Oleh: Dr. KH. Ahmad Husni Ismail, M. Ag
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Pada hari ini kita masih berada di bulan Rajab yaitu bulan Ke-7, dan setelah bulan Rajab ialah bulan Sya’ban yakni bulan Ke-8 pada kalender Islam, kira-kira kurang dari 40 hari lagi semoga kita masih ditakdirkan oleh Allah SWT untuk bisa bersama-sama dalam menyambut bulan Ramadan.
Bulan Rajab ini merupakan salah satu dari bulan Haram, bulan Haram ini adalah bulan yang mulia atau bulan terhormat. Satu amalan yang dilarang akan tetapi terdapat kaitannya dengan menghormati “Kenapa kita dilarang melakukan sesuatu perbuatan? karena menghormati Allah yang membuat larangan itu, Kenapa ada Masjidil Haram di kota Makkah? Karena Masjidil Haram merupakan masjid yang dimuliakan atau masjid yang dihormati maupun diagungkan, Kenapa ada wanita-wanita yang tidak boleh dinikahi oleh kita atau mahram yang haram dinikahi? karena Allah SWT memiliki ketentuan dalam menghormati wanita-wanita yang khusus sangat dekat dengan kita”.
Bulan Rajab merupakan bulan yang terhormat tentunya, karena Allah yang menetapkan dan menentukan bulan ini sebagai bulan yang Mulia atau bulan yang Agung dan bulan yang suci. Nah, karena begitu sucinya bulan ini, para ulama ada yang menyatakan bahwa amal di bulan suci itu begitu terhormat dibalas dengan ganjaran bertingkat-tingkat atau berlipat ganda. Dengan demikian ketika kita melakukan keburukan atau bahkan melanggar kesucian bulan haram ini, dosanya pun berlipat-lipat.
Dalam Islam wanita-wanita sangat dihormati, sangat dimuliakan, apalagi wanita-wanita yang secara khusus dalam pandangan Allah memiliki kedudukan tertentu. Seperti, ibu kita, saudara Perempuan, bibi dari ayah atau bibi dari ibu merupakan wanita-wanita yang memiliki predikat mulia di mata kita semua, sampai anak perempuan itu juga mulia di hadapan kita semua, ada wanita-wanita yang dimuliakan dengan kedatangan Islam yang mempunyai kedudukan tertentu juga di mata kita semua, yaitu istri-istri dari Baginda Nabi Muhammad SAW, Karena beliau-beliau itu adalah istri nabi maka beliau-beliau tersebut mendapatkan predikat kemuliaan yang lebih tinggi dari istri-istri orang beriman.
Dalam surat Al-ahzab disampaikan Nabi itu paling mulia di hadapan orang-orang beriman dan istri-istrinya merupakan ibu dari orang beriman itu jadi istri-istri Baginda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam itu merupakan ibu kita semua, sama halnya dengan predikat ibu kandung atau bahkan lebih tinggi dari itu. Maka gelarnya beliau-beliau tersebut disebut dengan Ummahatul Mukminin “Ibu bagi orang-orang beriman”, karena beliau-beliau itu ibu bagi orang beriman maka memiliki predikat kehormatan di hadapan orang beriman, istri-istri nabi itu tidak boleh dinikahi oleh orang beriman Karena beliau-beliau itu adalah ibu bagi kita semua ibu bagi orang-orang beriman.
Istri nabi itu adalah ibu kita semua, misalnya dalam menyebut nama salah satu istri Nabi di belakangnya biasanya dikaitkan dengan ibu kita semua. Contohnya, Ummul Mukminin Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha seperti itu, Ummul Mukminin Sayidatina Khadijah Radhiallahu ‘Anha ibunda orang-orang beriman.
Kemuliaan itu juga berdampak pada ketika beliau-beliau melakukan perbuatan dosa, maka dosanya juga dibalas dua kali lipat dibanding wanita-wanita mukminah atau wanita-wanita muslimah yang lainnya.
Jadi kalau mereka melakukan pelanggaran maka dibalas juga dengan dua kali lipat, kalau Melakukan kebaikan tentu kebaikannya di atas rata-rata balasan orang beriman, karena beliau-beliau itu adalah hamba-hamba Allah yang memang dimuliakan oleh Allah SWT. Kemuliaan itulah yang menyebabkan beliau-beliau itu mendapat predikat atau mendapat balasan amal yang bertingkat kalau kita menganalogkan seperti beberapa hal tadi itu Itulah keberadaan bulan Rajab bulan Rajab ini bulan Mulia maka melakukan kebaikan di dalamnya adalah dibalas dengan kemuliaan berlipat-lipat atau ganjaran pahala yang bertingkat-tingkat dari siapa-siapa di antara kita yang sanggup dan yang mampu melakukan kebaikan-kebaikan di dalamnya.
Dengan kata lain, jika selama dua bulan dalam menyongsong Ramadan atau dari bulan ketujuh ini dinyatakan sebagai bulan terhormat, maka adanya pesan atau gugahan kepada kita semua bahwa,ini saatnya saya harus start di bulan ini untuk menyongsong Ramadan. Maka di bulan Rajab ini, mestinya kita dapat memotivasi diri sendiri dengan janji-janji keutamaan ganjaran di sisi Allah SWT.
Maka akan kita termotivasi tergerak untuk bersungguh-sungguh melakukan amal kebaikan dan akhirnya akan terjadi peningkatan-peningkatan, ini tentu karena ada penghargaan spesial ada ganjaran spesial di bulan agung ini atau di bulan mulia ini.
Mari kita bersama-sama berbenah membangun motivasi diri dalam meningkatkan amal-amal yang membedakan kita sedang berada di bulan Rajab dengan beberapa bulan kemarin, kita berada dibulan Rajab, mari kita sama-sama meningkatkan amalan meningkatkan kebaikan serta meningkatkan kesalehan-kesalehan yang dimana mudah-mudahan start ini kemudian nanti dilanjutkan di bulan sya’ban, masuk bulan Ramadan berarti kita sudah punya nilai sudah punya modal sudah punya kekuatan motivasi untuk meningkat dan meningkat terus-menerus jadi start dari bulan ini.
Ada juga orang yang startnya langsung di bulan Ramadan tentu itu juga tidak salah, tapi bagi orang yang ingin memiliki makam, ingin memiliki tempat istimewa di hadapan Allah tentu akan memilih juga perbuatan-perbuatan Istimewa.
Mari kita sama-sama berupaya membangun motivasi di dalam diri memulai ketaatan dan kesalehan meningkatkan ketakwaan di bulan ini menambah-nambah salat sunah, menambah-nambah zikir-zikir yang sunah menambah banyak Istigfar dan shalawat, memperbanyak berinteraksi dengan al-qur'an, berarti kita sudah punya strum energi yang kuat untuk memasuki Ramadan sehingga di bulan Ramadan sangat boleh jadi kita akan memperoleh sesuatu yang maksimal yang tidak didapat oleh orang-orang yang tidak berupaya yang sama dengan kita. (FATIKHAH/ Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.