Foto: Dok. Media Istiqlal

BPMI Gelar Bedah Buku 'Petunjuk Nabawi Menghadapi Fitnah dan Mengatasi Konflik', Berikut Paparan Hikmahnya

Admin 28 Oct 2021 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Badan Pengelola Masjid Istiqlal menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku "Petunjuk Nabawi Menghadapi Fitnah dan Mengatasi Konflik" Terjemah Attujih An-Nabawi fit ta'amul ma'al Fitan, karya Al-Habib Umar bin hafidz , di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (27 Oktober 2021). 

Buku ini dibedah oleh empat narasumber, di antaranya Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, dan Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA.

Dalam kegiatan tersebut, terdapat ragam untaian pesan yang ditulis Habib Umar yang disampaikan oleh para narasumber, di antaranya sebagai berikut.

1. Hindari Fitnah dan Jadilah Insan yang Bijaksana

Dalam pembahasan pertama ini, Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan menyampaikan bahwasanya kita diimbau menjadi insan yang bijaksana. 

"Buku ini memberikan pencerahan agar kita jangan pernah sampai perpancing, terprovokasi, dengan (setiap orang atau golongan) yang mengatasnamakan apapun (demi mewujudkan kepentingan pribadinya). Melainkan pandang dan timbanglah segala sesuatu sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW," ujar Habib Jindan, dalam kegiatan Bedah Buku, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (27 Oktober 2021). 

Habib Jindan juga menyebutkan bahwasanya buku ini ditulis guna menambah kewaspadaan setiap muslim untuk terus menjaga ukhuwah antarsesama. "Bahwasanya zaman tidak pernah sunyi dari fitnah." 


Sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya, Habib Jindan memaparkan adanya catatan sejarah mengenai peristiwa peperangan saudara sejak masa khalifah akibat fitnah. "Peperangan tersebut terjadi akibat adanya provokasi. (Fitnah juga akan terjadi sampai) akhir zaman, di antaranya tipu daya Dajjal serta Ya'juj dan Ma'juj," terang Habib Jindan yang selebihnya juga menjabarkan fitnah tersebut. 

"(Oleh karenanya) kita diajarkan (oleh Rasulullah) untuk memadamkan api fitnah dan permusuhan, bukan (justru) menyulut api tersebut, dan jangan pernah turut andil dalam fitnah tersebut," tegas Habib Jindan. 

Habib Jindan kemudian membacakan sebuah hadist, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya sebagai berikut.

"Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil)." (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

2. Ikuti Petunjuk Allah dan Rasul, Jagalah Kekokohan Umat Islam

Seimbang dengan Habib Jindan, Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi, Lc, MA, juga memaparkan hikmah menakjubkan dari buku karya Habib Umar, salah satunya mengenai QS. Al-anfal :46, artinya sebagai berikut. 

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar." (QS. Al-Anfal: 46) 

Dari ayat tersebut, Zainul melihat relevansi Islam pada ruang dan waktu. "Bahwasanya dalam keadaan apapun umat Islam harus terus bersatu menaati Allah dan rasul-Nya, serta menghindari perselisihan." 


Sebagaimana saat berjuang demi kejayaan Islam kita mempererat ukhuwah, jangan sampai saat kemenangan dan kemegahan dunia sudah Allah titipkan, kita menjadi abai dan membuat umat terpecah. "Habib umar dalam bukunya, mengingatkan kita untuk menjaga konsistensi seruan-seruan (eratnya ukhuwah islamiyyah). Jangan sampai ketika menerima satu batu uji, hilang begitu saja," papar Zainul.

Adapun mengenai solusi yang bisa kita pedomani, dalam situasi menghadapi fitnah dan konflik menurut Zainul adalah dengan memperbaiki hubungan kepada Allah dan rasul-Nya. Sebagaimana petunjuk yang sudah Habib Umar sampaikan, di antaranya sebagai berikut.

Mengambil dan menjaga dengan baik tradisi kebaikan di sekitar kita, meninggalkan hal yang tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan hadist, serta memprioritaskan hal yang berkaitan dengan internal. 

"Fokus memperbaiki diri sendiri maupun lingkungan sekitar, perjuangan itu diibaratkan membangun gunung yang dimulai dari kerikil-kerikil tanah atau batu. Antara membaca dan mengamalkan itu perlu tazkiyah, kesadaran serta hati yang baik, agar pengetahuan bisa berbuah kemaslahatan," papar Zainul.

3. Imbangi Pendidikan Intelektual dan Hati

Membaca hikmah buku "Petunjuk Nabawi Menghadapi Fitnah dan Mengatasi Konflik" dari segi pendidikan kepada anak, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, menerangkan bahwasanya seseorang perlu mengimbangi pendidikan antara intelektual dan hati. "Pentingnya kita menjadi orang yang mampu mengendalikan diri. Orang bisa saja hebat secara intelektual tapi kalau hatinya tidak bersih, kotor, dia bisa saja berbuat jahat dengan kecerdasannya."

Oleh karenanya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwasanya pendidikan harus seimbang dengan hati. "Dikaitkan dengan risalah, maka pendidikan itu harus ada di level mencerdaskan hati. Pendidikan itu harus berpusat pada hati. Bahkan ketika orang berbicara mengenai otak, saya justru tersentak bahwa Allah mengingatkan kita dalam Alquran QS. Al-Hajj: 46, tentang memahami sesuatu dengan hati."


Allah berfirman dalam QS. Al-Hajj: 46, artinya sebagai berikut.

"Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj: 46)

Buku 'Petunjuk Nabawi Menghadapi Fitnah dan Mengatasi Konflik' juga menuntun kita agar belajar menjadi bijaksana dalam mengambil keputusan. "Karena itu jadilah orang yang berwawasan luas. Sehingga jika ada yang memberi informasi, jangan langsung diikuti, tapi dikaji dan cerna dulu, atau dalam teori pendidikan disebut sebagai berpikir kritis."

"Seorang yang arif dan bijaksana tidak mudah terprovokasi," tutup Abdul Mu'ti.

4. Sampaikan Pesan dengan Ketulusan


Melihat pemaparan yang dibahas secara detail dan penuh akan intisari makna, KH Nasaruddin Umar juga mengapresiasi  pemaparan tersebut. "Semua yang keluar dari lubuk hati yang dalam ini, akan mendarat dalam lubuk hati yang lain."

KH Nasaruddin juga menyampaikan rasa bahagianya atas kehadiran para habib ke Masjid Istiqlal. "Semoga dengan kehadiran para habib, bisa menambah keberkahan Masjid Istiqlal," pungkasnya. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.