Oleh: Alfaqir ilallah H. Ahmad Mulyadi, SE.I
www.istiqlal.or.id - Mencermati secara seksama terkait berbagai kelebihan dan keistimewaan bagi makhluk yang diproyeksikan sebagai khalifatullah di muka bumi, manusia diciptakan oleh Allah subhanahu wata'ala dalam bentuknya yang terbaik.
Jika diuraikan, maka makhluk bernyawa di muka bumi terdiri dari tiga bahan dasar dalam penciptaan-Nya yaitu air, tanah, dan ruh. Selama unsur tersebut terpenuhi dan ada, maka makhluk di muka bumi ini dapat melanjutkan kehidupannya. Dengan berbagai daya dan upaya dilakukan untuk bertahan dan menjaga kelangsungan hidup, dimana tidak menutup kemungkinan berbagai cara dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jasadiyah (fisik) bahkan terkadang cara yang tidak lazim hingga dengan kanibalisme yang bercirikan hayawaniyah.
Namun bagi manusia Allah subhanahu wata'ala lengkapi dengan tiga unsur yaitu unsur badan atau jasad (jasad), unsur nyawa (nafs), dan unsur roh (ruh). Bahkan lebih lanjut Imam Ghazali di dalam kitab Ihya Ulumiddin, menguraikan ada empat unsur metafisik yang dimiliki oleh seorang manusia, yaitu Ruh, Jiwa, Akal, dan Qalbu atau Hati.
Bekal penting pembeda bagi manusia, maka kelengkapan aqliyyah, bathiniyah, ruhaniyah, dan ketajaman metafisik semakin memperkuat posisi manusia sebagai khalifatullah untuk selalu dapat dekat dan terkoneksi dengan cahaya ketuhanan (ilahiyah) secara vertikal yang membimbing dalam menjalankan amanah yang diemban dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam dan kehidupan di muka bumi secara horizontal.
Sosok manusia yang eksis pada jalan kemuliaan dengan berpegang pada petunjuk dan terapan tata ibadah dan hukum yang sampai dan diterimanya, terpancar darinya nilai positif dalam mencapai kedudukan bermartabat luhur sebagai citra ketuhanan di bumi, yang selalu patuh, tunduk, tha’at, menebar kebaikan, kedamaian, dan kasih sayang. Dan pada hakikatnya ia adalah manusia makhluk yang berakal budi, berkehendak bebas dan berhati nurani, yang secara konsisten sebagai ‘ibadullah di jalur kebenaran menyayangi dirinya dan sekitarnya.
Jika ingin disayang Tuhan, maka sayangilah ciptaan-Nya, dan mulailah berbuat baik kepada siapa dan apa saja, kapan dan dimanapun untuk dapat menebar bakti dan keluhuruhan, sehingga tercatat sebagai golongan ibadallah ash-shalihin.
Secara inklusif bersikap menerima diri sendiri dan orang lain dan sekitarnya sebagaimana adanya, tidak memaksakan dan menyadari akan kelemahan, kekurangan, dan keniscayaan diri yang penuh dengan keterbatasan, menggambarkan sikap menghormati martabat luhur manusia.
Setiap keputusan yang diambil, langkah dan perbuatan hendaknya terarah sehingga menyadarkan dan dapat mempertanggungjawabkannya. Menggambarkan sosok individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
Apapun yang diciptakan untuk menyertainya dan dibekali baginya seperti alam yang merupakan daya dukung bagi kehidupan manusia akan dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya dan diolah untuk tujuan kemuliaan, sehingga menjadi sarana bakti dan amal untuk membuktikan tujuan hidupnya sebagai abdullah.
Kesinambungan dan keselarasan akal, pikir, hati, ucap, amal, dan perbuatan manusia sebagai hamba Allah subhanahu wata'ala, dengan tuntunan menghantarkannya pada puncak pribadi luhur yang menjadi dambaan setiap manusia saat hadir di muka bumi ini yang menyayangi dan disayangi, serta mulia dan dimuliakan, yang tentunya bukan tanpa usaha, jerih payah, keringat dan perjuangan, atau cukup dengan dengan termenung dan santai, yang akhirnya terlena, sirna dan binasa, tidak memberi andil kebaikan, bahkan lebih suka merusak sistem dan tatanan.
Jangan jadikan hidup diam atau menonton saja, hingga hampa tanpa nilai bak pepesan kosong. Wa Allahu A’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.