Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Dalam pandangan Al-Qur’an dan Hadits, hubungan antara dunia, hamba, dan kekuasaan tersusun dalam satu jalinan makna yang mengarahkan manusia kepada kesadaran ketuhanan. Dunia bukan sekadar ruang hidup, tetapi arena ujian.
Manusia bukan sekadar makhluk, tetapi hamba. Dan kekuasaan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sejak era klasik seperti Al-Ghazali, Al-Mawardi, hingga para masyayikh Nusantara menegaskan bahwa seluruh dinamika dunia bermuara pada satu titik, yakni ubudiyyah, kehambaan total di hadapan Allah SWT.
Dunia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, sering kali menggoda manusia dengan keindahan dan janji-janji semu. Allah SWT memperingatkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah/2 ayat 86, bahwa ada manusia yang “membeli kehidupan dunia dengan akhirat”, yakni menukar yang kekal dengan yang sementara.
Ini bukan sekadar tindakan moral yang keliru, tetapi pilihan ontologis yang menjerumuskan mereka dengan memilih kefanaan dan kehilangan keberlanjutan. Karena itu, azab mereka tidak diringankan dan tidak ada pertolongan bagi mereka. Ayat ini menegaskan bahwa penyimpangan pandangan hidup terhadap dunia adalah akar dari kerusakan spiritual manusia.
Lebih jauh, dunia menjadi tipu daya bagi mereka yang tidak memurnikan ibadah. Al-Qur’an surah Ali ‘Imran/3 ayat 14 menggambarkan bagaimana manusia dihiasi kecintaan pada perempuan, anak-anak, harta, emas, perak, kendaraan, ternak, dan ladang. Benda-benda itu bukan haram; yang berbahaya adalah keterikatan hati.
Para ulama mengajarkan bahwa dunia hanyalah “mazra’atul akhirah” (ladang akhirat). Al-Ghazali menegaskan: “Hati yang dipenuhi dunia tidak akan mampu menerima cahaya Allah.” Dunia menjadi alat, bukan tujuan; sarana, bukan pusat hidup.
Sebaliknya, Allah SWT memuji manusia yang mampu menempatkan dunia secara proporsional. Al-Qur’an surah Al-Baqarah/2 ayat 201 mengabadikan doa seimbang seorang mukmin: “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah…” yang menunjukkan bahwa dunia tidak harus ditinggalkan. Yang harus dijauhi adalah sikap ekstrem, yakni hanya meminta dunia (QS. Al-Baqarah/2:200), atau menolak seluruh nikmat Allah yang halal (QS. Al-Baqarah/2:172). Dunia menjadi baik ketika berada di tangan hamba yang bersyukur dan tunduk.
Adapun manusia sebagai “hamba” menemukan kedudukannya dalam ketaatan. Al-Qur’an surah Al-Fatihah/1 ayat 5 mempertegas inti kehidupan: “Iyyāka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.” Inilah deklarasi kehambaan yang sejati, menyembah hanya Allah SWT, dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.
Kehambaan bukan keterbelakangan, tetapi kemuliaan batin. Al-Qur’an surah Al-Baqarah/2 ayat 21 memerintahkan seluruh manusia untuk menyembah Allah SWT agar bertakwa, sementara Al-Qur’an surah Ali ‘Imran/3 ayat 51 menegaskan jalan lurus adalah ibadah kepada Allah SWT. Para ulama menekankan bahwa hakikat hamba adalah tunduk, bersyukur, dan menjauhi kesombongan.
Dalam konteks sosial, kehambaan juga terlihat ketika manusia menghormati rumah-rumah Allah. Al-Qur’an surah Al-Baqarah/2 ayat 114 mengecam keras mereka yang melarang masjid digunakan untuk zikir dan mencoba merobohkannya.
Perilaku tersebut menunjukkan hati yang dipenuhi dunia, bukan Allah SWT. Mereka mendapat kehinaan di dunia dan azab berat di akhirat. Ini menjadi peringatan bahwa kekuasaan yang menghalangi ibadah adalah kekuasaan yang zalim.
Maka masuklah kita pada tema kekuasaan. Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukan milik manusia, melainkan pemberian Allah SWT. Al-Qur’an surah Ali ‘Imran/3 ayat 26 menyatakan secara tegas bahwa: “Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.”
Kekuasaan bersumber dari Rabbul-‘Aalamin, bukan hasil absolut upaya manusia. Karena itu, ia adalah amanah, bukan kemuliaan; ujian, bukan hak pribadi. Hadits Nabi SAW menyebut kepemimpinan sebagai amanah yang akan menjadi penyesalan pada hari kiamat bagi mereka yang tidak menunaikannya dengan adil.
Kekuasaan menjadi berbahaya ketika dipakai menipu manusia dengan ucapan-ucapan yang memikat namun batinnya memusuhi kebenaran, sebagaimana Al-Qur’an surah Al-Baqarah/2 ayat 204. Allah SWT juga mengingatkan bahwa orang kafir menjadikan dunia indah dan menghina orang beriman (QS. Al-Baqarah/2:212), namun pada akhirnya orang bertakwa-lah yang berada di atas mereka. Amal orang yang zalim dan menghalangi keadilan akan sia-sia di dunia dan akhirat (QS. Ali ‘Imran/3: 21–22).
Dari semua ini, hubungan dunia, hamba, dan kekuasaan menjadi jelas: dunia adalah ujian, hamba adalah subjek ujian, dan kekuasaan adalah salah satu bentuk ujian yang paling berat. Seorang hamba yang benar akan memandang dunia dengan jernih, mengelola kekuasaan dengan adil, dan mengembalikan seluruh urusan kepada Allah. Inilah jalan para nabi dan orang saleh yang dipilih Allah SWT, seperti Nabi Ibrahim alaihissalam yang dimuliakan di dunia dan akhirat (QS. Al-Baqarah/2:130).
Pada akhirnya, kemuliaan seorang hamba tak diukur oleh dunia dan kekuasaan yang digenggamnya, tetapi oleh sejauh mana ia tunduk kepada Allah dan menjalankan amanah dengan keadilan. Wallaahu A’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.