Oleh KH. Bukhari Sail Attahiri, Lc. MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id – Sebagai hamba-Nya tujuan kita beribadah kepada Allah SWT adalah untuk mengharapkan ridhonya semata. Agar ibadah kita diterima hendaklah kita mempunyai ilmu, etika atau tata krama dalam beribadah. Allah subhanau wata’ala berirman :
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا (63)
وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا (64)
Artinya : “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, Salam. Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.” (QS. Al-Furqān [25]:63 – 64)
Dalam kutipan ayat ini, Allah subhanahu wata’ala mensifati kita sebagai hambanya yang memiliki sifat Ar-Rahman “Maha Penyayang”. Ar-Rahman adalah bagian dari asmaul husna Allah SWT yang berjumlah 99 yang berarti “Maha Penyayang”. Allah subhanahu wata’ala menginginkan hamba-Nya memiliki sifat seperti Ar – Rahman yang berperilaku damai tidak suka berbuat keributan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65)
اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا(66)
Artinya : “Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal. Sesungguhnya ia (Jahanam itu) adalah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk. (QS. Al-Furqān [25]:65 – 66)
Lalu dilanjutkan oleh ayat ini, kita diharapkan untuk selalu memohon untuk senantiasa dibimbing agar tidak melanggar larangan -larangan dan agat terhindar dari azab Allah SWT. Hendaklah kita juga senantiasa menjaga lisan kita saat berbicara karena azab Allah SWT sangatlah pedih. Panasnya api neraka diibaratkan seperti saat kita melakukan 70 tahun perjalanan kita masih bisa merasakan panasnya naudzubillah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا (67)
Artinya: "Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya” (QS. Al-Furqān [25]:67).
Lalu, ayat selanjutnya menjelaskan bahwasanya seseorang manusia jangnlah bersifat berlebihan terhadap sesuatu hal (boros). Sikap hemat, sederhana, dan tidak bermegah – megahan adalah contoh sikap dan sifat yang diinginkan Allah SWT dari seorang hambanya. Karena sifat yang berlebihan itu akan merugikan bagi diri seorang hamba tersebut. (CTR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.