Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Subuh Istiqlal: 3 Tips Agar Perniagaan dengan Allah Sukses Dunia Akhirat

Admin 06 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: H. Mubarak, M.Sc
 

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Orang-orang yang senantiasa membaca Kitab Allah, melaksanakan salat, lalu menginfakkan hartanya adalah mereka yang berharap agar perniagaannya tidak merugi. Jika kita padankan dengan perniagaan yang dilakukan di dunia, tentu kita mengharapkan perdagangan yang tidak menghasilkan kerugian. Karenanya, dalam berniaga kita akan selalu memperhitungkan berbagai hal.

Misalnya, apa yang didagangkan, siapa pasarnya, di mana akan berdagang, bagaimana menentukan harga, dan seterusnya. Hal tersebut harus diperhitungkan dengan cermat, agar dalam berdagang kita tidak merugi, dan justru mendatangkan keuntungan yang berlimpah.

Allah SWT menggambarkan bahwa ibadah yang kita lakukan selayaknya berniaga yang jangan sampai mendatangkan kerugian. Melainkan harus terus menguntungkan.

Untung artinya kita bisa memetik hasil perniagaan kita berupa hikmah yaitu rahmat dan syurga Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah Dia janjikan pada hari akhir.

Dalam perniagaan, Allah SWT memerintahkan 3 hal agar kita tidak merugi, di antaranya:

1. Baca Kitabullah

Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur'an:

…يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ…
Artinya: "...membaca kitab Allah.” (Q.S Al-Fatir: [35]:29)

Jika berniaga dengan mengamalkan ayat Al-Qur’an, maka perniagaan kita di dunia ini tidak akan merugi. Al-Qur’an adalah kalam Allah, firman Allah, yang berisi petunjuk untuk manusia agar menjalani kehidupan dengan baik.

Al-Qur’an dinyatakan sebagai petunjuk bagi hamba-Nya yang bertakwa, 

…هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “...petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”  (Q.S Al-Baqarah: [2]:2)

Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:

مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Artinya: “Barang siapa yang ingin bertemu dengan Allah, dia harus memuliakan keluarganya Allah.” (Q.S Al-Ankabut: [29]:5)

Begitupun disebutkan dalam hadis Nabi SAW:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ” قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟
قَالَ: “هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ”

Artinya: “Dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai banyak ahli (keluarga) dari kalangan manusia”. Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau bersabda: “Ahli Qur`an adalah ahli Allah dan orang-orang khusus-Nya.” (HR. Ibnu Majah)

Jika menjadi keluarganya Allah SWT, tentu akan mendapatkan fasilitas yang luar biasa dari-Nya. Namanya saja keluarga, pastilah kita akan menjadi sangat dekat dengan Allah. Oleh karenanya, tentu banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan di hari akhir nanti.

Membaca dan mempelajari Al-Qur’an juga memiliki nilai yang luar biasa karena merupakan ibadah yang sangat utama, yang dapat mendatangkan limpahan pahala . Rasulullah SAW bersabda: 

ن قرأ حرفًا من كتابِ اللهِ فله به حسنةٌ والحسنةُ بعشرِ أمثالِها، لا أقولُ ألم حرفٌ، ولكن ألفٌ حرفٌ، ولامٌ حرفٌ، وميمٌ حرفٌ

Artinya: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan membaca tersebut. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan di setiap satu huruf: akan tetapi Alif satu huruf, lam satu. Aku tidak mengatakan bahwa (yang dimaksud huruf) berarti Mim (dimaknai) satu huruf.”

Al-Qur'an adalah ibadah utama yang memiliki posisi yang utama. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh an-Nu‘man ibn Basyir: 
 
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ  

Artinya: Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baiknya ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.” (HR. al-Baihaqi).

Al-Qur'an adalah ibadah yang diutamakan. Maka, berniaga dengan membaca serta mengamalkan Al-Qur'an pastilah tidak akan merugi. Dengan membaca Al-Qur’an, kita akan mendapatkan pahala dari Allah SWT yang bisa kita petik nanti di Yaumul Qiyamah. Rasulullah SAW bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَه

Artinya: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim).

