Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Jumat Istiqlal: Akhlak Terhadap Yang Lemah dan Susah

Admin 06 Dec 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A.
(Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal Jakarta)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Turut berduka cita dalam harta dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan sesuatu yang bersifat materi kepada mereka yang mengalami kekurangan, seperti fakir miskin, dan orang-orang yang menanggung utang, mereka yang ditimpa musibah. 

Memberikan sesuatu yang bersifat materi kepada mereka sangat dianjurkan di dalam agama, bahkan merupakan sebuah kewajiban agama, seperti menunaikan zakat, dan sangat dianjurkan agama dalam bentuk sadakah. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam QS. Al-Lail (92) ayat 5-7 :

فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ
Artinya : “Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa”. Al-Lail [92]:5
وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ
Artinya : “serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga)”. Al-Lail [92]:6
فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ
Artinya : “Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan)”. Al-Lail [92]:7

Di dalam ayat 17 - 21 dari Qur'an Surah yang sama Allah subhanahu wata'ala menyatakan:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْاَتْقَىۙ
Artinya : “Akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa”. Al-Lail [92]:17

الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ
Artinya : “yang menginfakkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (diri dari sifat kikir dan tamak)”. Al-Lail [92]:18
وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ
Artinya : “Tidak ada suatu nikmat pun yang diberikan seseorang kepadanya yang harus dibalas,758)”. Al-Lail [92]:19

اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ
Artinya : “kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”. Al-Lail [92]:20
وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ
Artinya : “Sungguh, kelak dia akan mendapatkan kepuasan (menerima balasan amalnya)”. Al-Lail [92]:21

Banyak pula hadis Rasulullah yang menerangkan keutamaan dalam memberikan harta kepada orang lain, di antaranya sebagai berikut. Hadis qudsi riwayat Abu Hurairah dari Bukhari dan Muslim yang menyatakan: “Allah subhanahu wata'ala berfirman, Wahai anak Adam, berinfaklah, maka Aku akan memberikan infak kepadamu.

Juga Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap pagi hari, dua malaikat turun (ke bumi). Salah satu di antara keduanya memohon kepada Allah dengan mengatakan: Ya Allah, berilah ganti (atas harta yang telah diinfakkan) kepada orang yang telah berinfak, dan yang satunya lagi memohon, Ya Allah, berilah kerusakan kepada orang yang tidak mau berinfak.”

Ada lagi hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr, Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memiliki makanan untuk dua orang, hendaklah ia mengundang orang yang ketiga dan barang siapa yang memiliki makanan untuk empat orang, hendaklah ia mengundang orang kelima atau keenam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memiliki kelebihan tumpangan kendaraan, berbagilan dengan orang yang tidak memiliki tumpangan kendaraan, dan barang siapa yang memiliki kelebihan bekal, berbagilah dengan orang yang tidak memiliki bekal.”

Seorang yang beriman harus memiliki kepekaan terhadap suasana dan situasi yang dialami oleh saudaranya yang mengalami kesusahan, yang mengalami kekurangan, dan miskin. Hal ini merupakan salah satu perwujudan dari imannya. Allah menyatakan dalam suatu ayat di dalam Qur'an Surat An-Nisa’ ayat 8 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ اُولُوا الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنُ فَارْزُقُوْهُمْ مِّنْهُ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا
Artinya : “Apabila (saat) pembagian itu hadir beberapa kerabat,144) anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, berilah mereka sebagian dari harta itu145) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik”. An-Nisā'  [4]:8

Orang asing yaitu orang yang datang ke suatu tempat yang baru, seperti seseorang yang baru pindah dari tempatnya ke tempatnya yang baru. Ibnu Sabil adalah seseorang yang selalu melakukan perjalanan, yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam mencapai kebaikan dan keridhaan Allah subhanahu wata'ala. Seseorang harus memiliki kepekaan terhadap mereka yang seperti ini. Hal ini diungkapkan oleh Allah di dalam QS al-Baqarah [2] ayat 177 :

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ 
Artinya : “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab suci, dan nabi-nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya; melaksanakan salat; menunaikan zakat; menepati janji apabila berjanji; sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. Al-Baqarah  [2]:177


Rasululullah shallahhu ‘alaihi wasallam bersabda : “Aku dan orang yang menanggung anak yatim, kedudukannya di surga seperti ini, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah”. (RST/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.