Setelah Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Ma'aruf Amin, meresmikan 43 Program New Istiqlal pada perayaan Milad Istiqlal ke-43, Bidang Sosial Dan Pemberdayaan Umat-Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), menggelar acara Penandatanganan Nota Kesepahaman program Istiqlal Disaster Management Center (IDMC), sekaligus Webinar Nasional dengan tema "Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masjid", di Masjid Istiqlal, pada Jumat, (26/2/2021).
"Alhamdulillah sangat berjasa rumah ibadah atau masjid-masjid yang dijadikan sebagai tempat penampungan bagi korban bencana. Namun, untuk kedepan, Istiqlal berpendapat (bahwa kedepannya, masjid) harus ikut menjadi bagian yang merancang, mencari solusi untuk meminimalisir dampak bencana yang terjadi," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam sambutannya, di acara Webinar Nasional Launching IDMC, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat, (26/2/2021).
"Sejak awal, Rasulullah SAW juga sangat (fokus untuk berbicara mengenai) kelestarian alam, Nabi Muhammad menegaskan, bahwa kita perlu untuk memelihara kelestarian lingkungan," papar KH. Nasarudin Umar.
Dalam acara ini, terdapat beberapa tokoh yang hadir diantaranya, Menteri Koordinator PMK, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo, Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, S.T., M.Si., Sekretariat Negara Republik Indonesia, Bapak Dr. Ir. Suprayoga Hadi, M.SP, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdatul Ulama (LPBI NU), Bapak Ali Yusuf, dan Alumni Indonesia Jepang, Wilson Lalengke, Spd, M.Sc, MA.
Kemudian untuk KH. Nasaruddin Umar juga didampingi oleh pejabat BPMI, seperti Kepala Bidang Penyelenggara peribadatan, H. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA, Kabid sosial dan Pemberdayaan Umat, Laksamana. TNI (Purn) Asep Saepudin, Kepala Sekretariat, H. Mubarak, S.H., M.Si., Kabid Ri?ayah, Irjen Pol Dr. H. M. Said Saile, M.Si, Kabag Keuangan, Hukum dan Kerjasama, Dr. N.E. Fatimah, dan pejabat lainnya.
Dalam sambutannya, Menteri Koordinator PMK, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., bahwa diselenggarakannya program IDMC, ialah hal yang tepat. "Karena kita ini harus menyadari dan mensosialisasikan kepada masyarakat luas, bahwa kita ini memang ditakdirkan Allah berada di lokasi yang selalu akrab dengan bencana, karena sebagian besar wilayah Indonesia berada di ring of fire."
Dengan wilayah yang rawan dengan bencana, tentu saja kesiapsiagaan dalam mengantisipasi bencana menjadi hal yang sangat penting. "Ini semua membutuhkan kesadaran yang tinggi bagi masyarakat, betapa pentingnya kita melakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya ..megitatif.. tentang kesiapsiagaan, selalu tanggap kalau ada kejadian bencana, itu mutlak harus dimiliki oleh seluruh penduduk tanah air," jelas Prof. Muhadjir.
Kemudian untuk memudahkan, Prof. Muhadjir menyarankan pihak Istiqlal untuk memprakarsai teks khutbah tentang kebencanaan, untuk kemudian dibagikan kepada para penceramah. "Sehingga para khatib atau penceramah bisa dapat bekal yang cukup dengan masalah kebencanaan," jelasnya.
Disamping itu, Prof. Muhadjir juga meminta pihak BPMI unruk terus menyesuaikan program New Istiqlal, dengan program yang banyak memberi manfaat bagi masyarakat luas. "The New Istiqlal ini programnya serba baru, yang betul-betul terupdate sesuai dengan kebutuhan umat, mudah-mudahan ini bisa menjadi langkah baik untuk kedepannya."
Selanjutnya, untuk dapat dipahami bahwa Webinar Nasional ini merupakan kegiatan nasional yang dapat disaksikan secara virtual oleh stakeholders dari unsur pemerintah, praktisi, penggiat bencana, dan masyarakat luas melalui YouTube Masjid Istiqlal TV.
Seimbang dengan hal itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo juga mengapresiasi BPMI, karena telah mengajak 800.000 masjid di Indonesia untuk melakukan mitigasi terhadap bencana. Dia juga berharap bahwa program ogram ini bisa menjadi langkah awal bagi pemerintah, untuk mengajak masyarakat agar lebih peduli tentang penanggulanan bencana.
