Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Ujian Adalah Proses Persiapan Anugerah Nikmat Iman

Admin 13 Jun 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Dr. Budi Utomo, S.ThI, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah Maha Kuasa untuk Memberikan apapun dengan sangat mudah. Namun untuk sesuatu yang sangat istimewa, kadang Allah menahannya dan memberikan ujian besar terlebih dahulu agar pemberian itu lebih dihargai dan hati-hati di jaga. 

Allah siapkan yang diberi dan yang diberikan-Nya, agar benar-benar siap. Apalagi nikmat Iman-Islam, seutama-utama nikmat yang Allah Anugerahkan kepada para hamba pilihan. 

Allah tidak bermaksud mengorbankan Nabi Ismail 'alaihi assalam, namun Nabi Ibrahim 'alaihi assalam sebagai Bapak Tauhid, harus paham dan mengerti makna Iman-Islam yang sesungguhnya, percaya tanpa keraguan sedikitpun, tanpa batasan nalar dan logika. 

Allah Maha Kuasa, Kekuasaan-Nya tak bisa dikalahkan, karena iradahnya-NyaKuasa untuk mewujud tanpa mematuhi hukum sebab akibat.

Nikmat Iman dan Islam ( Keyakinan yang benar dan penyerahan diri kepada Allah yang benar) adalah nikmat tertinggi, puncak kemewahan  yang Allah berikan kepada hamba pilihan. Siapa saja bisa mengklaim mendapatkannya namun ketika cobaan datang tahulah manusia apakah dia  mu'min-muslim atau baru merasa atau mengaku-ngaku saja. 

Allah Ta’ala berfirman dalam al Qur’an,
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? “ (QS. Al-‘Ankabût : 2).

Maksud dari ayat ini bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan senantiasa memberi ujian kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai kadar keimanan dimiliki. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadis sahih, “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh. 

Kemudian disusul oleh orang-orang mulia, lalu oleh orang-orang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan keagamaannya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin keras pula cobaannya.” (At-Tirmidzi dan Ahmad).

Senada dengan itu Surat Al-Baqarah ayat 214 menyebutkan:
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." QS. Al-Baqarah/2: 214)

Jika ujian yang begitu panjang, melelahkan, menguras keringat dan air mata itu tidak berhadiah hikmah dan makrifat, maka merugi besarlah seorang hamba. Kembalilah sang hamba kepada kebodohan awalnya sehingga segala sesuatunya harus selalu dikerjakan dengan urutan sebab akibat yang panjang, yang juga tidak menjamin keberhasilan. 

Kelelahan-kelelahan dan kesulitan-kesulitan itu bukan lagi sebagai ujian untuk menaikkan level kemuliaan melainkan sebagai hukuman dan kehinaan tiada berakhir.

Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya akan sirnanya dunia. Kembali kepada Allah dan alam akhirat adalah episode selanjutnya, ketika pengadilan Allah ditegakkan seadil-adilnya. Begitu amat dahsyatnya siksaan-Nya saat itu diperingatkan  oleh  Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang:

وَاتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Artinya: “Dan takutlah pada hari ketika kalian dikembalikan waktu itu kepada Allah. Kemudian setiap jiwa ditunaikan balasan secara sempurna terhadap apa yang telah dikerjakan, dan mereka tiada dizhalimi.” (QS. Al-Baqarah/2: 281).

Ibnu Abbas  mengatakan bahwa ini adalah ayat Al-Qur'an yang paling akhir diturunkan. Ibnu Juraij mengatakan bahwa mereka (para sahabat) mengatakan, "Sesungguhnya usia Nabi Saw. sesudah ayat ini diturunkan tinggal sembilan hari lagi; ayat diturunkan pada hari Sabtu, dan beliau shallallahu ’alaihi wasallam wafat pada hari Senin. Inilah berita terbesar bagi seluruh jiwa yang hidup di dunia. 

Seluruh bentuk kegagalan dan penderitaan sehebat apapun  di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kegagalan menghindari siksaan akhirat yang paling ringan sekalipun.

Betapa kesedihan sering melanda manusia baik. Karena dunia adalah dârul balâ wal imtihân, tempat cobaan dan ujian, seringkali paradok, ironi dan tragedi terjadi. Sebagai pelipur lara Allah selipkan kisah-kisah model kehidupan dalam Al-Qur'an. 

Bagaimana banjir air mata dan tesayatnya hati seorang ayah yang harus menyaksikan putra tercinta tenggelam dalam banjir besar, terpisah oleh gelombang tinggi di depan mata.  Orang lain bisa selamat terbawa di perahu besar miliknya. " Dia bukan anggota keluargamu, perbuatannya tidak baik...," begitu Allah menegur Nabi Nuh ’alaihi assalam untuk menenangkan hatinya yang guncang. 

Ajakan untuk kembali kepada nilai moral dan kemanusiaan yang tinggi, menyisakan tak terperi bagi Nabi Luth ’alaihi assalam Betapa tidak,  isterinya yang merupakan orang terdekatnya dalam hidup harus ikut terpapar adzab karena tak mengindahkan peringatan kenabian. 

Di sisi lain, pongahnya Fir'aun malah membuat ketaatan "wanitanya" kepada Allah menjadi mutiara terindah contoh wanita shalihah.

Jalani hidup dengan senyuman dan penuh ketabahan. Setragis apapun derita, manusia akan mati, orang baik mati, orang jahat/berperangai burukpun akan mati. Bila kebaikan dibalas keburukan, maka inilah dunia. 

Allah sedang ingin Melihat siapa dari hamba-Nya yang ahsanu 'amalan, terbaik kebajikannya. Fokus pada diri sendiri untuk berbuat baik dan terus menebar kebaikan dan tak usah bersedih dengan apa yang terjadi.

Kehidupan akan terus berlanjut sampai batas waktu yang Allah tentukan. Mutiara akan tetap berkilau dan berharga walau di tengah kubangan lumpur. Sejauh apapapun jarak yang ditempuh untuk mencari ketenangan hidup, pusat kesadaran spiritual itu ada dalam jiwa. 

Tidak sulit mencari Yang Always Listening Always Understanding, dialah Allah tempat menumpahkan curahan isi hati terbaik, Yang Maha Mendengar dan Maha Tahu. Yang sulit adalah kemauan untuk segera membangun dan mewujudkan relasi harmonis dengan-Nya.

Tetap optimis dan jangan pernah bosan menjadi orang baik. Di hati dan cita-citamu ada janji Allah, di setiap kesulitan dan kelemahanmu ada Kekuatan dan Kemahakuasaan Allah. Pasrah dan bersandarlah kepada-Nya di setiap puncak keberdayaan dan dasar palung ketidakberdayaanmu. 

Meletakkan segala keinginan diri pada kehendak Allah akan menjadikan hilangnya seluruh beban kehidupan. Merdeka dari kekhawatiran dan kesedihan  ada pada kepasrahan total kepada Allah. Ya Allah, jadikan kami hamba-hamba pilihan yang lulus dalam setiap ujian dan cobaan di dunia ini. Ya Allah selamatkan kami dari seluruh fitnah dunia, siksa kubur dan azab neraka. Aamiin. (FAJR/HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.