Oleh: Drs. KH. Ahmad Dzulattah Yasin, M.Ag.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Seseorang yang beriman haruslah menjadikan Al-Quran sebagai tuntunan hidupnya. Di awal surah Allah subhanahu wata'ala berfirman :
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Artinya : “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah [2]:2).
Al-Qur’an merupakan mukjizat yang paling besar bagi Nabi Muhammad SAW. Sama seperti mukjizat yang diberikan kepada Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa, lalu ada juga mukjizat yang diterima oleh Nabi Isa a.s. yang bisa menghidupkan orang yang telah meninggal namun mukjizat itu hanya dapat disaksikan oleh kaumnnya di zamannya itu.
Tapi berbeda dengan Al-Qur’an yang sampai saat ini masih bisa kita rasakan mukjizatnya. Maka hendaklah kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW menjadikan salah satu mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi kita SAW sebagai tuntunan dan pedoman di dalam hidup. Sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا (125) قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى(126)
Artinya : “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat? Dia (Allah) berfirman, “Memang seperti itulah (balasanmu). (Dahulu) telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau mengabaikannya. Begitu (pula) pada hari ini engkau diabaikan.” (QS. Ṭāhā [20]:124-126).
Sebagai orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah kita terus menjaga dan ingat kepada Al-Qur’an sebagaimana tuntunan hidup kita, kita senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai prioritas kita. Sebagaimana sebuah hadist yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi,
عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Artinya: "Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Alquran) maka dia akan mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf." (HR At-Tirmidzi).
Al – Qur’an merupakan “kalamullah” yang Allah turunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Dianggap beribadah ketika seseorang membacanya, baik dia paham maupun tidak, maka tetap mendapatkan pahala.
Allah subhanahu wata'ala berfirman,
لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗوَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Artinya : “ Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (Al-Ḥasyr [59]:21).
Dijelaskan dalam ayat di atas bahwasanya bukit gunung pun tunduk dan takut kepada Allah ketika mendengar Al – Qur’an maka hendaklah kita sebagai orang yang beriman seharusnya ketika mendengarkan ayat – ayat Al – Qur’an bertambah imannya. Membaca, memahami dan meniatkan untuk mengamalkan apa yang telah dipahami merupakan salah satu fungsi Al – Qur’an. Menurut hadist yang diriwaytkan oleh Imam Ahmad dijelaskan bahwa Al – Qur’an akan menjadi penyelamat, penolong bagi orang yang membacanya pada hari kiamat nanti karena tiada penolongan selain pertolongan Allah. (CITRA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.