Oleh: KH. Mas'ud Halimin (Pembahasan kitab Al Adab Al-Mufrad)
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pembahasan ini kita adalah lanjutkan bacaan kita tentang Kitab al-adab al-Mufrad yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari, kumpulan tentang hadis hadis adab dari Rasulullah Sallallahu ’Alaihi Wasallam.
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ سَلَمَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ سَعِيدٍ الْقَيْسِيِّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَا مِنْ مُسْلِمٍ لَهُ وَالِدَانِ مُسْلِمَانِ يُصْبِحُ إِلَيْهِمَا مُحْتَسِبًا، إِلاَّ فَتْحَ لَهُ اللَّهُ بَابَيْنِ يَعْنِي: مِنَ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ وَاحِدًا فَوَاحِدٌ، وَإِنْ أَغْضَبَ أَحَدَهُمَا لَمْ يَرْضَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى يَرْضَى عَنْهُ، قِيلَ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ؟ قَالَ: وَإِنْ ظَلَمَاهُ.
Ḥajjāj menyampaikan kepada kami dengan mengatakan: Ḥammād – lebih dikenal dengan nama Ibnu Salamah – menyampaikan kepada kami dari Sulaimān At-Taimī dari Sa‘īd Al Qaisī dari Ibnu ‘Abbās dia berkata: “Tidaklah seorang muslim mempunyai dua orang tua yang muslim, di waktu pagi (61) dia pada mereka berdua dengan mengharap ridha Allah, melainkan Allah bukakan (baginya) dua pintu – maksudnya pintu surga – Jika (orang tuanya) hanya satu, maka (pintu yang dibuka) juga satu. Jika dia membuat murka salah satunya, maka Allah tidak ridha kepadanya sampai orang tuanya itu ridhai kepadanya.” Ada yang bertanya: “Meskipun kedua orang tuanya menzhaliminya?’ Ibnu ‘Abbās menjawab: ‘Meskipun mereka berdua menzhaliminya”.”
Yang bisa kita tangkap pesan dari hadis ini, orang tua adalah wasiat Allah kepada kita “Kami wasiatkan kedua orang tuanya kepada setiap anak.” Orang tua adalah wasiat Allah kepada kita, maka berbuat baik kepada orang tua adalah sebuah kemestian bukan hanya sebuah kewajiban.
Tidak ada jalan tidak bagi seorang anak untuk berlaku tidak baik terhadap orang tuanya bahkan ketika orang tuanya itu berlaku aniaya, berbuat sesuatu yang tidak disenangi anak.
Sebuah komentar mengenai QS-Al-Isra/17: 24:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.”
Tundukkanlah atau itu rangkul lah kedua orang tuamu itu dengan penuh kasih sayang. Tundukkan segala badan kita diri kita di hadapan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang.
Jangan mengurangi atau mencegah dari sesuatu yang disukai oleh orang-tua, kita lakukan apa yang orang tua, maka itu bagian dari memberikan kasih sayang kepada orang-tua.
Dalam Surah Luqman:
﴿وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا....
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik… QS/ Lukman/31: 15.
Jika kedua orang tuamu memaksa, meminta dengan keras agar kamu mengikuti perilaku untuk mempersekutukan Allah atau meminta untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agama, maka jangan ikuti apa yang mereka minta. Tidak boleh atas nama berbakti kepada orang tua lantas mengikuti apa yang bertentangan dengan ajaran agama. Tetapi Allah masih memberikan batasan washahibhuma Fid dunya ma'rufan tetaplah memperlakukan kedua orang tuamu itu dengan cara yang makruf. Makruf adalah kebaikan yang bersifat lokal apa yang dipahami dalam lingkup sebuah wilayah budaya. Perlakukan orang-tua dengan baik sesuai dengan nilai-nilai kebaikan di mana kita dengan orang tua berada. Meskipun keduanya meminta untuk melakukan keburukan bahkan kemusyrikan kita tetap diminta oleh Allah untuk memperlakukan keduanya dengan cara yang baik.
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لاَ يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ، إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ.