"Penjelasan tentang literasi kebencanaan, terutama menjaga lingkungan mungkin (saat ini) masih terbatas. Maka momentum IDMC, adalah langkah awal untuk mengajak semua komponen bangsa," ujar Doni.
Kemudian secara spesifik, Masjid Istiqlal merupakan masjid negara dan masjid pembina bagi masjid-masjid seluruh Indonesia, yang memiliki posisi strategis dalam menginisiasi dan mengembangkan pengelolaan risiko bencana.
Dengan posisi Istiqlal itu, diharapkan masyarakat bisa terlibat aktif dalam pengelolaan risiko secara terpadu, sehingga nantinya pemerintah bisa mengidentifikasi, mengkaji dan mengurangi risiko bencana, dan bisa membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Momentum IDMC juga menjadi penting, karena sebagaimana Istiqlal merupakan masjid terbesar se-Asia Tenggara, Islam juga merupakan agama terbanyak yang dipeluk oleh masyarakat Indonesia.
"Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta, maka kita harus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan tentang pengetahuan di berbagai bidang mengenai lingkungan hidup. Karena semakin bertambahnya usia bumi, maka kerusakan ekosistem akan semakin besar," jelas Doni.
Selanjutnya, Deputi Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan, ST, M. Si, bersyukur atas peluncuran program IDMC, karena program ini bisa menjadi bagian dari komitmen masjid dalam menanggulangi bencana.
Lilik juga menyarankan, bahwa nantinya masjid dirancang dengan bangunan yang tangguh bencana. "(Karena) masjid sebagai obyek, yaitu sebagai tempat yang harus dilindungi dari bencana. Sehingga perlu membuat rumah ibadah atau masjid yang tangguh bencana."
Membahas hal lain, Deputi Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan, Dr. Ir. Suprayoga Hadi. M. SP., mengapresiasi letak masjid yang selalu dekat dengan masyarakat. "Karena (hal itu) bisa menjadi model yang nantinya diterapkan ke wilayah lain atau masjid-masjid lain, yang saya pikir sangat potensial untuk kita dorong kedepan."
Selain itu, Suprayoga juga mengatakan, masjid dibagi atas tiga fungsi. "(Pertama,) fungsi masjid untuk memfasilitasi masyarakat dalam hal penanggulangan bencana."
Kemudian fungsi masjid yang kedua, masjid bisa dijadikan sebagai wadah akomondasi, dan selanjutnya, masjid juga bisa dijadikan sebagai fungsi distribusi. "Karena logistik (juga) bisa dimulai dari masjid. Kita tahu penanganan distribusi yang baik."
Memperkaya materi yang dibahas, Direktur LPBI NU, Ali Yusuf, menambahkan bahwa penanggulangan bencana sebetulnya sudah menjadi pembahasan dari zaman Nabi, dan pada era yang modern ini, kita hanya harus terus belajar dari kejadian masa lalu. "Misalnya pada mitigasi serta kesiapsiagaan dari Nabi Nuh yang sudah luar biasa pelajarannya (dan penanganannya dalam menghadapi bencana)."
Dengan kisah Nabi Nuh itu, Ali mengajak masyarakat untuk terus menguatkan literasi, dengan mengambil pelajaran yang sudah tertera pada Alquran dan hadist. "Kita juga perlu menguatkan literasi masyarakat terkait belajar dari Alquran dan hadist, untuk kemudian dipraktikkan ditengah2 masyarakat saat ini," jelas Ali.
Adapun dengan didirikannya IDMC ini, Ali sangat menyetujui itu. Karena hal ini merupakan wujud dari penanggulangan risiko bencana yang mengkolaborasikan pendekatan agama sekaligus dengan lokalitas. "Sehingga keberadaan IDMC ini, bisa memperkuat upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini dalam hal pengurangan risiko bencana."
Kemudian, Asosiasi Alumni Indonesia Jepang, Wilson Lalengke, M. Sc, M.Pd., juga menyampaikan sukacitanya atas Launching IDMC, karena hal ini bisa menjadi satu penegasan, dan diharapkan masjid serta rumah ibadah bisa menjadi pusat penanggulangan bencana.
"Sebenarnya saat ini masjid-masjid juga sudah diberikan sistem penanggulangan bencana. Cuma dengan hari ini, jadi satu penegasan dan mudah-mudahan rumah ibadah yang lain, juga akan menjadi pusat dari penanggulangan bencana," ucap Wilson.
Pewarta: Nurul Fajriyah
Editor: Nur Khayyin Muhdlor
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.