Oleh: Drs. H.A. Dzulfatah Yasin, M.Ag
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Melanjutkan pembahasan mengenai khusyuk, maka sungguh-sungguhlah berusaha untuk menjadi khusyuk dan hadirnya hati di dalam kita mengerjakan shalat, baik shalat fardhu ataupun shalat sunah, dan hendaklah berusaha merenungi apapun yang engkau baca di dalam kalam-kalam Allah di dalam shalat, ada yang namanya Al-Fatihah surah-surah pendek yang akan kita baca setelah Al-Fatihah dan zikir-zikir lain.
Maka jangan kalian tergesa-gesa atau terburu-buru di dalam membaca, karena tidak akan ada kesempatan untuk merenung ketika seseorang terburu-buru dalam membaca dan apabila engkau rukuk dan sujud maka tuma’ninah, dan janganlah dalam shalat itu matuk sebagaimana patukan ayam yang artinya jangan tergesa-gesa atau terburu-buru. Jadi di dalam kita mengerjakan shalat untuk mengundang kekhusyukan teruslah kita berusaha dan beramal, karena dengan melatih diri kita untuk khusyuk, insyaAllah suatu saat kita akan sampai titik kekhusyukan dalam shalat, kalau selama ini barangkali belum bisa kita khusyuk dalam shalat maka terus dilatih, dilatih, dan dilatih sampai mencapai tingkatan kekhusyukan.
Pada bulan lalu diterangkan ketingkatan kekhusyukan itu bisa bervariasi setiap orang, sekian persen tergantung pribadi yang melaksanakannya. Oleh karena itu kita diberikan motivasi terus berlatih, lalu kenapa kita harus tuma’ninah di dalam rukuk lalu I’tidal, dua diantara dua sujud, ini karena memang tuma’ninah itu di dalam rukuk, itidal, sujud, dan segala macam itu adalah wajib, kita kenal dengan rukunnya shalat, baik pada saat mengerjakan shalat fardhu ataupun shalat sunnah.
Maka ketika seseorang melakukan shalat tidak dengan tuma’ninah yang diterangkan tadi, maka shalatnya batal menurut sebagian pendapat ulama. Pada zaman Rasulullah SAW ada seseorang yang shalat tapi dia tergesa-gesa, ketika rukuk dia tidak tuma’ninah, itidal, dan sujud seperti itu, selesai seseorang itu shalat maka dia menghadap Rasulullah “Assalamualaika Ya Rasulullah” tapi apa kata Rasulullah “ulangi shalatmu”, rupanya Rasulullah melihat cara sahabat ini melakukan shalat tadi, sampai tiga kali Rasulullah bersabda demikian, ini hadits ada dalam Syekh Al Bukhari yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. karena ketiga kali Rasulullah menegur orang itu, maka laki-laki yang ditegur oleh Rasulullah tadi menjawab “wahai Rasulullah hanya itu yang saya mampu”, jadi rupanya sahabat tadi memang shalat seperti itulah yang dia bisa, maka dia katakana “ajarkan aku ya Rasulullah, seperti apa shalat yang baik”.
