Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah kaum Muslimin rahimakumullah, Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, yang telah memberikan kita kesempatan dan kekuatan untuk berkumpul dalam majelis ilmu ini.
Semoga keberkahan dan rahmat senantiasa tercurah kepada Nabi besar Muhammad ﷺ, beserta keluarga dan para sahabat beliau yang mulia.
Pada kesempatan ini, marilah kita merenungkan kembali salah satu aspek penting dalam ibadah kita sehari-hari, yaitu tentang kekhusyukan dalam salat dan adab-adabnya menurut pandangan fikih dan tasawuf. Salat adalah tiang agama,
sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "رَأْسُ الْأَمْرِ الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ" — “Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad.” (HR. At-Tirmidzi).
Maka barang siapa yang mendirikan salat, sungguh ia telah menegakkan agama; dan barang siapa yang meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.
Namun, tidak cukup hanya dengan gerakan dan bacaan, salat harus dikerjakan dengan hati yang khusyuk, dengan kesadaran akan kehadiran Allah.
Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang beriman yang salatnya khusyuk: "قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ" — “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1-2).
Imam Al-Ghazālī rahimahullah menjelaskan dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, bahwa kekhusyukan itu adalah hadirnya hati, tunduknya jiwa, serta ketenangan anggota badan dalam salat.
Khusyuk tidak bisa dicapai hanya dengan ilmu fikih, melainkan harus disertai dengan pengenalan terhadap Allah, murāqabah (merasa diawasi oleh Allah), dan rasa takut serta harap kepada-Nya.
Maka ketika seorang hamba berdiri dalam salatnya, ia sadar bahwa ia sedang berdiri di hadapan Raja segala raja, sehingga ia pun bersikap tunduk, tenang, dan memusatkan perhatian kepada Allah semata.
Sayangnya, banyak dari kita yang salatnya telah kehilangan ruh. Gerakan cepat, bacaan tak dipahami, pikiran melayang ke mana-mana, hati kosong tak hadir.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda: "إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ" — “Pencuri yang paling berat dosanya adalah orang yang mencuri dari salatnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang mencuri salatnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: "لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا" — “Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku‘ dan sujudnya.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)
Dari segi fikih, gerakan-gerakan yang tidak perlu dalam salat bisa membatalkan atau paling tidak mengurangi pahala salat tersebut.
Gerakan ringan seperti membetulkan peci atau menggaruk tangan, jika dilakukan sesekali dan tidak terus-menerus, masih ditoleransi.
Namun jika berlebihan atau dilakukan tanpa keperluan, hal itu makruh, bahkan bisa membatalkan salat jika gerakan itu banyak dan berturut-turut. Maka penting bagi kita untuk menahan diri dan menjaga ketenangan tubuh selama salat, karena ia adalah cermin dari ketenangan hati.
Salat juga tidak hanya soal pribadi, tetapi juga soal kebersamaan, apalagi dalam salat berjamaah.
Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan kerapian dan kelurusan saf. Beliau bersabda: "سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ" — “Luruskan saf kalian, karena meluruskan saf adalah bagian dari kesempurnaan salat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Bahkan beliau memperingatkan: "لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ" — “Sungguh kalian harus meluruskan saf kalian, atau Allah akan menjadikan hati-hati kalian berselisih.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Namun sering kita dapati, sebagian jamaah berdiri jauh di belakang padahal saf depan masih kosong. Ada pula yang berdiri renggang, enggan merapatkan bahu dan kaki dengan saudara di sampingnya. Hal ini bertentangan dengan adab salat berjamaah dan menjadi sebab turunnya perpecahan hati.
Begitu pula tentang makmum masbuk, yaitu orang yang terlambat dalam mengikuti imam. Rasulullah ﷺ memberikan bimbingan dalam hal ini: "فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا" — “Apa yang kalian dapati (dengan imam),
maka salatlah bersamanya, dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Maka jika seseorang datang saat imam sedang ruku‘ dan sempat ruku‘ bersamanya sebelum imam bangkit, ia mendapatkan satu rakaat. Jika tidak, maka ia belum dihitung mendapatkan rakaat tersebut.
Setelah imam salam, ia melanjutkan salatnya sesuai dengan jumlah rakaat yang kurang.
Jamaah rahimakumullah,
Semua ini menunjukkan bahwa salat bukan hanya sekadar ritual, tapi sarana untuk membangun kedekatan dengan Allah dan juga memperkuat ikatan sosial dalam jamaah.
Jika salat dikerjakan dengan benar dan penuh khusyuk, maka ia menjadi penyejuk hati, seperti yang dikatakan Rasulullah ﷺ: "وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ" — “Dan dijadikan penyejuk mataku dalam salat.” (HR. An-Nasā’ī)
Pertanyaannya, apakah salat sudah menjadi penyejuk hati kita? Atau masih menjadi beban yang terasa berat? Mari kita perbaiki niat, pelajari adab dan hukum-hukum salat dengan benar, dan hadirkan hati kita dalam setiap gerakan dan bacaan.
Karena sejatinya, salat adalah perjumpaan hamba dengan Rabb-nya. Maka hendaklah kita memuliakan momen itu dengan penuh adab dan penghayatan.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang menegakkan salat dengan benar, dengan hati yang khusyuk dan tubuh yang tenang, serta mendapat pahala dan ridha-Nya di dunia dan akhirat. (RAKA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Sumber: https://www.youtube.com/live/6NhoajtPoj0?si=QN533CmhwQmKx0N5
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.