
“Barangsiapa yang memiliki bekal dan kendaraan untuk membawanya ke Baitullah, namun tidak menunaikan haji, maka hendaklah dia meninggal dalam keadaan sebagai Nasrani atau Yahudi”
Jadi bab tentang peringatan keras bagi orang yang meninggalkan haji bagi yang sudah mampu. Jadi ketika seseorang sudah diberikan kemampuan untuk melaksanakan haji tapi dia tidak mau melaksanakan maka dikhawatirkan dia akan mati tidak sebagai seorang beriman.
وفي هذا نهاية التشديد على من يترك الحج مع الاستطاعة فلا ينبغي للمؤمن أن يؤخر ويتكاسل ويسوف ، ويتعلل بالأعذار من سنة إلى سنة ، وهو مع ذلك مستطيع ، وما يدريه لعل الموت ينزل به ، أو تذهب استطاعته ؛ وقد استقر الحج في ذمته لتمكنه منه فيلقى الله تعالى عاصياً آثماً !
Ini adalah ancaman bagi orang yang tidak mau melaksanakan haji padahal dia mampu ya secara finansial secara apapun dia mampu. Maka tidak pantas tidak layak ya bagi seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat menunda-menunda, bermalas-malasan, mengakhir-akhirkannya dan selalu beralasan dari tahun ke tahun padahal dia mampu. Dia tidak
tahu bisa jadi kematian akan merenggut nyawanya atau hilang kemampuannya (bisa jadi dia bangkrut atau ditipu orang atau bagaimanapun jalannya), maka orang semacam ini kalau ajalnya sampai berarti dia berjumpa kepada Allah dalam keadaan bermaksiat, membawa dosa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Yang dimaksud dengan istitha’ah adalah kemampuan seseorang melakukan sesuatu, jika dia kehendaki bisa mengerjakan atau dia tidak kehendaki maka bisa meninggalkan.
والاستطاعة أن يملك الإنسان ما يحتاج إليه في سفره إلى الحج ذهاباً ورجوعاً من زاد ومركوب ، وما في معنى ذلك مما لا بد له منه ، ونفقة من تلزمه نفقته من الأولاد والأزواج ونحوهم إلى وقت رجوعه.
Kemampuan seseorang melakukan sesuatu, jika dia kehendaki bisa atau dia tidak kehendaki maka bisa.
Yang dimaksud dengan mampu adalah terpenuhinya segala keperluan bagi seseorang dalam melaksanakan haji, baik pergi maupun pulang, berupa bekal, alat transportasi, dan lain-lain yang menyerupai keperluannya, serta biaya-biaya orang-orang yang wajib dibiayainya, seperti anak-anak, istri-istri, dan lain-lain, hingga ia kembali ke tanah air.
Seseorang baru wajib menunaikan haji jika mampu tidak mampu, tidak boleh dipaksakan Bagi orang yangtidak mampu karena sakit atau karena tidak ada bekal yang cukup maka gugurlah kewajiban haji baginya.
وتختلف الاستطاعة باختلاف الناس ، وباختلاف الأماكن في القرب والبعد ومن تكلف الحج شوقاً إلى بيت الله الحرام ، وحرصاً على إقامة هذه الفريضة من دين الله وليس بمستطيع من كل الوجوه فإيمانه أكمل ، وثوابه أعظم وأجزل ؛ ولكن بشرط أن لا يضيع بسبب ذلك شيئاً من حقوق الله تعالى لا في سفره ولا في وطنه ، وإلا كان آثماً وفي حرج ، مثل أن يسافر ويترك مَن فَرَضَ الله تعالى عليه نفقتهم ضائعين لا شيء لهم ، أو يكون في سفره متكلاً على مسألة الناس ، مشغول
القلب بالتشوف إليهم، أو يضيع بسبب السفر شيئاً من الصلوات المكتوبات ، أو يقع في شيء من المحرمات ؛ فمثل من يسافر إلى الحج على هذا الوجه وقد وسع الله له في الترك حيث لم يكن مستطيعاً مثل من يعمر قصراً ، ويهدم مصراً .
Kemampuan bervariasi dari orang ke orang, dan dari tempat ke tempat dalam hal kedekatan dan jarak. Barangsiapa yang melaksanakan haji karena kangen Baitullah dan kerinduan untuk melaksanakan kewajiban agama Allah ini, namun tidak mampu dalam segala hal, maka lebih sempurna imannya dan lebih besar pahalanya. Akan tetapi dengan syarat, jangan sampai ia menyia-nyiakan sedikit pun hak Allah SWT karenanya, baik di perjalanannya maupun di tanah kelahirannya. Jika tidak demikian, maka dia berdosa dan tertimpa kesulitan. Seperti bepergian dan meninggalkan orang yang Allah wajibkan rezekinya dalam keadaan tersesat dan tidak memiliki apa-apa, atau menggantungkan hidup pada permintaan orang lain selama dalam perjalanan, kesibukan, dan sebagainya. Hatinya merindukannya, atau ia tertinggal sebagian shalat wajib karena safar, atau terjerumus pada sesuatu yang terlarang; Perumpamaan orang yang melakukan haji dengan cara demikian, kemudian Allah memberikan kemampuan kepadanya untuk meninggalkannya padahal ia tidak mampu, adalah seperti orang yang membangun istana dan merobohkan kotanya.
Jika orang memaksakan diri padahal dia belum mampu dan Allah belum mewajibkan karena dia tidak punya syarat Istitha’ah, maka orang semacam ini memaksakan diri lalu dia meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harusnya dia tunaikan, baik kewajiban kepada Allah ataupun kewajiban kepada hak manusia, ini diumpamakan bagaikan orang yang membangun sebuah istana tetapi menghancurkan sebuah kota. Apa gunanya membangun istana tapi kota yang ada hancur.
Siapaun yang belum berkesempatan berhaji agar berniat dengan kuat disertai usaha dan doa dengan penuh keyakinan. Suatu saat bila terus memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka Allah akan memberikan jalan, apapun jalannya. Bagaimana kesungguhan kita memohon kepada Allah, dibuktikan dengan usaha, doa dan usaha, bukan sekedar doa , namun usaha yang disertai dengan doa.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.