Jadi ketika seorang sahabat tadi merasa dia tidak tahu seperti apa shalat yang benar, maka Rasulullah mengajarkan, seperti apa yang kita terangkan tuma’ninahnya. Ketika rukuk jangan terburu-buru kita bangun itidal, ketika itidal jangan buru-buru kita sujud, ketika sujud jangan buru-buru kita duduk diantara dua sujud, jadi itu disertai dengan tuma’ninah. Maka dikatakan oleh Rasulullah “kerjakan itu di setiap shalatmu” jadi ini menandakan bahwa tuma’ninah adalah rukun daripada rukun-rukun shalat yang lain. Oleh karena itu maka kalau kita tidak tuma’ninah otomatis shalat kita batal, artinya tidak berpahala, nauzubillah, mudah-mudahan kita bisa merenungi ini, kalau kita sudah istiqamah dengan ini, maka kita mantapkan itu. Kalau kita belum, usahakan shalat kita seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Seseorang yang tidak sempurna rukuknya atau terburu-buru dan sujudnya tidak sempurna, tidak tuma’ninah, bahkan dia tidak khusyuk dalam shalat, maka orang tersebut dihukumi mencuri di dalam shalat. Sebagaimana diterangkan oleh rasul dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qatadah, jadi Rasulullah pernah bersabda “sejahat-jahat atau sejelek-jelek manusia yang mencuri, adalah orang yang mencuri shalatnya”, maka sahabat terkejut “wahai Rasulullah bagaimana seseorang kok dihukumi mencuri dalam shalatnya”, lalu apa kata Rasulullah “orang yang shalat tidak sempurna rukuk dan sujudnya” atau beliau bersabda “orang yang tidak lurus tulang belakangnya dan merukuk dan sujud” jadi ini rasulullah menggambarkan ketika seseorang dalam shalat dia terburu-buru, tidak menyempurnakan tuma’ninahhnya, maka dia termasuk orang yang mencuri di dalam shalat, naudzubillah.
Jadi mudah-mudahan dengan keterangan ini kita lebih berhati-hati dalam mengerjakan shalat, terutama shalat sendiri, kalau berjamaah mungkin kita mengikuti imam, namun kalau shalat sendiri biasanya itu mau-mau kita terburu-buru, tapi kalau jamaah jelas mengikuti imam. Hadits ini dari Imam Anas bin Malik, rasulullah pernah bersabda “bahwa seseorang yang memelihara atau mengerjakan shalatnya dengan khusyuk, tentunya dengan apa yang sudah diajarkan oleh rasulullah, lalu dia sempurnakan shalatnya maka suatu saat nanti amalan shalatnya ini keluar, musfirah jadi berseri-seri, maka shalat tadi berkata “engkau mudah-mudahan dijaga Allah seperti engkau menjaga aku”.
Jadi shalat yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya dengan sebetul-betulnya seperti apa yang diajarkan Rasulullah, dia akan berbicara kalau dia baik maka pun dia berdoa mudah-mudahan engkau dijaga Allah sebagaimana engkau menjaga aku, kata shalat itu. Tapi jika orang sebaliknya dia tidak sempurna sujud dan rukuknya tidak tuma’ninah, dia tidak khusyuk, maka dikatakan, keluarlah shalatnya hitam kelam, lalu ia berkata “mudah-mudahan engkau tidak diperhatikan Allah, disia-siakan Allah sebagaimana engkau menyiakan aku” nah ini shalat yang bicara. Maka shalat yang buruk tadi, yang tidak baik tadi dilipat bagaikan dilipatnya baju yang sudah tidak terpakai dan rusak, maka dipukulah baju tadi ke wajah orang yang mengerjakan shalat dengan tidak baik. Ini ditakrij oleh Imam At Thaabrani, jadi pada hakikatnya sebagaimana kita gambarkan pada awal-awal pembahasan tentang shalat, bahwa shalat ini ada gambaran lahir yang bisa dilihat dari takbir sampai salam, bisa terlihat tapia da sisi yang tidak terlihat, termasuk tentang masalah kekhusyukan.
Ketika kita memelihara gerakan-gerakan shalat yang terlihat maka InsyaAllah itu akan menunjukkan kita termasuk orang-orang yang berusaha untuk menjadi khusyuk dalam shalat kita. Jadi memang harus betul-betul sungguh kita berusaha melatih diri untuk mengerjakan shalat dengan khusyuk, berapa persen pun yang kita dapati tapi kalau kita terus berusaha InsyaAllah sampai akhir hayat kita akan Allah sampaikan titik akhir dimana kita sampai umur kita Allah akan sempurnakan niat kita itu InsyaAllah, yang terpenting ada niat dan usaha InsyaAllah.
