Jakarta, www.istiqlal.or.id - Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI) menyelenggarakan peringatan Isra Mi'raj 1443 Hijriah. Kegiatan ini dilangsungkan beriringan dengan pelaksanaan shalat jumat di Lantai Utama Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (4/3).
Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari yang bersejarah bagi umat muslim. "Isra Mi'raj, melangit untuk membumikan, saat itu Nabi Muhammad SAW pergi ke langit atas kehendak Allah SWT untuk menerima wahyu berupa shalat lima waktu, kemudian kembali ke bumi. Jadi hal itu berguna untuk mengangkat matrabat umat muslim," ujar Imam Besar Masjid Istiqlal dalam sambutannya di acara Isra Mi'raj Masjid Istiqlal dengan tema kegiatan Isra Mi'raj Meneguhkan Iman dan Menguatkan Ibadah kepada Allah SWT.

Kegiatan yang dilangsungkan pada siang hari beriringan dengan ibadah shalat Jumat ini, diharapkan tetap memiliki limpahan keberkahan dan kebermanfaatan bagi khalayak terkait peristiwa Isra Mi'raj. "Peringatan ini juga bisa dimanfaatkan para jamaah Shalat Jumat di Masjid Istiqlal," ungkap Kabid Penyelenggara Peribadatan KH Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA.

Isra Mi'raj Cara Kita Meraih Kebenaran yang Hakiki
Mengangkat tema Isra Mi'raj Meneguhkan Iman dan Menguatkan Ibadah kepada Allah SWT, KH Zuhri Yaqub menerangkan adanya hikmah serta pelajaran yang dapat diketahui setiap insan dari perjalanan bersejarah Rasulullah SAW, yaitu meraih kebenaran yang hakiki. "Banyak sekali i'tibar (pelajaran), nasihat, bahkan peringatan bagi kita untuk bisa menemukan kebenaran yang hakiki pada peristiwa Isra Mi'raj," terang KH Zuhri.
Membaca peristiwa Isra, Allah SWT berfirman dalam QS. Al Isra [17] ayat 1, yang artinya:
"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al Isra [17]: 1)
Dari ayat di atas, KH Zuhri memaparkan, para ulama membagikan pengkajiannya terkait kata subhana, yang berarti menunjukkan bahwa memang peristiwa Isra Mi'raj jauh di luar jangkauan akal umat manusia. "Dalam tradisi Al-Qur'an, penyebutan subhana pasti terdapat peristiwa luar biasa di luar jangkauan manusia. Tema pentingnya pada surat Al-Isra ayat 1 adalah, menyucikan Allah SWT dari hal-hal yang tidak layak bagi-Nya."
Kata subhana juga dapat menjadi tanda kuasa Allah SWT, penepis bagi setiap kaum yang tidak percaya akan kebenaran peristiwa Isra Mi'raj. Bahwasanya Allah SWT maha suci dari ketidakmampuan, apapun yang Allah SWT kehendaki, pasti bisa terjadi. "Allah SWT yang maha kuasa yang mengatur segalanya, dari-Nya berasal segala sesuatu dan kepada-Nya kembali segala sesuatu," tegas KH Zuhri.
Sayyid Muhammad Al Malik Al Ahsani dalam salah satu tulisannya menyebutkan, bahwa dalam peristiwa yang luar biasa ini Rasulullah SAW tidak menyebutkan pangkat nabi dan rasul-Nya, karena itu adalah pangkat yang memang pilihan dari Allah SWT, dan Dia tidak menyebut nama Muhammad, melainkan jati dirinya sebagai hamba-Nya.

"Dalam konteks inilah manusia diidealkan benar-benar menjadi hamba Allah SWT, dan dalam konteks ini juga kita diperintah untuk mengikuti Rasulullah SAW, dan itu juga untuk menegaskan posisi kita sebagai hamba-Nya, kehambaan kita kepada Allah SWT ini yang akan menentukan kualitas diri kita di hadapan Allah SWT," ungkap KH Zuhri.
"Allah SWT tidak mengangkat seseorang dari pangkat dan jabatannya, melainkan Allah SWT meletakkan kemuliaan, kebahagiaan, keselamatan seseorang ialah ketika ia benar-benar memposisikan dirinya sebagai hamba bagi Allah SWT," lanjut KH Zuhri.
Hal menarik lainnya dari kejadian Mi'raj ialah Rasulullah SAW mendapat perintah shalat lima waktu, yang kalau diamati secara cermat, shalat itu merupakan satu bentuk ibadah yang paling sempurna untuk menyimbolkan penghambaan manusia kepada Allah SWT. "Karena shalat itu puncaknya adalah sujud, dan sujud itu ialah ketika kita bersedia meletakkan kepala kita di tempat yang paling rendah sejajar dengan telapak kaki. Hal itu sesungguhnya tidak boleh kita lakukan pada siapapun kecuali kepada atau karena Allah SWT."
Sebagaimana yang dipaparkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Zuhri menyetujui bahwasanya saat perintah shalat diturunkan ke bumi, dikerjakan oleh umat manusia, maka manusia yang melaksanakan hal tersebut akan diangkat derajatnya saat di langit. "Maka tidak lagi ada tawar menawar bagi kita di hadapan Allah SWT, kecuali benar-benar memurnikan penghambaan kita kepada Allah SWT."
Adapun bagi yang sudah menerapkan shalat dalam hidupnya, KH Zuhri juga berpesan agar tetap menjaga konsistensi kemurnian ibadahnya kepada Allah SWT. "Jangan campur-adukkan penghambaan kita kepada Allah SWT dengan kemusyrikan,"
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-An'am ayat 162 sampai 163, yang artinya:
Artinya: "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)." (QS. Al-An'am [6]: 162-163).

Dari shalat juga, kita juga dapat membuktikan usaha dalam hal menjaga konsistensi amanah di bumi sebagai khalifah yang senantiasa mendamaikan suatu perbedaan.
"Karena perbedaan sebuah keniscayaan, tidak mungkin kita menolak perbedaan. Adapun dalam surat Al-Hujurat ayat 13, Allah SWT menciptakan kita berbeda untuk saling mengenal, berinteraksi antarsesama, sehingga muncul kebermanfaatan, kebaikan, agar terjaga suasana yang damai dan harmoni," jelas KH Zuhri.
Selengkapnya terkait firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13 ialah sebagai berikut.
Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Lewat shalat kita disadari untuk merealisasikan hal tersebut, pada akhir shalat kita mengucapkan Assalamu’alaikum warahmatullah saat menoleh ke arah kanan dan kiri. "Salam itu adalah wujud doa yang kita panjatkan, yaitu semoga Allah SWT melimpahkan rahmat kepada kalian semua," jelas KH Zuhri.
Maka pesan moral dari peristiwa Isra Mi'raj atas wahyu yang Allah SWT tetapkan kepada Rasulullah SAW berupa shalat lima waktu ialah untuk meraih kebenaran yang hakiki, menegakkan shalat dapat kita resapi manfaatanya, dapat meluas dampaknya.
Maka sebagai umat muslim, berlandaskan sabda Rasulullah SAW, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR ath-Thabrani) (FAJR/Humas dan Media Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.