Oleh Dr. KH. Mahkamah Mahdi, Lc. MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Mari kita langitkan puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa taala kita ucapkan alhamdulillahi rabbil alamin Allah subhanahu wa taala yang maha kuasa yang maha kasih ya setiap detik yang kita lewati ya penuh dengan kasih sayang penuh dengan kuasa dan kudrah. Setiap detik setiap tarikan nafas yang kita lewati semua mengandung nikmat dari kasih sayang Allah subhanahu wa ta'ala ya mata yang kita manfaatkan setiap saat yang kita gunakan ya kalau ditukar ya kalau ada yang tawari ditukar dengan harta dengan kekayaan sebesar dunia kira-kira ada yang siap ya ya tidak ada yang siap.
Menukar sebiji mata dengan nikmat sebiji mata ini dengan semua kekayaan yang ada di dunia selawat dan salam Mari kita haturkan kepada kepada penghulu para nabi nabi besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang diutus untuk mengembalikan kemukjizatan penciptaan dengan Quran yang diturunkan Allah subhanahu wa taala. Dengan al-qur'an semua makhluk kembali kepada hakikatnya sebagai mukjizat penciptaan Allah subhanahu wa taala.
Dalam al-qur'an misalnya seekor lalat menjadi sangat bernilai di mata Allah subhanahu wa taala lebih hebat dari semua yang diciptakan oleh manusia ya. Wahai manusia dengarlah sebuah perumpamaan, yang dibuat oleh Allah subhanahu wa taala, semua yang diagungkan diidolakan oleh manusia tidak bakal mampu menciptakan seekor lalat meskipun mereka ya bersatu bekerja sama ya untuk menciptakan seekor lalat mereka tidak bakal sanggup.
Hadirin yang berbahagia ya watak manusia sudah menjadi watak kita semua ya lupa dengan kematian. Melupakan kematian sudah menjadi kehidupan kita sudah menjadi keseharian kita kapan kita mengingat kematian dalam hari-hari yang kita lewati. Berapapun umur yang Allah berikan kepada kita ada yang dapat jatah 50, 60, 70 kita selalu melupakan kematian sebenarnya umur kita di dunia ini berapa berapa maksimal dari kehidupan kita di dunia ini.
Tentu saja tidak ada yang tahu tidak ada yang tahu kapan ajal ya datang menjemput Kapan malaikat pencabut nyawa datang menjemput kita. Macam-macam ada yang dijemput di tempat kerja ada yang dijemput dalam perjalanan ada yang pergi umrah dijemput di sana ada yang dijemput ketika melaksanakan salat ada yang dijemput ketika dia sujud ada juga yang dijemput ketika melaksung melakukan kemaksiatan. Karena memang ajal di tangan Allah subhanahu wa taala.
Apa yang kita bisa lakukan apakah kita bisa memilih kapan kita meninggal di mana kita meninggal Allah subhanahu wa taala menyetir dalam sebuah ayatnya tak seorang pun yang tahu kapan apa yang akan dilakukan besok hari. Kita biasa bangun salat subuh ya tiba-tiba besok kita sudah tidak sempat salat subuh masih pergi kantor ya besok sudah tidak bisa lagi. Dan tak seorang pun tahu ya dimana akan meninggal kalau kita tidak bisa memilih dimana kita meninggal kapan kita meninggal sekarang pertanyaannya apa yang bisa menjadi ikhtiar kita apa yang kita bisa pilih.
Allah subhanahu wa taala dalam Al Quran nya mengatakan begini jangan mati kecuali dalam keadaan Islam apa artinya wahai manusia kamu bisa berikhtiar kamu bisa memaksimalkan bagaimana kamu meninggal kalau hari-harimu kau habiskan untuk kebaikan tanpa kemaksiatan sedekah menyayangi anak yatim ya puasa dan seterusnya semua agenda harian adalah ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala.
Disinilah kita bisa berikhtiar kita bisa berikhtiar memilih mau mati dalam keadaan apa. Kalau semua waktu yang kita lewati jam-jam yang kita lewati semuanya adalah ketaatan kepada Allah berarti kita bisa ya masuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah wala tamutunna illa Wa Antum muslimun.
Oleh karena itu dalam ayat lain Allah subhanahu wa taala bersumpah bersumpah demi masa demi waktu yang dilewati oleh manusia jam-jam yang dilewati oleh manusia ya Wal asr ya Demi Masa demi waktu Innal insana lafi khusr manusia itu ya merugi ya rugi besar ya dalam bahasa Arab kalau dikaji Inal insana lafi khus itu tiga penegasan ya Inna sebagai kata penegasan ya Al Insan lafi khus ya ya La lafi juga itu merupakan penegasan ada dua ya ada dua penegasan ya illalladzina amanu kecuali orang yang beriman banyak yang bilang sebenarnya masalah keimanan kita sudah sudah selesai ada ya yang mengatakan begitu masalah kita katanya seberapa besar ya representasi politik umat Islam di gedung DPR.
