Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Hizbullah

Admin 18 Oct 2024 Warta Istiqlal

Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Apa yang terbetik di benak kita bila mendengar kata “Hizbullah”? sebagian besar akan terlintas dipikirannya bahwa Hizbullah adalah organisasi sayap militer yang berada di wilayah Lebanon Selatan, yang didukung oleh Iran dan Suriah, yang sampai sekarang ini masih eksis. Beberapa waktu lalu, salah satu pimpinan tertingginya Syekh Hasan Nasrallah meninggal dalam serangan udara Israel.

Kita tentu mendoakan kemerdekaan untuk Palestina, dan mendukung perjuangan-perjuangan untuk menuju pembebasan Al-Quds. Hizbullah juga salah satu nama dari laskar perjuangan kemerdekaan Indonesia. Laskar Hizbullah berdiri sekitar tahun 1944 yang terdiri dari para pemuda muslim. Laskar ini dibentuk untuk bertempur melawan penjajah dan membantu perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Satu lagi organisasi yang bernama Laskar Hizbullah, yang didirikan oleh ormas Nahdlatul Wathan di Pulau Lombok, NTB. Laskar ini terdiri dari para pemuda muslim yang tergabung dalam ormas Nahdlatul Wathan yang bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman, mempertahankan tradisi-tradisi Islam. Dua organisasi terakhir yang berada di Indonesia tersebut, meskipun bernama sama “Hizbullah”, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Hizbullah yang berada di Lebanon.

Namun, dalam tulisan ini, kita tidak akan membahas terkait Hizbullah yang menjadi nama organisasi. Kata “hizbullah” secara bahasa berarti kelompok, golongan, partai Allah. Maknanya kelompok, golongan, partai “pendukung” agama Allah. Kelompok atau golongan yang mendukung nilai-nilai agama Allah (Islam).

Kata hizbullah secara langsung terdapat di dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Maaidah ayat 56, ayat tersebut juga sangat terkait dengan ayat sebelumnya (QS. Al-Maaidah ayat 55) yang menerangkan tentang “wali” bagi orang-orang yang beriman. Allah Subhaanahu wa Taala berfirman:

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ (55) وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْنَ ࣖ (56)

Artinya : “Sesungguhnya wali (penolong) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya ruku (tunduk kepada Allah). Siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai walinya (penolongnya), sesungguhnya hizbullah (para pengikut Allah) itulah yang akan menjadi pemenang” (QS. Al-Maaidah/5: 55-56)

Maulana Syeikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid (Pendiri Nahdlatul Wathan) menjelaskan, ada tiga wali dalam kehidupan manusia, Allah Subhaanahu wa ta’alaa dan Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Orang-orang beriman yang menjadi wali disini adalah orang-orang yang mendirikan shalat dengan benar, menunaikan zakat dengan tulus hanya karena Allah, tidak mengharapkan pujian, imbalan dari sesama makhluk, mereka itu yang disebut orang-orang yang raaki’uun, orang yang tunduk dan patuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Maka, barang siapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman menjadi walinya, mereka itulah yang disebut sebagai para “hizbullah”, golongan, kelompok, dan partai Allah.

Dalam Tafsir Al-Maraghi, disebutkan bahwa orang-orang beriman yang akan menunaikan kewajiban memberi pembelaan dan pertolongan kepada kamu (manusia) adalah mereka yang mendirikan shalat dan menunaikannya secara benar, yaitu shalat yang dilakukan penuh dengan tatakrama lahiriah maupun batiniyah, dan juga memberikan zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya, sedang mereka sendiri patuh kepada perintahperintah Allah dengan hati yang rela dan perasaan yang senang, bukan karena riya mengharapkan pujian dan keterkenalan.

Prof. Quraish Syihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa sumber pokok dari segala sumber perwaliyan hanya satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’alaa, Rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi wali, namun bukan sumber pokok, karena keduanya juga menjadikan Allah subhanahu wata'ala sebagai walinya. Sedangkan “hizbullah” dalam ayat tersebut diartikan sebagai pengikut yakni kelompok tertentu yang memiliki militansi dan menyatu dalam satu wadah yang disepakati untuk membendung atau menanggulangi kesulitan. Dalam ayat lain Allah subhanahu wata'ala berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ اَوْ اَبْنَاۤءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْۗ  اُولٰۤىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ ۗوَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ  اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ ۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ࣖ

Artinya: "Engkau (Nabi Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan di dalam hatinya dan menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya. Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Mujādalah [58]:22)

Orang-orang yang termasuk dalam golongan kelompok Hizbullah termasuk orang-orang yang akan mendapatkan kemenangan, termasuk orang-orang yang mendapatkan keberuntungan, yakni meraih kehidupan bahagia dunia dan akhirat. Wallaahu a’lam

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.