Foto: Dok. Media Istiqlal

Mimbar Ramadhan: Jalankan Ibadah di Bulan Ramadhan dengan Ilmu

Admin 10 Mar 2025 Warta Istiqlal

Oleh: KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Bulan Ramadhan adalah bulan yang diagungkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Di dalamnya kita diwajibkan berpuasa, disunahkan untuk salat tarawih, diperintahkan untuk banyak membaca al-qur'an, karena Ramadhan juga disebut sebagai Syahrul Quran.

Ramadhan ini adalah bulan yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala bagi umat muslim untuk 'mencuci diri', membersihkan diri dengan segala rangkaian ibadah yang Allah SWT syariatkan, sehingga saat sampai pada penghujung Ramadhan, kita dalam keadaan menyesal karena sudah melalaikannya.

Abu Hurairah meriwayatkan:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Artinya: “Celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan”

Maksud kata “insalakha” (keluar atau terlepas) adalah Ramadhan telah berakhir tapi ia belum diampuni dosanya. Bisa jadi karena saat Ramadhan tidak bertaubat atau tidak mengagungkannya dengan sepenuh pengagungan dalam ketaatan hingga dosanya terampuni.

Seperti ular ganti kulit namanya insalakha, insalakal Hayah, insalakatil Hayah itu ganti kulit. Kalau ganti kulit itu berarti semua yang luarnya tergantikan oleh kulit baru.

Begitu juga Ramadhan ketika keluar dari kita itu Insalakha seolah-olah seharusnya kita ini sudah bersih. Tetapi an yughfara lahu, kita belum dapat ampunan. Kenapa belum dapat ampunan? Karena kita lalai ketika Ramadhan.

Kita niat salat tarawih tapi sebatas niat, sudah niat mau puasa tapi tidak puasa alasannya karena pekerjaan, sakit, atau macam lainnya, inilah yang termasuk orang-orang merugi yaitu kala orang bisa hidup sampai bulan Ramadan tetapi tidak bisa memanfaatkan indahnya bulan Ramadan.

Karena itu di momentum yang sangat penting ini mari sama-sama kita renungkan, jangan sampai kita sia-siakan. Juga kewajiban kita berpuasa, ada kaidah yang mengatakan setiap amal ibadah yang diwajibkan kepada kita maka kita juga diwajibkan untuk mengetahui ilmunya.

Maka kita mesti tahu ilmunya untuk menjalani setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan ini. Misalnya dengan mencari tahu tentang ketentuan dan fiqh shalat tarawih, puasa Ramadhan, hal yang dianjurkan agar puasa menjadi afdhal, hal yang bisa membatalkan puasa, sehingga puasa seharian dari pagi sampai sore tidak hanya berisi dahaga dan lapar, melainkan bernilai pahala.

Karena itu mengetahui ilmu tentang ibadah itu wajib. “Ma la yatimmul wajib illa bihi fahuwa wajib” (perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib).

Sesuatu yang tidak sempurna karena nya, sesuatu kewajiban maka hukumnya wajib ya kita mesti tahu ilmunya puasa, tarawih, baca Quran, semuanya. Karena itu di bulan Ramadhan ini kita juga luangkan waktu untuk baca-baca, kita dengarkan ceramah-ceramah, mungkin akan ada ceramah yang menyajikan hal-hal yang disunahkan dalam berpuasa. Misalnya, sunnahnya sahur berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Anas bin Malik RA:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Artinya: “Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR Bukhari).

Makan sahur itu yang baik adalah yang menjelang mepet dengan akhir batas waktu sahur, bukan yang awal-awal, jadi jangan bangga kita mengatakan ”Oh saya semalam sahur jam 12”. Bukan kebanggaan karena bukan sunah, sunahnya adalah mepet menjelang Imsak.

Begitu juga bukanya berbuka itu ada takjil, takjil itu artinya segera menyegerakan, begitu dengar Muazin Masjid Istiqlal Allahu Akbar segera Allahumma lakasumtu dan seterusnya.

Jangan kemudian bangga ”oh saya belum mau buka dulu nanti setelah tarawih” ingin menunjukkan kekuatannya ternyata tidak afdhal. Jadi yang demikian salah paham dikira semakin sahurnya semakin dahulu bukannya semakin lama itu kemudian Afdhal karena semakin lapar semakin tidak ternyata ibadah itu ada ilmunya ya itu ilmunya.

Salat tarawih juga ada ilmunya, kita mengambil satu rujukan pada hadist yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman; dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana salat malam Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan:

مَاكَانَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّي اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِيْ غَيْرِهِ عَلَي إِحْدَي عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Rasulullah SAW tidak pernah menambah rakaat dalam salat malam, pada bulan Ramadhan dan tidak pula dalam salat lainnya, lebih dari 11 rakaat” (HR. An-Nasa’i, no. 1605; At-Tirmidzi, no. 806; Ibnu Majah, no. 1327; dan Ahmad. At-Tirmidzi menilai hadis ini sahih).

Tapi sayyidina Umar salat Tarawih 20 rakaat plus 3, 23 rakaat, Imam Malik di Madinah salat tarawih 36 rakaat plus 3 Witir artinya apa, kalau begitu salat tarawih itu bukan masalah bilangan karena itu sunnah Semakin banyak kita lakukan sebenarnya semakin Afdhal semakin baik tetapi kan kita ada kekuatan.

Sebab Imam Malik shalatnya 36 rakaat karena Imam Malik hidup di Madinah, beliau ingin pahalanya sama dengan orang-orang yang hidup di Mekah zaman dahulu, yaitu saat zaman Nabi SAW para sahabat shalat tarawih setiap empat rakaat itu kemudian istirahat dan mereka tawaf, sehingga ketika di Madinah tidak ada Ka'bah tidak bisa tawaf maka Imam balik berhitung.

Kalau kami di Madinah ini salatnya hanya 20 rakaat maka pahalanya kalah dengan para sahabat Yang shalatnya di Mekkah karena mereka ada tawafnya. Karena itu setiap tawaf itu dihitung empat rakaat oleh Imam Malik. Sehingga jumlahnya adalah 20 + 16 berarti 36 plus Witir.

Begitu lah kira-kira ilmu dan masih banyak lagi yang mesti kita ketahui. (RIZKI/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.