Kalau kita mayoritas mendesain bangsa ini sesuai dengan keinginan kita, ternyata merujuk kepada ayat tadi, "Innal insana" standarnya adalah keimanan. Iman itu bukan perkara ringan. Iman ibaratnya benih sebuah pohon. Benih butuh ditanam, disiram, diberi pupuk, matahari, dan air, sehingga nanti berproses menjadi batang, dahan, dan akhirnya lahirlah daun-daun yang rindang. Kita akan menunggu buahnya. Iman juga seperti itu. Iman membutuhkan proses yang panjang. Berapa fase yang dibutuhkan oleh benih untuk menjadi pohon yang tinggi menjulang dan berbuah? Begitu juga kita membutuhkan proses agar iman kita berbuah.
Iman bisa diilustrasikan seperti makanan. Ketika kita makan, makanan yang masih di mulut masih bisa dikeluarkan. Ketika sudah sampai di lambung, masih bisa dikeluarkan. Tapi ketika makanan sudah sampai di usus dan diproses menjadi sari-sari makanan yang dikirim ke seluruh tubuh, siapa yang bisa mengeluarkannya? Iman juga seperti itu. Kalau hanya di mulut, dengan sedikit godaan, iman kita bisa goyah. Tapi ketika iman sudah mendarah daging, sudah menjadi bagian dari tubuh kita mata kita beriman, telinga kita beriman, hati kita beriman, akal kita beriman siapa yang bisa mencabut iman kita? Ketika itu semua sudah terwujud, di situlah kita bisa mengharap sesuatu.
Ada data dari Badan Pusat Statistik yang menyebutkan rata-rata usia harapan hidup bangsa Indonesia di tahun 2024 adalah sekitar 74 tahun. Jadi, usia potensial sekitar 74 tahun lebih. Jika seseorang lahir di tahun 2024, insyaallah usia potensialnya 74 tahun lebih. Kita ingin sedikit menghitung dan merujuk kepada sebuah ayat. Dalam Al-Qur'an, Allah bertanya kepada penghuni akhirat, berapa tahun kalian tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal sehari atau setengah hari. Allah kemudian berkata, sebenarnya lebih sedikit dari yang kalian sampaikan, bukan sehari atau setengah hari, tapi sedikit lagi."
Kalau kita hidup 1000 tahun di bumi, di mata Allah itu hanya satu hari. Jika satu hari dijadikan 24 jam, dengan rasio tadi, hidup kita di dunia hanyalah 1 jam lebih. Benar sekali apa yang Allah firmankan, hanya sebentar sekali kalian di dunia. Ini juga ditegaskan oleh Rasulullah. Beliau mengatakan, apa urusanku dengan dunia?
Dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang duduk sebentar di bawah pohon, istirahat, kemudian meninggalkan pohon tersebut. Itulah perumpamaan kehidupan dunia. Ini sejalan dengan 1 jam persinggahan kita di dunia. Apakah Rasulullah meremehkan dunia? Rasulullah sedang menjelaskan satu sisi dari dunia. Dunia memiliki tiga sisi. Pertama, dunia adalah ladang akhirat (mazra'atul akhirah).
Kedua, dunia adalah tempat manifestasi nama-nama Allah. Semua yang ada di alam ini merupakan manifestasi dari nama-nama Allah. Misalnya, buah apel yang berasal dari tanah. Kenapa tanah yang tidak ada rasanya bisa menjadi apel yang manis dan bergizi? Itu adalah perwujudan dari kekuasaan Allah. Sisi ketiga dunia adalah kesenangan bagi orang-orang yang mengumbar nafsunya. Itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah.
Jika kehidupan kita di dunia hanya 1 jam setengah, semestinya kita harus memanfaatkannya dengan baik. Ada tiga ayat yang menjadi standar bagaimana kita hidup di dunia. Pertama, Carilah akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, dan jangan lupakan kehidupan duniamu. Kedua, Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu.
Ketiga, Berlari-larilah menuju Allah. Ulama menjelaskan bahwa untuk melakukan alfirar ilallah (berlari menuju Allah), ada dua hal yang harus kita ingat: ar-raja (harapan) dan al-khauf (takut). Harapan harus disertai dengan amal, bukan sekadar angan-angan. Kita harus mengevaluasi diri: Bagaimana salat kita? Bagaimana puasa kita? Bagaimana sedekah kita? Semua organ yang Allah berikan harus digunakan untuk kebaikan.
Akal manusia bisa menampung 25 juta GB informasi. Ini adalah miniatur lauhil mahfuz. Kita harus bersyukur atas semua nikmat yang Allah berikan. Dalam surah Ar-Rahman, Allah menegaskan, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Jadi, dalam 1 jam setengah yang diberikan Allah, kita harus berlari menuju-Nya. Iman yang kuat akan melindungi kita dari tantangan zaman. Semoga kajian ini bermanfaat. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.