Ketenangan dalam hidup, rahmat, serta kebahagiaan akan kita peroleh dari Allah SWT sebab rahmat-Nya adalah sesuatu yang luar biasa karena meliputi segala kebutuhan kita.

Rasulullah SAW. bersabda:

لا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللهِ

Artinya: “Tidak ada amalan seorang pun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR Muslim).

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa seseorang masuk surga ataupun terbebas dari neraka bukan karena ibadahnya, melainkan karena rahmat Allah SWT. Kemudian, kita juga akan dikerumuni oleh malaikat, dan Allah akan menyebut-nyebut nama bagi yang senantiasa membaca Al-Qur'an di depan umat, di depan siapa saja nanti di hari kiamat.

Hendaknya, Al-Qur'an menjadi kegemaran untuk dibaca, karena Al-Qur'an akan menjadi sesuatu yang akan bisa kita petik keuntungannya nanti di akhirat.

2. Tunaikan Shalat

Perniagaan yang tak akan merugi selanjutnya adalah mengerjakan shalat. Saat kita menghadap Allah SWT di kala subuh, zuhur, asar, magrib, dan isya adalah wujud penghambaan diri kita kepada Allah.

Oleh karena itu shalat adalah satu implementasi dari penghambaan diri kita kepada Allah serta pengakuan kita terhadap keagungan-Nya.

Karena itu, salat menjadi kewajiban. Barangsiapa yang mengaku Islam, maka dirinya wajib salat. Jika dia tidak salat, maka kita menjadi kafir.

Rasulullah bersabda:

عَنْ جَابِرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Artinya: Dari Jabir, dia berkata: Aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan syirik dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa shalat harus diperhatikan, sebab shalat adalah pembatas antar seorang muslim dan orang kafir.

3. Menginfakkan Sebagian Harta

Kemudian yang ketiga, yaitu menginfakkan sebagian dari hartanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Berinfak atau berbagi rezeki merupakan cerminan pengakuan bahwa rezeki adalah pemberian dari Allah.

Jika hendak berinfak, artinya kita mengakui bahwa rezeki tersebut bukan buatan kita sendiri, tetapi itu adalah pemberian Allah. Maka, berbagilah dengan orang-orang lain yang berhak dibagi.

Banyak sekali hadis yang menyebutkan bahwa berbagi rezeki menjadi persyaratan yang harus kita penuhi untuk meraih surga Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ketiga hal tersebut harus diperniagakan di kala kita hidup, sehingga kita akan mendapat keuntungan dan tidak akan merugi. Marilah kita perhatikan apa yang telah ditetapkan Allah. Jika dalam perdagangan biasa di pasar pembelinya tidak jelas, maka di sini Allah-lah yang menetapkan dan membeli perdagangan itu. Jika kita memperdagangkan dan melaksanakan apa yang ditetapkan Allah dengan baik, tentu kita akan mendapatkan keuntungan yang diberikan oleh Allah, yaitu surga-Nya.

Ramadan adalah bulan rahmat dan magfirah, yang penuh dengan kegembiraan. Allah akan memerintahkan malaikat pencatat amal untuk mencatat amal-amal baik umat-Nya, tetapi tidak mencatat amal-amal buruk.

Sungguh menyedihkan, apabila orang yang ketika datang Ramadan, kemudian Ramadan itu selesai, tetapi dia tidak mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Sangat disayangkan seandainya sampai akhir Ramadan kita tidak mendapatkan apa-apa, kesalahan kita masih menumpuk, dan dosa kita masih banyak. Hendaknya, kita manfaatkan kehadiran Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Mari kita jalani bulan Ramadan dengan baik, antusias, ikhlas, dan semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mari kita semarakkan ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah, mintalah ampun kepada Allah, karena Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa kita, dan insyaallah di akhir Ramadan, kita bisa meraih surga Allah. (Lulu Fatimah/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.