Dalam satu hadits diterangkan bahwa shalat itu adalah jadi ketenangan dan kekhusyukan dan rendah diri dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala, jadi memang ketika kita mengerjakan shalat, selesai shalat kita akan tenang, kalau mengerjakan shalat tapi setelah salam tidak merasa tenang hatinya, ini dapat dipertanyakan “ada apa dengan shalatnya ya?”, bahkan Allah mengingatkan sesungguhnya shalat itu berfungsi mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar, tapi ketika seseorang shalat namun perbuatan keji dan munkar tetap dia lakukan, ada apa dengan shalatnya, nauzubillah. Itu adalah teguran dari Allah yang kita perhatikan.
Ketika Rasulullah SAW melihat seseorang yang mengerjakan shalat tapi dia memain-mainkan janggutnya, maka rasulullah bersabda “kalau hati seseorang yang mengerjakan shalat itu dia khusyuk, maka tidak mungkin anggotanya bergerak”, jadi ini dengan kata lain kalau orang hatinya khusyuk, maka dia mengikuti apa-apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah, jadi tidak bergerak-gerak tangannya, bahkan dalam hukum fiqih, kalau tiga kali bergerak maka shalatnya batal, hadits ini ditakrij oleh Imam At-Tirmidzi.
Diterangkan oleh Syekh Al Manawi, jadi Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan diantara jasad dan roh jadi ada keterkaitan rabbaniah namanya, keterikatan rohaniah sesuatu yang tidak bisa dilihat. Syekh Al Manawi menerangkan dalam kitab faidul qadir sebagaimana apa yang diterangkan Rasulullah tadi, kalau seseorang hatinya khusyuk maka anggota tubuhnya seluruhnya dia khusyuk dalam mengerjakan shalat dan tidak terburu-buru. Maksudnya jadi tuma’ninah dia dalam baca pun tidak terburu-buru, baca Al Fatihah merotalkan, ada yang cepat-cepat dan itu yang dikatakan tidak khusyuk.
Maka dengan keterangan Rasulullah tadi, jelaslah bahwa tenangnya anggota tubuh ini tergantung dari khusyuknya seseorang hatinya, jadi kalau hati seseorang khusyuk maka anggota tubuhnya dia akan mengikuti khusyuk nya itu, maka tidak ada kesempurnaan shalat ketika tidak disertai dengan kekhusyukan baik hati ataupun anggota-anggota tubuh. Ada ucapan atau pendapat dari ulama salaf, jadi kalau kita masih mengenali seseorang yang ada disamping kita, kiri kanan kita, itu dihukumi dia belum khusyuk. Maka kita latih sebaik-baiknya.
Jadi inilah keterangan yang memberikan motivasi kepada kita bagaimana kita memelihara shalat kita dalam kekhusyukannya, tentunya kalau yang sudah melatih diri lalu dia mengamalkan kekhusyukan dalam shalatnya, nanti shalatnya pun akan mendoakannya, bahwa itu akan menjadi kebaikan bagi dirinya di dunia dan di akhirat nanti. Namun sebaliknya kalau kita belum bisa berlaku khusyuk dalam ibadah shalat terutama, karena amalan shalat ini adalah sekali sehari minimal 5 waktu, kalau amalan shalat kita ini betul-betul kita perhatikan sampai akhir hayat kita, kalau kita sudah mengerjakan ini sesuai dengan apa yang ditentukan oleh Rasulullah, yakin InsyaAllah kita akan dimatikan dalam husnul khatimah, dan itu pun istiqamah.
Masalah kekhusyukan kita dalam shalat, mudah-mudahan sedikit demi sedikit, ketika ajal kita sampai maka kita dimatikan dalam husnul khatimah, maka sedikit ajaran dari Rasulullah ketika sujud terakhir ada tiga hal yang kita minta, pertama husnul khatimah, kedua menganugerahkan aku taubatan nasuha (taubat yang sebenar-benarnya, taubat sebelum aku mati) dan yang ketiga tetapkan hatiku dalam agama mu. (RST/HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.