Menceriritakan pada kami Qabidhah berkata: menceritakan kepada kami Sufyan dari Suhail dari Abu Shalih dari Bapaknya, dari Abu Hurairah dadr Nabi Sallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda: Seorang anak tidak akan pernah bisa membalas apa yang pernah diberikan oleh orang tuanya kecuali seorang menemukan mendapati orang tuanya itu sebagai budak budakarahu lalu dia membeli orang tuanya itu dari tuannyaahu lalu dia membebaskannya.
Anak bisa dianggap sudah menebus kebaikan orang tuanya kalau dia menemukan mendapati orang tuanya itu sebagai budak, ini konteksnya pada masa lalu. Dalam dalam konsep perdagangan budak yang membeli budak menjadi pemiliknya. Dua hal yang ingin disampaikan oleh Nabi Sallallahu ’Alaihi Wasallam seorang anak bisa dianggap sudah membalas apa yang diberikan orang tuanya kalau dia mendapati orang tuanya menjadi budak orang lain, lalu dia beli dan dia bebaskan dari orang itu. Tetapi setelah dia beli, dia bebaskan orang tuanya dan tidak lagi menjadi budak bagi dirinya. Pada masa kini tidak ada peluang bagi kita untuk membalas dengan cara ini karena sudah tidak ada perbudakan.
Ibnu Umar pernah melihat seorang laki-laki Yaman melakukan tawaf di Makkah
sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya, kemudian dia berkata kepada Ibnu Umar,” apakah menurutmu dengan cara ini saya sudah membalas budi ibu saya ?”
Ibnu Umar menjawab, ” bahkan tidak sehembusan nafas ibumu pun terbalas dengan apa yang kamu lakukan sekarang.”
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟ ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْتُ: لَيْتَهُ سَكَتَ.
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Bisyir bin Al Mufadhdhol] telah menceritakan kepada kami [Al Jurairiy] dari ['Abdurrahman bin Abi Bakrah] dari [bapaknya radliallahu 'anhu] berkata; Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata: "Apakah kalian mau aku beritahu dosa besar yang paling besar?" Beliau menyatakannya tiga kali. Mereka menjawab: "Mau, wahai Rasulullah". Maka Beliau bersabda: "Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua". Lalu Beliau duduk dari sebelumnya berbaring kemudian melanjutkan sabdanya: "Ketahuilah, juga ucapan keji (curang) ". Dia berkata: "Beliau terus saja mengatakannya berulang-ulang hingga kami mengatakannya ' Duh sekiranya Beliau diam". Dan berkata, [Isma'il bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami [Al Jurairiy] dari ['Abdurrahman].
Pertama, Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang masih melakukan kemusyrikan. Tetapi kalau dia Insaf dia sadar dari kemusyrikannya lalu bertobat lalu kemudian melakukan ketauhidan maka Allah akan memaafkannya. Kedua durhaka terhadap kedua orang tu. Lalu yang tadinya Nabi duduk bersandar lalu menegakkan punggungnya dan menyebutkan yang ketiga yaitu qaul zȗr, kalimat dusta yang dimaksudkan untuk menipu orang lain. Nabi mengulang-ulang perkataan itu tentang tiga dosa yang paling besar itu sampai-sampai para sahabat merasa tidak nyaman.
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُهَيْلٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبْرِ، أَوْ أَحَدَهُمَا، فَدَخَلَ النَّارَ.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Celaka, celaka, celaka." Mereka bertanya, “ Siapa ya Rasulullah ?” Beliau bersabda, “Orang yang masih mendapati kedua orang-tuanya atau salah satu di antara mereka pada masa tuanya, dan (masih) masuk neraka.”
Kalau ada orang masih mendapati kedua orang tuanya di saat dia dewasa, orang tuanya
masih hidup bersama dengannya, ternyata dia tidak mampu mendapatkan surga, malah masuk neraka, maka orang itu celaka. Artinya orang ini benar-benar tidak mampu menjadikan orang tuanya itu sebagai ladang bagi dia untuk masuk ke dalam surga. Berarti orang ini memperlakukan orang tuanya sangat tidak baik atau bahkan mungkin tidak mampu berbuat baik kepada orang tuanya. Beberapa hadis ini sebagai peringatan dan pelajaran buat kita semua. Siapapun yang masih mendapati kedua orang-tuanya masih hidup, perlakukan mereka dengan baik meskipun orang-tua berlaku kurang baik terhadapnya, karena Allah meminta kita untuk berbuat baik kepada keduanya atau salah satu di antara keduanya.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.